Nomor Urut Tujuh

2.2K 418 127
                                        

Huh. Kalau mau jujur, aku tidak ingin terjebak dalam situasi yang menegangkan ini. Tertekan, disaksikan banyak orang, berpacu dengan waktu dan harus melakukan hal-hal menantang bukan sifat alamiku. Bahkan aku berpikir untuk meniadakan chapter ini. Langsung saja pada chapter akhir, bagian the end, bagian di mana semua masalahku akhirnya selesai dan semua berpelukan damai. Tapi Si Author, pihak yang bertanggungjawab menuliskan kisah hidupku yang menyedihkan ini punya pandangan lain. Sejak kuberi kuasa penuh, dia seringkali bertindak semena-mena. Dia bersikeras untuk tetap mencantumkan chapter ini.

Dan aku tidak bisa mendebatnya saat dia bilang begini,

"Justru bagian inilah yang disukai pembaca, Nino. Chapter klimaks. Mereka munyukai tantangan. Readers ingin melihatmu menderita, terjatuh, bangkit, menderita, jatuh lagi, lalu menang. Readers menginginkan twist yang berulang-ulang. Dan inilah saatnya. Ini cara yang tepat untuk meningkatkan jumlah view dan vote cerita ini, Nino. Kuharap kau bisa mengerti."

Well, kalau memang seperti itu, aku tidak bisa berkomentar banyak. Lakukan sesukamu, Author. Dan aku sudah siap jadi bulan-bulanan di chapter ini.

Serius.

Dan sepertinya aku butuh bantuan kalian.

Oke, ini dia. Saatnya membaca.

***

Juri mempersilahkanku untuk membaca. Aku mengangguk pelan, lalu mengangkat wajah, menatap ke depan. Di bawah sana, puluhan, ah tidak, mungkin seratus pasang mata tertuju hanya padaku, satu-satunya makhluk yang berdiri tegak (atau tegang) di atas panggung. Mengintimidasi sekali. Untungnya aku agak terbiasa dengan hal ini, mengingat tugasku sebagai protokol beberapa hari ini mengharuskan untuk bertatap muka dengan orang banyak. Kebijakan Nandar ternyata ada bagusnya juga.

Aku menghela nafas sejenak, lalu mulai membaca,

"'A'udzubillahi minassyaitanirrajiiim .... , "

"Bismillahirrahmanirrahim .... , "

"Sabbihismarrabbikal a'laa .... , "

"Alladzi kholaqo fa sawwaa ... ,

"Walladzi qoddara fa hadaa .... , "

"Walladziiii .... , akhrajal mar'aa .... , "

"Fa ja'alahu gutsaaa .... , an ahwaa .... ," seterusnya sampai ayat terakhir. Alhamdulillah. Semua berjalan lancar. Tidak ada bagian yang tersendat. Yah, aku mengambil banyak keuntungan dari Nandar, karena setiap malam dia membaca surah itu pada rakaat pertama Shalat Witr.

Akhirnya Surah Al A'la selesai kubacakan. Surah selanjutnya, Surah Az Zalzalah. Dari yang pendek ke yang panjang, begitu ide yang tertanam dalam benakku. Aku mulai membaca,

"Idza zulzilatul ardhu zilzaalahaa .... , "

"Wa akhrajatil ardhu atsqolahaa .... ,"

"Wa qoolal innsaanu ma lahaa .... , " Seterusnya sampai selesai. Delapan ayat berhasil terlewatkan. Huff. Surah ini juga sering kudengar waktu saat Shalat Tarwih. Thank's a lot, Nandar.

Selanjutnya Surah At Takwir. Oke, terus terang surah yang satu ini agak berat. Lafadzh-lafadzhnya lumayan sulit. Lagipula itu dua puluh sembilan ayat. Tapi ini di atas panggung, Dude, tidak ada tempat untuk kembali. Ini dia.

"Idzasy-syamsyu kuwwirat."

"Wa idzann-nnuujumungkadarat."

"Wa idzal-jibaalu suyirrat."

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang