Masalah Time Schedule

1.9K 450 42
                                        

Pagi-pagi sekali Nandar memulai pertemuan. Wajahnya terlihat sedikit kusut. Mungkin dia merasa bersalah atas kekeliruannya menetapkan time schedule. Well, yang seharusnya paling panik itu bukan dia, tapi aku, Si Peserta Lomba.

Untuk tiga hari ke depan, Nandar melimpahkan semua amanah dan tanggung jawabku sebagai remas kepada Barto. Menyapu lantai, membersihkan teras, menyiapkan makan sahur, membangunkan orang untuk shalat, mengatur karpet, semua itu akan di-handle Barto. Aku dituntut untuk fokus menghafal saja. Oke, mungkin aku akan sedikit ambil andil untuk masalah menyiapkan makanan. Dan jangan lupakan soal jadi protokol itu.

Yah, setidaknya Barto tidak akan terlalu kesulitan. Dia akan dibantu bocah-bocah komplek yang kini lebih sering menghabiskan waktu bermain mereka di sekitar masjid. Mereka ikut-ikutan meringankan beban kami sebagai remas. Menyapu dan sebagainya. Bahkan sampai ikut menginap di masjid segala—meskipun tidak seperti aku dan Nandar yang punya kamar sendiri, mereka tidur di ruang shalat. Kurasa mereka semua cocok dengan sebutan “Bomas”.

Nah, sekarang kembali ke masalahku, masalah jadwal yang ‘prematur’ itu. Sepertinya semalaman ini Nandar mencari solusi. Aku jadi agak kasihan padanya.

“Setelah dipikir-pikir, tidak ada jalan lain selain terus menghafal.” Nandar membuka percakapan.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Kau akan tetap menghafal. Entah bisa sampai selesai atau tidak. Hanya saja, kau akan menghafal dari awal juz 30, bukan dari bagian akhir. Dari surah An Naba.”

“Oh.”

Nandar menggaruk-garuk kepala. Dia tampak kesal. “Bodohnya aku. Harusnya metode ini diterapkan dari awal. Huff …. . Mulai menghafal surah-surah yang panjang, terus beralih ke surah yang lebih pendek, kemudian yang lebih pendek, kemudian seterusnya, dan seterusnya, seterusnya, sampai yang paling pendek. Dari yang sulit ke yang lebih mudah. Kalau seperti ini, dapat masalah seperti ini pun kita tidak perlu panik. Penyesalan memang seperti orang yang malas ikut rapat, selalu datang belakangan.” Aku tidak berkomentar.

Nandar menghela nafas, “Begitulah, Nino. Aku hanya bisa bilang …. , menghafal semampu kau saja, jangan terlalu dipaksa. Waktu tiga hari ini singkat. Tapi jika kau bersungguh-sungguh, mungkin kau bisa menghafal dua belas surah yang tersisa itu. Sembari terus berdoa, semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memudahkan urusan kita.

"Iya.” Aku mengangguk.

***

Tiga hari berlalu dengan cepat. Akhirnya aku selesai. Nandar bilang dia kagum dengan kesungguhanku. Tiga hari mampu menghafal sembilan surah. Yah, kurasa dia terlalu melebih-lebihkan. Masih ada tiga surah yang tersisa, kan. Terlalu cepat untuk mengucapkan selamat.

“Tentang tiga surah itu,” Nandar angkat suara. “Kita hanya bisa berharap, pihak juri lomba tidak menjadikan ayat dalam surah itu sebagai ayat ujian. Ini masalah probabilitas. Tiga surah dari total tiga puluh enam surah, tidak mungkin semua ayat ujian diambil dari  sana. Satu banding dua belas. Paling mungkin, juri akan mengambil satu ayat dari tiga surah itu. Semoga saja.”

Aku mengangguk.

“Berarti …. , “ Nandar bergumam lagi. “Ini jadi pertemuan terakhir kita. Setelah sekian lama kau belajar. Alhamdulillah. Sebagai mentormu aku merasa bangga, Nino. Kau bisa sampai pada tahap ini. Tahap bisa manghafalkan Alquran. Aku bersyukur bisa ikut terlibat. Ini akan jadi amal jariyah untukku. Saat aku sedang tidur-tiduran, dan kau mengaji, maka aku akan ikut dapat pahala, karena dengan sebabku kau bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Ini tidak akan sia-sia buatku, Nino. Kau membuat banyak kemajuan. Semoga kau terus istiqomah, Nino.”

Entah kenapa kalimat Nandar terdengar seperti salam perpisahan. Aku jadi tidak enak.

“Dan …. , aku minta maaf, Nino. Kalau selama proses belajar ini, aku pernah mengucapkan kata-kata yang kurang berkenan, yang membuatmu tersinggung. Atau sikapku yang mungkin  membuatmu tidak nyaman. Apapun itu, aku minta maaf. Jangan diambil hati, ya. Kata-kataku yang nyelekit. Semoga Allah subhanu wata’ala mengampuni dosaku dan dosamu.”

Aku menggaruk-garuk kepala canggung. Well, tak kusangka pertemuan terakhir kami jadi dramatis seperti ini. Mau tidak mau aku harus membalas,

“Iya. Aku juga, Nandar. Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih banyak. Kau sudah banyak membantuku. Terlalu banyak. Aku yang awalnya tidak lancar mengaji, sekarang jadi sebaik ini. Bahkan sampai bisa menghafal segala. Ini berkat pengajaranmu, Nandar, terima kasih banyak.” Sebenarnya aku ingin membuat kalimat ini jadi lebih panjang, tapi percayalah, aku benar-benar kehabisan ide.

Nandar tersenyum lembut, “Itulah gunanya saudara, Nino. Kita tidak hanya sekadar teman. Kita saudara. Saudara muslim, saling meringankan beban.”

Aduh, Nandar, sampai segitunya. Aku kok jadi agak terharu.

“Ya …. , aku juga minta maaf, Nandar. Mungkin selama ini aku sudah membuatmu jengkel. Tingkahku yang plin-plan itu.Tidak patuh pada arahan dan sebagainya. Kabur-kabur dan sebagainya. Banyak membantah dan tidak beradab. Pokoknya aku minta maaf.” Ujarku.

Nandar mengangguk,

“Ya, memang sudah seharusnya kau minta maaf. Kesalahanmu padaku sangat banyak. Akhirnya kau sadar juga.”

Lha?

“Terutama masalah time schedule yang kau hilangkan itu. Aku masih ingat, Nino.”

“Oh, itu hanya selembar kertas, Nandar.” aku memutar bola mata.

Mendadak wajah Nandar berubah jengkel,

“Hei!! Ini bukan masalah selembar dua lembar kertas, Nino! Ini masalah tanggung jawab!! Rupanya kau belum belajar apa-apa dari pertemuan ini!”

Aku membuang muka. Huh. Naifnya aku, berpikir acara maaf-maafan ini akan berakhir menyenangkan.

Catatan Author :

In shaa Allah cerita ini akan segera berakhir. Mungkin dua atau tiga chapter lagi. Dan bagi pembaca yang mengikuti perkembangan cerita ini dari awal, penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, atas antusias dan apresiasi yang berbentuk 'bintang' dan 'gelembung dialog' itu.

Sekali lagi, terima kasih banyak : )

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang