Surah Wajib & Pilihan

2.1K 355 92
                                        

Akhirnya aku tiba di sekolah. Dan, uh, kenapa keadaan jadi seramai ini? Jalan-jalan penuh sesak. Manusia berseliweran, laki-laki dan perempuan, mungkin ratusan jumlahnya. Wajah-wajah baru lalu-lalang, berisik dan saling berteriak. Dengan pakaian olahraga dan seragam batik sekolah masing-masing. Jumlah motor yang diparkir jauh lebih banyak dari sebelumnya. Mobil-mobil juga. Suasana padat. Riuh. Aku segera menuju gedung tempat pelaksanaan lomba menghafal juz 30, gedung C, ruang rapat guru-guru. Cukup jauh dari gerbang masuk. Aku segera bergegas.

Begitu mendekati gedung C, mendadak kakiku terasa agak kram. Uh. Jangan bilang aku kena demam panggung. Aku memaksakan diri untuk terus berjalan. Akhirnya aku sampai. Dan begitu memasuki ruang lomba, seketika aku terkesiap.

Ruangan itu kosong. Kosong melompong. Tidak ada siapapun. Hanya ada meja, deretan kursi, papan tulis, poster-poster materi pelajaran, dan beberapa lemari tua. Hanya itu. Tidak tampak tanda-tanda makhluk hidup. Sepi.

Heh?? Aku terlambat? Atau salah masuk ruangan?? Batinku mencelos.

"Febriansyah Rachim?" Suara seseorang dari belakang mengagetkanku. Aku segera menoleh.

Ternyata orang itu Ainul, panitia lomba. Melihatku dia mengerutkan kening.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, "Ehm .... , aku terlambat, ya?" tanyaku.

Ainul menggeleng, "Nggak. Lombanya bahkan belum dimulai. Kamu ngapain di sini?"

Aku terperanjat, "Bukannya lombanya di sini?"

Ainul menggeleng lagi "Bukan. Memang awalnya panitia maunya di sini. Tapi ternyata ruangannya terlalu sempit. Jadi dipindah, deh."

"Oh. Jadinya di mana?"

"Lapangan upacara. Kamu nggak lihat, apa? Ada panggung di sana. Itu untuk lomba menghafal, tahu."

Aku melongo. Hehh?? Serius?? Lombanya di lapangan?? Outdoor?? Ditonton hampir semua siswa?? Oke, sekarang aku panik.

"Tadi itu aku ngeliatin kamu masuk ke sini. Makanya aku samperin. Ck, kamu nggak merhatiin sekitar, ya." Ainul berdecak.

Aku tersenyum canggung, "Eh .... , Iya. jadi langsung ke sana, ya."

"Iya."

Aku dan Ainul segera bergeser ke lapangan. Suasana di sana lumayan ramai. Dan, oh, Man, titik yang biasa ditempati Pak Adam untuk menyampaikan amanat upacara kini telah disulap panitia menjadi panggung pertunjukan untuk kami peserta lomba. Tepat di tengah! Kuharap tidak ada yang lebih buruk dari ini.

Ini sih pembantaian massal. Kembali aku mengeluh.

Dan di sekitar panggung berkumpul banyak siswa. Sekitar dua puluh orang. Dan tak ada seorangpun yang kukenal kecuali Raihan. Mereka semua mengenakan baju koko putih. Jelas sekali mereka peserta lomba. Uh. Pesertanya sebanyak ini? Aku benar-benar tidak menyangka. Dan kabar buruknya, sepertinya aku jadi peserta lomba yang terakhir datang. Terintimidasi, itulah posisiku sekarang. Panik dua kali lipat.

Ainul menunjuk meja yang ada di sebelah kiri panggung, "Kamu ke sana. Ambil nomor urut untuk tampil. Sekalian ambil kertas penjelasan teknis lomba." Aku mengangguk dan segera bergerak.

Aku tiba di meja yang dimaksud. Panitia yang bertugas memberiku dua lembar kertas. Satu kertas kecil yang terlipat, dan satu kertas A4 yang berisi beberapa baris tulisan.

"Buka kertas yang dilipat." Ujar Si Panitia, kalau tidak salah namanya Ohen. "Nomor berapa?" tanyanya.

"Nomor tujuh." Jawabku.

"Oh, oke. Itu nomor urutmu. Tunggu nanti saat kau dipanggil juri." Ujarnya. Aku mengangguk.

Aku lalu membaca petunjuk teknis lomba. Sebenarnya kertas ini pernah diberikan padaku pada saat mendaftar lomba dulu, tapi tidak ada salahnya melakukan pengulangan. Di sana tertulis semua hal tentang lomba. Syarat, alur, sistem penilaian dan ketentuan-ketentuan pada saat tampil. Secara garis besar aku sudah paham. Aku langsung menutup kertas dan mencari tempat nongkrong yang strategis. Dan pilihanku tentu saja jatuh pada tempat biasa, di bawah pohon ketapang. Barto belum tampak. Firhani juga. Aku merasa kesepian.

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang