Saram Husain. Itulah nama lengkapnya.
Dia seangkatanku, tapi beda kelas. Aku kenal Saram sejak SMP, karena kami satu sekolah. Dan di sanalah aku tahu reputasi Saram sebagai seorang Bad Boy.
Nah, sebelumnya, aku ingin kalian dan aku menyepakati definisi Bad Boy yang kumaksud. Jika kalian menerjemahkannya sebagai “gambaran sosok remaja yang menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan cara melakukan serangkaian tindak kriminal,” maka ada yang perlu diluruskan dalam hal ini. Saram bukan Bad Boy semacam itu. Dia tidak merokok, tidak minum minuman keras, tidak suka mencuri, tidak memakai narkoba dan tidak membegal.
Saram lebih ke arah ‘pemberontak’. Dia orang yang berjiwa bebas. Jadi jangan tanya berapa kali dia membolos sekolah dalam satu pekan. Masuk ruang konseling sama seperti aku membeli mie instant di warung Mpok Suwarni. Terlalu sering.
Selain itu, dia seperti tidak takut pada siapapun. Aku ingat waktu kelas sebelas Pak Angkata pernah melakukan razia rambut panjang dadakan (ya tentu saja dadakan, kan razia), dan Saram jadi salah satu target operasi. Rambut ala Marco Reus-nya dibabat habis, berganti jadi undefined hairstyle yang memalukan. Kegagahan seorang Saram Husain menguap di hadapan guru yang terkenal paling galak di sekolah kami.
Tapi ternyata Saram tidak terima. Dia tidak mau takluk begitu saja menghadapi intimidasi Pak Angkata. Dia mengamuk. Pagi itu kami menyaksikan Saram mencabuti semua pagar taman di depan kantor guru. Ditonton hampir semua tenaga pengajar, staf tata usaha, beberapa siswa yang terlambat, satpam, Ibu Kantin, tukang ojek, dan Pak Angkata sendiri. Beliau berdiri terpaku, tidak berkomentar apa-apa, tidak berbuat apa-apa.
Sekitar tiga puluh menit Saram meluapkan kekesalannya. Puas berekspresi, Saram membuang potongan pagar terakhir di hadapan Pak Angkata dan berkata,
“Belum pernah ada yang orang yang berani memegang kepala Saram Husain.”
“Siapapun.”
Lalu dia berbalik, berjalan tegak menuju gerbang, meninggalkan sekolah. Saram keluar. Satpam hanya terpaku. Keesokan harinya, Saram di-skorsing tidak boleh masuk sekolah selama lima hari.
Sejak kejadian itu, aku mulai berpikir kalau julukan Bad Boy untuk Saram tidak terlalu tepat. Mad Boy. Kurasa tidak ada predikat yang lebih mewakili dari itu. Jika bertemu dengannya, sering aku diserang rasa gugup yang tiba-tiba. Bertemu Saraf Husain—eh maksudku Saram Husain—bukan bagian dari agenda hidupku. Dia semacam mimpi buruk yang tidak dinginkan (terdengar dramatis, kan? Aku tahu. Tapi yah, mau bagaimana lagi. Percayalah, hanya itu yang terlintas di kepalaku sekarang)
Intinya, Saram itu …. , greget. Sebenarnya masih banyak kisah greget tentang dirinya, tapi jika kutuliskan semuanya, bagaimana dengan peranku sebagai tokoh utama di cerita ini? Jadi lupakan saja (Oke, sebagai pribadi yang mampu bersikap adil, tentu aku harus pandai-pandai menempatkan diri).
Terus, bagaimana ceritanya kami tahu Saram jago Bahasa Inggris? Nah, semua itu berawal saat masa-masa SMP.
Guru Bahasa Inggris kami waktu SMP bernama Razak Husain. Biasa dipanggil Pak Razak. Dari namanya saja, tentu kalian sudah bisa menduga, beliau punya hubungan darah dengan Saram Husain. Yap. Tepat sekali. Beliau adalah paman dari “Si Gila” itu.
Ceritanya, setiap kali Pak Razak masuk dan mengajar, Saram pasti akan diberi perlakuan istimewa. Perlakuan istimewa di sini bukan berarti Saram tidak diberi tugas harian. Atau dibebastugaskan dari sesi tanya jawab. Atau mendapat nilai tinggi tanpa perlu repot-repot ulangan. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya. Pak Razak selalu memberi tugas dengan tingkat kesulitan di atas rata-rata untuk Saram.
Jika kami disuruh membaca artikel Junk Food masing-masing satu orang satu paragraf, maka Saram diharuskan membaca satu artikel secara keseluruhan. Jika kami diberi tugas menyebutkan penjumlahan angka-angka dalam Bahasa Inggris, maka angka-angka Saram adalah ribuan dan ratusan, sedangkan kami selalu tidak lebih dari deret enam puluh. Aku ingat Pak Razak pernah mengomeli Saram dengan menggunakan Bahasa Inggris, dan Saram membantah dengan bahasa yang sama. Waktu itu kami semua berstatus penonton terbaik.
Hebatnya, Saram selalu bisa keluar dari tekanan Pak Razak. Dia bisa menjawab semua tugas “spesial” itu dengan baik. Kenapa? Karena keluarga Saram keluarga Inggris. Ayah Saram seorang kapten kapal yang sering berpergian ke luar negeri. Ibunya juga guru Bahasa Inggris. Kakaknya setahuku lulusan Belanda. Saram pasti belajar grammar sejak kelas dua SD. Jadi terang saja, Saram unggul di atas kami.
Itulah Saram. Sebenarnya dia cerdas. Sayangnya, kondisi kejiwaannya yang tidak stabil merusak itu semua. Dia pembuat ulah berdedikasi tinggi. Dan yang menjadi masalah sekarang adalah, aku akan bertemu Saram malam ini.
“Terus terang aku tegang, Barto.” Ujarku.
“Ayolah. Jangan jadi penakut.”
“Aku takut dia tersinggung, Barto. Lalu melakukan hal-hal buruk pada kita.”
“Saram tidak mungkin sejahat itu. Dia masih teman kita.”
“Jangan lupakan insiden cabut pagar itu, Barto.”
“Yah, aku ingat. Tapi kan waktu itu dia datang kembali ke sekolah dan meminta maaf. Terus memperbaiki pagar-pagar itu. Dia kan waktu itu hanya lepas kendali saja.”
“Lepas kendali tapi anarkis, Barto. Saram itu berbahaya. Aku …. , takut.”
Barto berdecak, “Ck, kau benar-benar tidak punya tekad. Kuberitahu ya, mereka yang terlihat cantik dan sempurna terkadang tidak sesempurna kelihatannya. Bisa saja mereka rapuh. Sangat rapuh. Kenapa? Kerena mereka selalu berada pada posisi aman dan nyaman. Tidak ada tantangan. Mereka tidak terbiasa tertekan. Saat masalah datang, mereka belum siap, lalu mereka terhempas begitu saja. Sementara mereka yang berwajah jelek dan terbiasa kesusahan, merekalah yang berjiwa tangguh. Karena mereka selalu menghadapi masalah dan tantangan, kapanpun dan dimanapun. Mereka tertempa oleh kehidupan yang keras.”
Motivasi Barto itu panjang sekali. Terus apa intinya?
“Maksudku, aku tidak ingin kau yang berwajah pas-pasan ini berjiwa rapuh. Aku ingin kau kuat. Dan bertemu Saram adalah tantangannya.”
“Baiklah. Tapi bagaimana jika dia mengajukkan syarat yang berat saat menerima permintaan kita?”
“Permintaanmu.”
“Iya. Maksudku itu.”
“Ya …. , penuhi.”
“Ya tapi bagaimana kalau syaratnya sangat berat? Jangan-jangan dia meminta semua koleksi komik One Piece-ku. Aku tidak sanggup, tidak sanggup, Barto.”
“Diamlah. Kita sudah tiba.” Ujar Barto. Dan memang, saat ini kami sudah berada di depan rumah Saram. “Tunggu sebentar.” Barto mengetikkan sesuatu di smartphone-nya.
Tidak lama pintu terbuka. Saram keluar. Uh, lihat penampilannya. Lihat lengannya yang besar-besar itu. Aku yakin dia mampu memecahkan galon dengan lengannya itu. Dan seperti biasa, wajah Saram tampak tidak peduli. Dia sepertinya sedang kesal. Entah karena apa. Gawat.
Barto menyenggolku, “Ayo bicara, ini kan masalahmu. Beritahu dia.”
Aku mendesis, “Ck, bukannya kau bilang kau akan membantuku? Kau saja yang bicara.”
Barto berbisik, ”Aku hanya bertugas mengantarmu. Untuk acara utamanya, kau berkendali penuh. Lakukan!”
“Aku tidak berani!” Jawabku.
“Pokoknya kau yang bicara.”
“Kau yang bicara!”
“Kau!”
"Kau!"
Sekitar lima menit kami berdebat. Tidak ada yang mau mengalah. Kenapa Barto jadi keras kepala seperti ini? Plin-plan sekali.
“Ehem.”
Saram tiba-tiba berdeham. Sontak aku dan Barto terdiam. Wajahnya terlihat semakin kesal. Uh. Bagaimana bisa kami mengabaikannya? Gawat. Jangan-jangan Saram tersinggung. Aku tegang menunggu kalimat Saram selanjutnya. Jangan-jangan ‘sakit jiwanya’ kambuh lagi. Kami akan jadi korbannya malam ini. Uh! Ide Barto untuk menemui orang ini benar-benar sangat buruk. Sangat buruk.
Dengan alis berkerut dan wajah yang terlihat masih kesal Saram bersuara,
“Aku sudah dengar semuanya dari Barto. Tentang debat itu. Aku bersedia ikut.”
Aku melongo.
“Latihannya dimulai besok, kan?” tanyanya.
“Iya. Jam sembilan.” Jawab Barto.
“Oke.” Ujar Saram singkat.
Aku masih melongo.
KAMU SEDANG MEMBACA
[30] Hari Untuk Cahaya
Spiritual[Selesai] "Nandar." "Apa?" "Aku mau jadi penghafal Alquran." "Itu akan sangat sulit." "Aku tahu. Makanya juz 30 saja." "Kenapa tiba-tiba?" "Ceritanya panjang." "Jangan cerita." "Berapa peluangku?" "Estimasi?" "Tiga puluh hari." Ini kisah anak SMA in...
![[30] Hari Untuk Cahaya](https://img.wattpad.com/cover/138854974-64-k100618.jpg)