Kisah-Kisah Yang Abadi

2K 359 32
                                        


Hari-hari penuh perjuangan akhirnya berjalan. Aku mulai menjalani program menghafal. Dan, Man, ternyata apa yang dikatakan Nandar selama ini tidak terlalu berlebihan. Menghafal Alquran juz 30 tidak semudah kelihatannya. Dan keberadaan Nandar tidak membuat keadaan jadi lebih baik. Justru dialah dalang di balik penderitaan yang sedang kujalani saat ini. Nandar sangat perfeksionis. Dia sangat detail memperhatikan bacaanku saat menghafal. Misalnya saat aku membaca Surah An Naas kemarin,

Qulaudzu birrabbinnaaas ….. , “

“A, a, a, bukan seperti itu. Ditahan, ditahan Nino, harus didengung lebih lama, seperti ini, binnnnaaas …. , dengung. Idgham bigunnah.”

Hei! Itu hanya beda satu detik dengan bacaanku! Sama saja!

Atau saat menghafal Surah Al Falaq,

Qulauduzu birrabbil falaq.”

“Hei, hei, hei!! Mana pantulannya? Huruf qo itu qalqalah! Harus dipantul! Seperti ini, bil falaq-o.”

Minta ampun. Kurasa ada yang tidak beres dengan pendengaran Nandar. Aku sudah membacanya seperti itu, lho. Dipantul.

Atau saat membaca Surah Az Zalzalah,

Wamayy …. , ya’mal mitsqaaladzarratin …., syarayyyarah.”

“Tunggu.” Nandar menyela.

Apa lagi?

“Karpet untuk teras sudah dijemur, kan?”

Hei! Kita sedang menghafal! Lupakan yang lain!!

Melihat wajahku yang mengkerut, Nandar tertawa geli, “Santai, Nino. Aku hanya ingin mencairkan suasana. Sudah tiga hari ini wajahmu terlihat tegang. Terus-menerus membaca Alquran dan buku tafsir, hampir-hampir tanpa jeda. Kau benar-benar serius dalam urusan ini, ya.”

Aku tidak menanggapi. Well, apa yang dikatakan Nandar benar adanya. Beberapa hari ini aku benar-benar ‘kesetanan’ dalam hal membaca buku tafsir. Entah kenapa, rasanya sangat menyenangkan saat membuka lembar-lembar kertas yang memuat penjelasan surah-surah Alquran itu. Banyak fakta baru tentang Alquran yang bisa ditemukan di sana. Buku itu menjelaskan banyak hal yang menakjubkan.

Juz 30 ternyata sangat kompleks, isinya. Setiap surah punya kisah sendiri, latar belakang dan asbabun nuzul yang berbeda-beda. Tema pembahasan masing-masing surah saling melengkapi satu sama lain, menjelaskan, memberi kabar gembira, menguatkan, memberi peringatan, dan mengabadikan.

Surah Al Kafirun bercerita tentang komitmen seorang muslim atas tawaran orang-orang kafir yang ingin mencampuradukkan sesembahan mereka. Surah Al Masad mengabadikan kisah Abu Lahab yang mencela Rasulullah di sebuah bukit di dekat Lembah Batha. Surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas adalah ayat-ayat ruqiyah. Bagaimana kesudahan orang-orang musyrik yang tertulis dalam Surah Al Bayyinah, semua itu sangat menarik perhatianku.

Alquran tidak hanya bercerita tentng masa lalu, tapi juga memberi kabar-kabar yang akan terjadi di masa depan. Hari kiamat digambarkan dalam Surah Al Qari’ah, Al Infithar, Al Gassyiyah, dan Al Insyiqaq. Kisah kejahatan kaum yang melempari orang-orang beriman ke dalam parit dengan api yang berkobar-kobar tercatat dalam Surah Al Buruj. Malaikat Zabaniyah dalam Surah Al Alaq, kebiasaan bepergian Kaum Quraisy, malam yang lebih baik dari seribu bulan dalam Surah Al Qadar, informasi-informasi ini terus dibaca setiap kaum muslimin, di mana dan kapanpun, di setiap zaman. Beruntungnya aku sempat membaca semua itu.

Aku ingat Nandar pernah bilang seperti ini,

"Bacalah Alquran, pelajari dan amalkan, karena ia solusi abadi sepanjang zaman, untuk masa lalu, kini dan yang akan datang. Kisah-kisahnya adalah pelajaran, berita-berita hari akhir bersifat memberi peringatan. Alquran mencakup aspek akidah dan hukum-hukum Allah. Berpegang teguhlah dengan Alquran, maka kita akan selamat. Teruslah membaca, Nino."

Waktu itu hanya mengangguk antusias. Tanpa disuruh pun, aku sudah melakukannya, Nandar.

Yah, meskipun buku tafsir itu sudah hampir selesai kubaca—maksudnya untuk bagian juz 30, bukan berarti hafalan Alquran-ku juga sudah hampir selesai. Aku baru mulai. Hafalanku masih sampai Surah Ad Dhuha. Masih ada lima belas surah lagi. Itu berarti, bukan waktunya untuk bersantai sekarang. Aku harus mengejar ketertinggalanku.

“Dengan semangat seperti itu, aku optimis, kau bisa menyelesaikan hafalanmu tepat di tanggal 15 Ramadhan nanti.” Ujar Nandar kemudian.

Alisku mengernyit, “Mungkin maksudmu tanggal 15 Mei.”

Nandar tampak terkejut, “Lho, bukannya tanggal 15 Ramadhan?”

Aku menggeleng, “Tanggal 15 Mei.”

Nandar terlihat panik, ”Hei! Aku kira lombanya tanggal 15 Ramadhan! Enam hari lagi! Bukankah seperti itu?”

Melihat Nandar panik, aku pun mulai merasa cemas, “Bukan Nandar, lombanya tiga hari lagi …. ,”

"Kenapa tidak bilang??"

"Aku kira kau sudah tahu .... , "

"Mana tahu aku penanggalan miladiyah?"

"Ini miskomunikasi .... , "

"Ya!! Dan miskomunikasi itu merusak semuanya!"

"Oh .... , "

Nandar mengacak-acak rambutnya dengan cepat,

“Aduh, berarti aku salah perhitungan …. , ” gumamnya. Sekarang aku gugup.  

"Maksudmu?" tanyaku.

"Time schedule-ku di-setting berakhir di tanggal 15 Ramadhan. Ini benar-benar sebuah kesalahan." Jawab Nandar lemas.

"Kau tidak mungkin bisa menghafal lima belas surah dalam jangka waktu tiga hari, Nino." Ujarnya lagi.

Aku menelan ludah.

 
 

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang