Nandar menghapus semua tulisan yang ada di papan tulis.
"Toyyib. Hari ini sampai tiga hari ke depan, kita akan belajar makhrajul huruf, cara penyebutan huruf-huruf hijaiyyah. Huruf-huruf Arab. Karena Alquran diturunkan dalam bahasa Arab. Total jumlah semuanya ada dua puluh delapan huruf." Ujar Nandar sambil menulis sebuah huruf Arab di papan tulis. Aku tidak asing dengan huruf itu.
"Ini bacanya apa?" Tanya Nandar.
"Itu a." Jawabku santai.
Nandar menggeleng, "Bukan. Ini dibaca alif. Nah, yang ini huruf hijaiyyah asli."
"Oh?"
"Alif dibaca a apabila ada tanda baca ini .... , " Nandar menambahkan garis miring kecil di atas huruf alif itu. Lalu dia menulis satu huruf lagi.
"Kalau yang ini?" Tanyanya lagi.
"Sa .... ?" Jawabku ragu-ragu.
"Bukan. Ini sin." Lagi-lagi Nandar menggeleng. "Sama halnya dengan alif tadi, sin akan dibaca sa jika ada tanda baca seperti ini." Nandar kembali membuat satu garis miring kecil di atas huruf sin itu. "Tanda baca yang seperti ini disebut fathah."
"Oh .... , " Aku mengangguk paham.
"Ada tiga tanda baca sebenarnya. Yang pertama ini, fathah. Artinya terbuka. Maksudnya, ketika membaca huruf-huruf dengan tanda baca fathah, maka mulut harus terbuka lebar. Lantang. Paham?"
"Iya."
"Yang kedua, kasrah." Nandar kembali membuat satu garis miring kecil, tapi kali ini di bawah huruf sin tadi. "Artinya kurang lebih gepeng. Kalau diucapkan, seperti menyebut huruf i, dan mulut kita seperti gepeng. Paham?"
"Iya."
"Jadi ini dibaca?"
"Si."
"Shahih." Nandar tersenyum. "Selajutnya, dammah. Artinya kurang lebih gepeng. Kalau diucapkan, seperti menyebut huruf u, dan mulut harus maju di depan." Nandar menulis satu tanda lagi, tapi kali ini bukan garis miring, melainkan tanda seperti angka sembilan berukuran kecil. "Jadi dibaca?"
"Su."
"Kuharap kau paham sekarang. Tanda baca itu harus diingat terus. Bedakan mana huruf yang berharakat fathah, mana yang kasrah dan mana yang dammah. In syaa Allah mengajimu lancar."
"Harakat?"
"Harakat itu tanda baca."
"Oh .... , "
Nandar melanjutkan, "Aku tahu, sebenarnya kamu sudah tahu semua jenis harakat itu. Hanya saja mungkin secara praktis, bukan teoritis. Tahu cara membacanya, tapi tidak tahu nama harakatnya."
"Betul." Aku tersenyum lebar. Nandar kembali menebak isi kepalaku.
Selanjutnya Nandar menulis tujuh huruf hijaiyyah di papan tulis.
"Ini dia, a, ba, ta, tsa, ja, ha dan kho. Kita akan belajar cara menyebut huruf-huruf ini." Lanjutnya.
Lalu Nandar mencontohkan penyebutan huruf-huruf satu persatu, dan aku langsung mengikutinya. Awalnya terasa gampang. Huruf a, ba dan ta bisa kusebutkan dengan lancar. Tiba di huruf tsa, aku mulai kesulitan. Cara penyebutanku berbeda dengan Nandar. Dia enteng saja mencampurkan antara huruf t dengan sa. Sementara aku terus berusaha.
"Tsa."
"Tsa."
"Tsa .... , "
"Lidah menempel di gigi, Nino."
"Tsa. Tsa."
"Terus ulangi."
Aku terus menyebut huruf itu. Sampai ada sekitar dua puluh kali. Nandar lalu mengangkat tangan.
"Cukup. Nanti diulangi lagi di rumah. Nah, selanjutnya huruf ja. Huruf ini termasuk huruf qalqalah."
"Qalqalah?"
"Akan kujelaskan di lain kesempatan."
