Khusus Alumni

2.2K 343 76
                                        

Sudah empat hari aku mengurung diri di dalam rumah. Keluar hanya untuk shalat berjama'ah di masjid atau disuruh Ibuku belanja di kios Mpok Suwarni. Selebihnya smartphone dan Master Liga yang jadi hiburanku. Jika ke masjid, aku mencoba menghidari momen bertatap muka dengan Nandar. Aku selalu memilih berdiri jauh dari mimbar karena Nandar kini jadi imam tetap masjid kami. Selesai salam, cepat-cepat aku berdiri dan langsung keluar. Alasannya tentu jelas. Proyek kami telah gagal. Dan tak ada seorang pun yang mau membahasnya.

Bahkan Barto tidak bisa banyak berkomentar. Saat aku ke rumahnya, tidak sedikitpun dia menyinggung masalah resolusiku. Yah, kami berpura-pura menganggap bahwa semua insiden di beberapa pekan ini tidak pernah terjadi. Mungkin Barto sudah bosan dengan sikapku yang plin-plan. Aku sendiri pun sudah bosan. Apalagi Nandar. Dia pasti sudah bosan sebelum bosan. Hidup memang kejam.

Padahal diam-diam, aku masih berharap bisa ikut lomba itu. Sebenarnya saat aku bilang pada Nandar bahwa aku ingin berhenti, aku tidak benar-benar bermaksud seperti itu. Waktu itu aku berharap Nandar akan menahanku dan akhirnya bersedia memberi tips rahasia sukses menghafal dalam waktu tiga hari. Aku berharap dia bilang begini, "Baiklah Nino, aku yang salah, kita mulai menghafal", atau "Duduk kembali, malam ini kita akan menghafal setengah dari juz 30" dan semacamnya. Tapi hal itu tidak terjadi. Nandar malah bilang "Nino! Tolong kembalikan kertas time schedule-ku yang kau pinjam kemarin!" Oke, bukannya bermaksud jahat, tapi entah kenapa aku mulai ragu dengan persahabatan kami.

Dan sekarang sudah hari kelima. Kepalaku dipenuhi konflik kepentingan. Sedih, kecewa, jengkel, frustasi dan lapar bercampur menjadi satu. Mengenang momen-momen Firhani menyapa dan memberi motivasi untukku sangatlah menyenangkan. That's so beautiful. Hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Tapi kenapa setelahnya harus berubah jadi mengerikan? Kenapa harus ada Raihan? Kenapa harus ada seleksi? Kenapa harus ada UN? Kenapa rencanaku harus kandas seperti ini? Memikirkan itu semua mendadak maag-ku kambuh. Rasanya aku ingin menyurati Menteri Kesehatan.

Tahu besok adalah batas seleksi, jumlah asam lambungku rasanya meningkat drastis. Perih. Akumulasi rasa stress dan lapar ternyata bisa segawat ini. Cepat-cepat aku menuju meja makan. Dan satu chat dari Nandar tiba-tiba masuk :

Arif Munandar : Nino

Satu chat baru muncul.

Arif Munandar : Tolong baca pesanku.

Arif Munandar : Awas kalau tidak dibaca!

Satu pesan suara masuk. Karena baru membeli paket data, maka tanpa ragu aku membuka pesan suara itu.

"Ssss .... , Nino .... , Nino mental kerupuk, kau tidak boleh bersikap egois seperti itu, ssss .... , Itu sangat tidak beradab, sangat tidak beradab, ssss .... , Ini bukan hanya tentang kau saja. Ini kesepakatan kita berdua! Kau tidak boleh membatalkannnya secara sepihak! Manusia Awam! Aku sudah menyisihkan waktuku untuk mengajarimu, tidak dibayar, tapi malah diperlakukan seperti ini! Di mana rasa hormatmu pada guru? Kembali ke masjid dan kembali belajar! Aku menunggumu besok! sssss ..... , "

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang