I Told You

2.8K 389 49
                                        

Hari Senin pagi sekolah mendadak heboh. Seorang siswa nekat menembak Firhani di depan khalayak umum.

"Firhani, kamu harus tahu, sejak pertama kali melihatmu waktu pendaftaran masuk SMA, aku sudah menyukaimu. Kau mau jadi pacar aku?"

Firhani hanya berdiri tegak dengan ekspresi wajah yang datar. Jantungku berdegup kencang menunggu jawabannya. Sementara ratusan siswa yang berkumpul serentak berteriak menyemangati,

"Tee .... rii .... maa .... TERIMA!"

"TERIMA!"

"TERIMA!"

"TERIMA!"

"Kamu mau, kan?"

"Nggak."

Satu kata itu meluncur dari bibir Firhani.

Lalu dia memutar badan, melangkah meninggalkan keramian orang. Suasana hening. Aku langsung berlari sekuat-kuatnya menuju kamar mandi siswa yang ada di bagian belakang sekolah, menyembunyikan diri dari kejadian yang sangat memalukan itu.

Sudah kubilang, kan??

Barto tergopoh-gopoh menghampiriku.

"Bagiamana, sukses??" Tanyanya cepat-cepat.

"Gagal total. I told you."

"Untung saja orang itu bukan kau." Barto terkekeh.

Aku tersenyum tipis. "Ya, sisi baiknya, aku akhirnya tahu kalau aku tidak punya peluang untuk menembak Firhani. Cowok sekelas Adrian saja ditolak mentah-mentah."

"Yap. Dia menjadi semacam preseden yang buruk untukmu."

"Huh. Untung saja Adrian bertindak lebih cepat dariku. Coba kalau tadi aku yang diperlakukan seperti itu. Bisa-bisa mati di tempat aku."

Barto bersuara, "Tidak disangka ya, Adrian memilih hari yang sama denganmu. Berarti besok kesempatanmu unjuk gigi."

Aku mendesah, "Sudahlah. Kurasa kita harus melupakan masalah ini. Kau tidak lihat bagaimana Adrian tadi? Untung dia ganteng. Kalau tidak, guru-guru pasti akan memarahinya."

"Oh, jadi kau tidak akan dimaafkan?"

"Itu kalimat kiasan, Barto."

"Oke, oke. Jadi kau akan berdiam diri untuk selamanya?"

"Kau akan menyesal."

Aku menggigit bibir, "Mungkin lebih baik seperti itu. Rasanya ..... , aku tidak pantas untuk Firhani. Dia .... , dia terlalu sempurna. Mungkin aku yang terlalu berharap. Ini sangat tidak sepadan. Aku hanyalah pungguk yang merindukan bulan. Semua terlalu indah untuk menjadi nyata."

Mata Barto sontak membulat, "Wow! Kalimatmu barusan benar-benar drama!"

Aku menatap Barto sambil cemberut, "Sudahlah, lupakan saja," Ujarku sambil melangkah meninggalkan ruangan berbau pesing itu.

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang