Aku menunduk. Pak Makruf memandangiku sambil melipat tangan di dada. Wajah beliau terlihat menimbang-nimbang. Selebihnya, ada gurat kekesalan di sana. Aku tidak berani mengangkat wajah.
"Nino .... , Nino."
"Terus terang Bapak heran dengan sikap kamu beberapa hari ini."
"Aneh."
Aku masih menunduk.
"Kamu ada masalah apa sebenarnya?"
"Linglung begitu."
"Kemarin sudah mengiyakan. Tiba-tiba hari ini, datang-datang mau mengundurkan diri. Coba pikir, siapa yang tidak jengkel?"
Aku semakin tertunduk. Kata-kata Pak Makruf 100℅ benar. Aku memang kelewatan. Hari ini agenda kami bersiap latihan soal-soal. Dan Pak Makruf sudah menyiapkan segala sesuatunya. Contoh pertanyaan, rangkuman debat tahun lalu, data-data sekolah lawan, sampai statistik prestasi sekolah kami selama lima tahun terakhir, semua lengkap. Suwarsih dan Arman, teman satu timku sudah stand by dari kemarin. Bahkan Pak Makruf sudah menyediakan bel dan meja lomba, demi menghadirkan atmosfer debat yang real dalam simulasi ini. Lalu aku datang dan dengan santainya bilang ingin mundur dari tim. Kalau saja tidak mempertimbangkan nama baik, mungkin saat ini Pak Makruf sudah mengikat badanku di batang pohon Beringin belakang sekolah. Oh, aku terlalu sering menonton Nat Geo Wild.
"Maaf, Pak."
"Terus?"
"Ya, saya tetap mundur, Pak."
"Tidak bisa."
Kepalaku langsung mendongak.
"Tapi Pak .... ,"
"Tidak ada tapi tapi."
"Barto mungkin bisa .... ,"
"Barto tidak bisa."
"Mungkin saya bisa .... , "
Mata Pak Makruf mendelik, "Bisa apa?"
"Bisa membujuknya untuk menggantikan saya, Pak."
Cepat-cepat Pak Makruf menggeleng, "Tidak bisa. Kamu jangan banyak alasan. Kamu tetap ikut debat ini. Cukup Barto saja yang membelot. Jangan lagi ditambah kamu. Bapak bersyukur akhirnya kamu kembali ke jalur yang tepat. Jangan aneh-aneh lagi."
Yang aneh itu Bapak.
"Oke? Mulai sekarang, kamu fokus di debat ini. Jangan plin plan lagi. Bapak bosan diberi janji palsu."
Bapak kok baper.
"Ke meja sekarang. Kita mulai simulasinya."
"Siap, Pak." Kompak Suwarsih dan Arman menyahut. Aku mengangguk lemas.
Hari ini terlewatkan dengan sangat membosankan.
***
Sorenya aku menemui Barto. Kuceritakan semua masalahku. Terutama yang bagian Raihan mengundurkan diri. Aku berharap dia bisa bersimpati. Meskipun ini sebenarnya menjadi semacam pembangkangan terhadap perintah Pak Makruf, tapi toh tidak ada salahnya mencoba. Aku sedang mencoba menemukan back up yang layak. Itu saja intinya.
"Jadi begitu." Ujarku di akhir cerita.
Barto mengangguk.
"Besok, kau harus menggantikanku. Karena aku menolak berpartisipasi. Paham, kan?"
"Paham."
"Kau akan jadi Super Sub, Barto."
"Iya."
Aku sumringah. "Terima kasih. Kau memang yang terbaik, yang terbaik, Barto." Oke, mungkin pujianku terdengar agak sedikit berlebihan.
Wajah Barto terlihat kaget, "Tunggu , Nino, aku belum bilang kalau aku bersedia menggantikanmu."
"Maksudmu?"
"Maksudku .... , aku menolak berpartisipasi di debat Bahasa Inggris itu. Aku sudah menentukan pilihan, Nino. Ikut lomba cepat tepat. Dan ini tidak bisa diganggu gugat."
Aku mendesah, "Kau serius?"
Barto menggendikkan bahunya, "Setahuku sekarang bukan bulan April. Jadi maaf, ya."
Aku berdecak, "Ayolah, Barto. Bantu aku. Ini benar-benar masalah serius."
Mendadak Barto menatapku dengan wajah serius. "Aku pun juga demikian." Apa maksudnya?
"Serius ikut lomba cepat tepat itu?" tanyaku.
Barto mengangguk. "Ya. Ikut lomba itu adalah resolusi terbesar dalam hidupku."
Aku melongo. Kurasa Barto mulai ikut-ikutan dengan konsep hidupku. Tapi yah, itulah gunanya sahabat. Tapi tunggu. Bagaimana dengan masalahku?
"Tapi Barto .... , hanya kau satu-satunya siswa yang kuanggap bisa menggantikanku." Berbohong rasanya tidak mengenakkan.
Barto menjawab, "Kurasa sudah saatnya kita berpikir realistis. Jalanmu untuk ikut lomba menghafal itu penuh rintangan. Ada-ada saja tantangannya. Mungkin kau memang tidak cocok di sana. Mulailah menghadapi kenyataan. Kau diharapkan. Tapi bukan di lomba menghafal. Di debat. Itulah tempatmu seharusnya."
"Setelah tahu kalau Firhani mengenalmu, aku jadi berpikir kau tidak sepayah kelihatannya. Firhani akan menyaksikan debat itu. Aku yakin. Paling tidak menanyakan hasilnya. Dia kan Ketua Panitia." Lanjutnya.
Masuk akal. Tapi aku punya pandangan lain. "Yang jadi masalah, Barto, Firhani sudah terlanjur mengira aku akan ikut lomba menghafal. Apa jadinya kalau dia tahu aku berhenti? Reputasiku akan hancur di matanya. Mau di kemanakan mukaku?"
"Ck, benar-benar konflik kepentingan, ya."
"Begitulah. Tolong aku, Barto."
Barto terlihat berpikir, "Kau tahu, Nino. Mungkin kau tidak benar-benar serius mencari cadangan yang layak. Setahuku masih ada satu nama lagi yang sangat pantas untuk ikut lomba debat itu. Kau harusnya tidak melupakannya."
Aku menggit bibir. "Jangan bilang kalau yang kau maksud itu .... ,"
Barto mengangguk, "Saram. Siapa lagi."
Aku mencelos. Aku tidak suka solusi ini. Meskipun dari awal aku menduga Barto pasti akan menyebut nama itu, aku tetap tidak tenang. Meminta tolong pada Saram tidak masuk daftar rencanaku. Bukan apa-apa. Saram itu .... , dia seseram namanya.
"Tidak adakah yang lain?" Aku menggaruk kepala.
"Sejauh ini dia yang terbaik."
Aku menghela nafas, "Masalahnya Barto, dia itu Bad Boy."
"Aku tahu, dan kau Sad Boy."
"Tapi kau mau kan, membantuku membujuknya ikut debat itu?"
Barto tersenyum, "Yang penting jangan paksa aku keluar dari lomba cepat tepat. Apapun itu, aku siap, Bro."
KAMU SEDANG MEMBACA
[30] Hari Untuk Cahaya
Spirituelles[Selesai] "Nandar." "Apa?" "Aku mau jadi penghafal Alquran." "Itu akan sangat sulit." "Aku tahu. Makanya juz 30 saja." "Kenapa tiba-tiba?" "Ceritanya panjang." "Jangan cerita." "Berapa peluangku?" "Estimasi?" "Tiga puluh hari." Ini kisah anak SMA in...
![[30] Hari Untuk Cahaya](https://img.wattpad.com/cover/138854974-64-k100618.jpg)