Alhamdulillah. Saya bisa menyelesaikan cerita ini. Satu kesyukuran yang luar biasa, bisa menghancurkan tembok besar 'kemalasan' dan 'bad mood' itu. Dan bisa sesuai target, sebelum Ramadan tiba. (^ ^)
Tentu saja, sebagaimana cerita pada umumnya, kisah ini juga punya banyak kekurangan, entah itu alur yang terkesan memaksa, karakter yang kurang konsisten, latar waktu dan tempat yang tidak tepat, lubang plot di sana-sini, dan hal-hal lain yang terkesan menganggu.
Hal itu tentu sangat masuk akal, karena terus terang, cerita ini dibuat dengan ekpektasi di bawah standar, sekadar kelakar, dibuat hanya untuk menantang diri sendiri, apakah mampu menyelesaikan satu cerita dalam tempo waktu yang ditentukan. (dan ternyata hal itu sangat sulit bagi saya)
Maka menjadi satu kekaguman tersendiri, ketika ada saja Readers yang menyempatkan diri membaca cerita ini, sampai memberi vote dan comment segala. It's so wonderful. : )
Emm .... , untuk ide cerita, tentu saja, akan jauh lebih mudah jika karakter, alur, masalah, fakta-faktanya diambil dari dunia nyata. Ambil contoh Nino. Karakternya .... , sangat menyedihkan memang, mirip-mirip Author. Dan momen saat dia dikatai 'Cowok Muka Standar', itu terinspirasi dari kisah nyata Author. (tertawa) Rasanya saya sudah bicara terlalu banyak.
Dan tentang ilmu-ilmu Alquran itu, semuanya adalah apa yang Author dapatkan selama mengikuti program pembinaan Islam, dan juga implementasi dari apa yang Author sampaikan saat menjalani program Bimbingan Belajar Alquran di Kampus Author. Nikmat yang sangat besar. : )
Untuk kisah cintanya, itu hanya pemanis, bukan fokus utama, karena ide cerita ini adalah tentang Alquran .
Sekuel? Sempat terpikirkan. Tapi percayalah, membuat satu cerita sudah begitu sulit, apalagi harus dua. Lagipula cerita saya yang 'Pemuda Pencakar Langit' itu sudah lama terbengkalai.
Oke? Sekarang saatnya fokus ke 'Pemuda Pencakar Langit'.
Dan, sekali lagi, kepada Readers, saya mengucapkan terima kasih banyak, semoga cerita ini bisa memberi manfaat, dan semoga Allah Azza Wajalla senantiasa memudahkan urusan kita.
Tertanda,
Muhandis Tanin
KAMU SEDANG MEMBACA
[30] Hari Untuk Cahaya
Espiritual[Selesai] "Nandar." "Apa?" "Aku mau jadi penghafal Alquran." "Itu akan sangat sulit." "Aku tahu. Makanya juz 30 saja." "Kenapa tiba-tiba?" "Ceritanya panjang." "Jangan cerita." "Berapa peluangku?" "Estimasi?" "Tiga puluh hari." Ini kisah anak SMA in...
![[30] Hari Untuk Cahaya](https://img.wattpad.com/cover/138854974-64-k100618.jpg)