Selanjutnya Nandar menyebut huruf ha. Dan saat itulah aku merasa betul-betul kesulitan. Huruf ha yang diucapkan Nandar sangat unik. Terdengar halus dan bersih.
"Diucapkannya harus tipis. Dari tengah-tengah tenggorokan."
Bicara sih gampang.
"Ha."
"Ha."
"Ha .... , ha .... ,"
Aku kewalahan. Ini sangat berbeda dengan ha yang kukenal saat belajar mengaji semasa SD dulu. Mungkin sekitar tiga puluh kali aku mengulangi penyebutan huruf itu. Tapi belum bisa menyamai penyebutan Nandar yang begitu fasih. Nandar kembali mengangkat tangan.
"Cukup. Ulangi di rumah. Makhrajul huruf bukanlah sesuatu yang bisa dikuasai dengan hanya sekali belajar. Butuh waktu yang tidak singkat dan keseriusan yang jujur."
Aku mengangguk. Terus terang aku merasa kesulitan. Tapi di sisi lain, aku merasa senang. Aneh. Aku begitu tertantang untuk bisa menyebut huruf-huruf itu sebaik mungkin. Aku seperti baru belajar mengaji kembali. Dan kondisi itu membuatku semakin bersemangat.
"Nandar."
"Apa?"
"Kau butuh berapa lama bisa menyebut huruf-huruf itu dengan baik?"
Nandar tersenyum. "Karakter bahasa kita adalah, tidak ada pengucapan huruf yang keluar dari tenggorokan, semuanya dari bibir saja. Makanya orang Arab memberi istilah bahasa Indonesia sebagai 'bahasa burung'. Jadi jangan heran kalau kau kesulitan menyebut huruf ha itu. Terus ulangi saja. Lama-lama terbiasa."
"Oke." Perasaan jawaban tidak relevan dengan pertanyaan, deh.
Selanjutnya huruf kho. Tidak sesulit ha, tapi tetap saja terasa berat. Aku terus membaca.
"Seakan-akan ada yang ingin kau keluarkan dari tenggorokanmu."
"Kho."
"Kho."
"Kho."
"Awas, jangan sampai betul-betul keluar."
Tidak terasa dua jam berlalu. Rasanya cepat saja. Sebelum pulang, Nandar berpesan padaku bahwa inti pembelajaran kami hari ini adalah aku harus terus mengulangi penyebutan huruf-huruf itu di rumah. Pertemuan di masjid ini hanya bersifat penyampaian teori, sementara untuk indeks keberhasilan, tergantung aku apakah serius melakukan simulasi di rumah apa tidak. Aku mengangguk. Setibanya di rumah, kupraktikkan semua apa yang disampaikan Nandar. Kuulangi menyebutkan semua huruf itu, terutama ha dan kho. Aku melakukannya hampir di semua kondisi. Saat sedang berbaring, mandi, makan berdiri dan bercermin. Di dalam kamar lebih-lebih.
"Kho."
Ulangi.
"Ha."
Ulangi.
"Kho."
"Kho .... ,"
"Kho ...., "
Tiba-tiba ibuku melintas. Melihat ekspresi wajahku yang aneh sambil menghadap cermin, beliau langsung bertanya keheranan,
"Kamu kenapa, No? Keselek?" Wajah Ibuku terlihat panik.
Catatan auhor :
Yang menarik dari chapter ini adalah, saya menulis beberapa paragraf ketika sedang berada di pondok tahfidzul Alquran, menunggu hujan reda (tidak pernah disangka sebelumnya ^_^, saya ke pondok karena suatu keperluan). Dan begitu takjub melihat semangat para santri yang terus membuka lembar-lembar Alquran.
KAMU SEDANG MEMBACA
[30] Hari Untuk Cahaya
Spiritüel[Selesai] "Nandar." "Apa?" "Aku mau jadi penghafal Alquran." "Itu akan sangat sulit." "Aku tahu. Makanya juz 30 saja." "Kenapa tiba-tiba?" "Ceritanya panjang." "Jangan cerita." "Berapa peluangku?" "Estimasi?" "Tiga puluh hari." Ini kisah anak SMA in...
![[30] Hari Untuk Cahaya](https://img.wattpad.com/cover/138854974-64-k100618.jpg)