You're Nerd

4.5K 498 106
                                        

Firhani seangkatan denganku, tapi beda kelas. Dialah alasan utama mengapa aku selalu semangat untuk bersekolah.

Aku pertama bertemu dengannya saat pendaftaran masuk SMA. Waktu itu, Firhani bersama beberapa temannya berlalu di hadapanku. Dan detik itu juga aku langsung menyukainya. Cinta pada pandangan pertama, orang-orang menyebutnya seperti itu.

Dan sampai saat ini, rasa sukaku pada Firhani tidak berubah. Meski kami tidak pernah berada di kelas yang sama, cukup dengan melihatnya dari seberang lapangan sudah membuat hatiku bahagia. Hanya berpapasan dengannya di kantin sudah bisa membuat wajahku memerah tidak karuan. Ini hanya berpapasan lho, bukan berbicara.

Ya. Tiga tahun di sekolah yang sama, kami tidak pernah bertegur sapa. Aku terdengar menyedihkan, bukan?

Biar kuberi sedikit penjelasan logis tentang masalah ini. Firhani itu siswa populer di SMA kami. Sementara aku, aku, emm ..... dunia menyebut orang sepertiku sebagai "kutu buku", "orang asing", "tidak keren" dan "terpinggirkan." Dari sini tentu kalian bisa menyimpulkan.

Firhani selalu menyabet gelar juara satu di setiap tahun sekolah. Kelas dan Umum, biar kupertegas. Maka jangan tanya seberapa pintar dia. Dia juga aktif di beberapa komunitas pelajar. Untuk urusan cantik, wajah Firhani tidak kalah imut dari gadis pemeran iklan Pocari Sweat (kalian pasti tahu, kan? Yang rambutnya dikuncir itu, lho. Yang berponi itu. Kalian tahu namanya, kan? Kalau aku sih tidak). Dia sangat baik, ramah kepada siapapun. Firhani selalu tersenyum. Semua guru menyanyanginya. Jilbab yang dikenakan Firhani selalu panjang melewati pinggang. Gadis shalehah dan istimewa, itulah predikat yang paling tepat untuk Firhani.

Maka jelas, rasa sukaku pada Firhani sangat beralasan. Dia memenuhi semua kriteria ideal yang diidam-idamkan remaja tanggung sepertiku. Dan di sinilah masalahnya. Semua laki-laki normal di SMA-ku pasti menyukai Firhani. Dan aku tipikal orang yang tidak suka berkompetisi. Hidup memang kejam.

Mari sedikit melihat ke belakang. Berbicara soal peluang, aku masuk kategori tanpa harapan. Serius. Bagaimana mungkin aku bisa bersaing dengan Rico, cogan paling 'kece badai' di sekolah kami. Atau Andre, atlet bola basket kesayangan para fangirl. Atau Bastian, sang Ketua OSIS. Atau Raihan, Ketua Rohis yang berjuluk 'Ustadz Muda' idaman kaum hawa. Atau mengalahkan Ismoyo, si Genius Matematika. Semua itu tidak mungkin.

Mereka semua siswa cowok urutan teratas. Kategori lima besar. Sementara aku, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, adalah orang yang biasa-biasa saja. Jika ada lembaga riset berkunjung ke sekolah kami dan membuat semacam sistem perangkingan dalam urusan popularitas, maka kemungkinan besar aku akan ditempatkan pada urutan 158 dari total 200 siswa. Tidak ada guru yang benar-benar mengingat namaku.

Satu-satunya guru yang akrab denganku adalah Pak Makruf, guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelasku di kelas sepuluh. Beliau mengenaliku karena aku salah satu murid yang dianggapnya berbakat dalam bidang Bahasa Inggris. Beliau sering memberiku jam belajar tambahan.

Yah, kurasa ini satu-satunya kelebihanku. Entah mengapa teman-teman sekelasku bisa jadi sangat payah dalam urusan ini. Mereka sering bertanya makna kata-kata sulit yang muncul di buku panduan belajar. Dan aku selalu berbaik hati menjawab semua pertanyaan itu, meskipun diam-diam, aku mulai berpikir kalau ada yang tidak beres dengan sistem saraf motorik mereka. Bukankah sekarang ada Google Translate?

Sayangnya, keahlianku ini tidak membawa pengaruh berarti dalam hal mendongkrak popularitas. Aku diaukui, tapi hanya untuk level kelas saja. Di level sekolah, aku masih berstatus "kutu buku".

Yang kumaksud kutu buku di sini mungkin berbeda dengan kutu buku yang kalian pahami. Kutu buku dalam artianku memang bermakna "maniak buku", tapi bukan buku Biologi, Filsafat, Atlas Dunia, Astronomi, Kimia Terapan atau semacamnya. Melainkan buku komik. Aku pengoleksi terlengkap serial One Piece dan Hunter X Hunter.

Tidak prospektif, aku tahu. Karena itu, peluangku untuk dikenal Firhani sangatlah kecil, mirip-mirip usaha Timnas Timor Leste yang ingin lolos kualifikasi Piala Dunia (sebenarnya sih aku ingin menulis Indonesia, tapi rasanya terlalu mainstream), hanya sekitar 5 %.

Dengan sederet predikat yang tidak membanggakan itu, aku sadar, resolusi yang kucanangkan ini menjadi tidak berarti apa-apa. Rasa-rasanya aku bermimpi terlampau jauh. Firhani bahkan mungkin tidak tahu aku anak kelas MIPA III. Dan tiba-tiba aku menembaknya? Sangat tidak lucu.

"Sudahlah. Lupakan saja resolusimu itu. Cobalah untuk realistis."

Kalimat pesimis ini tiba-tiba muncul.

"Kurasa kau harus mulai melupakan keberadaan Firhani. Dia itu bulan, bro. Dan kau? Kukira kita sudah pernah membahas masalah ini."

Yang ini entah dari mana datangnya.

"Atau mungkin kau harus sedikit menurunkan standar resolusimu itu. Kenapa tidak mencoba hal-hal yang lebih mudah? Usaha es krim sambil sekolah misalnya. Atau mendaki Gunung Merapi di bulan Maret. Atau menabung demi membeli gitar listrik baru. Atau ikut kursus retas jaringan dan semacamnya. That's cool, man."

Kurasa yang ini ada benarnya juga. Tapi bukankah itu jauh lebih sulit?

"You're Nerd."

Oh.

Menghadapi kenyataan yang pahit itu, akhirnya kuputuskan untuk membatalkan niat menembak Firhani. Tapi pernakah kalian punya seseorang yang selalu mendukung kalian di saat-saat terburuk? Seseorang yang berperan sebagai sahabat sejati yang hadir dengan kata-kata bijak yang memotivasi? Yang tetap mendorong saat kita memilih berhenti? Yang memberi beberapa saran yang terkadang terdengar tidak masuk akal?

Yap. Aku punya satu. Namanya Barto. Dia tipe orang yang seperti itu.

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang