Hari ini aku tidak ke masjid. Tapi menuju sekolah. Pemberitahuan lewat grup WA semalam memberiku informasi bahwa semua siswa kelas XII harus datang ke sekolah. Ada penyampaian penting dari Kepala Sekolah katanya. Aku langsung bergegas.
Sebagian besar siswa tentu saja tidak akan datang. Untuk apa sih, repot-repot ke sekolah, orang UN sudah selesai. Begitu pasti jawaban logis mereka saat menanggapi pemberitahuan yang beredar. Kurasa 'rantai kemalasan' telah menguasai orang-orang itu.
Tapi tidak bagiku. Karena, yah, aku salah satu siswa paling taat di sekolah. Dan sejak resolusi besarku mulai berjalan, aku sudah bertekad untuk tetap menjaga rekor bersihku yang tidak pernah membolos itu. Semua harus tampak sempurna, bukan?
Aku sudah memberi tahu Nandar soal panggilan sekolah ini. Dan dia tidak keberatan untuk sedikit merubah jadwal yang sudah ditetapkan. Belajar mengajiku diundur sebentar sore, begitu kata Nandar. Aku setuju.
Aku berangkat sekolah bersama Barto. Sepanjang perjalanan aku bercerita tentang proses menghafalku. Oke, maksudku proses belajar mengajiku. Berbeda dengan Nandar, Barto tipe pendengar yang baik. Dia menyimak perkataanku sambil sesekali menanggapi.
"Seru juga, ya."
"Aku tertarik untuk ikut."
"Yang pekanan keren juga."
Setibanya di sekolah, semua anak kelas XII langsung berkumpul di lapangan. Kali ini barisan tidak teratur rapi seperti biasanya. Para siswa boleh berdiri di mana pun mereka suka, berkumpul dan berbaur dengan teman-teman yang berbeda kelas. Suasana santai. Meskipun begitu, masih ada Pak Angkata yang sibuk menertibkan siswa-siswa yang mulai bertingkah.
Aku sendiri tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera mencari posisi yang strategis, posisi di mana aku bisa berada di dekat Firhani, tapi masih dalam batas jarak aman. Di mana aku bisa melihatnya, dan dia tidak bisa melihatku. Akhirnya kutemukan tempat yang cocok. Di bawah pohon ketapang, ditemani Barto, aku mencoba mencuri pandang ke arah Firhani yang berjarak kurang lebih delapan belas meter di depanku.
Tidak lama kemudian, Pak Adam--kepala sekolah kami--keluar dari kantor. Beliau menghampiri mic yang ada di tengah lapangan lalu mulai berbicara,
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ... , "
"Selamat pagi anak-anak .... , "
Lalu dilanjutkan kalimat pembuka kurang lebih tujuh belas menit lamanya. Kami menyimak dengan tidak berminat. Karena kalimat-kalimat itu sudah sering kami dengar saat upacara. Selalu kalimat yang sama, tidak berubah-ubah, begitu terus selama tiga tahun ini. Bahkan kami hampir menghafalkannya. Sangat membosankan.
"Jadi tujuan Bapak mengumpulkan kalian di sini adalah .... , " Akhirnya beliau masuk ke inti pembahasan.
"Untuk menyampaikan pengumuman, bahwa dalam rangka memeriahkan acara perpisahan kalian, dan juga untuk memberi kenangan yang manis pada guru-guru, sekolah memutuskan akan mengadakan lomba cepat tepat khusus untuk kelas XII."
Seketika suasana riuh. Para siswa terkejut, bertanya-tanya, berkomentar sambil berbisik-bisik. Lomba untuk kelas XII? Ada-ada saja! Terdengar beberapa siswa mengucapkan kalimat itu. Sementara aku dan Barto tidak bersuara. Ini cerita lama, Man.
"Sekolah menginginkan timbal balik yang setimpal dari kalian. Kami mencoba memutarbalikkan mindset bahwa kelas XII bebas dari kompetisi, memaksa kalian untuk kembali membuka buku-buku pelajaran kelas X dan XI."
Kali ini suara para siswa lebih riuh. Sampai-sampai Pak Angkata mengambil sikap antisipasi dengam cara memberi isyarat akan menghakimi siswa yang berani bersuara lantang.
"Selain itu .... , " Pak Adam masih melanjutkan.
"Karena perpisahan kita diadakan bertepatan dengan Bulan Puasa .... ,"
"Maka sekolah memutuskan untuk menambah kategori lomba, yakni lomba menghafal Alquran juz 30."
Seketika suasana menjadi hening. Kali ini para siswa terdiam. Mereka pasti tidak menyangka hal ini. Lomba hafalan Alquran? Ish! Seorang siswa di depanku berbisik pada temannya. Aku dan Barto berpandangan. Ini dia, Man.
"Dan jangan salah sangka, anak-anak. Ini bukan lomba antar kelas .... , tapi ini lomba antar sekolah! Ini akan jadi lomba yang prestisius!"
Seketika suasana kembali riuh. Para siswa saling pandang dan cekikian. Momen mencari teman dan pacar baru!
"Mengambil waktu kurang lebih satu pekan! Dan panitia sudah punya nama yang cocok untuk event ini, yaitu .... , PAKIS! Pekan Islami! Benar begitu, kan, Cahaya Firhani, Sang Ketua Panitia?"
Oh, rupanya Firhani Ketua Panitia! Tampak Firhani mengangguk sopan menjawab pertanyaan kepala sekolah. Senyum manis menghiasi wajahnya. Dan, ah, Firhani selalu terlihat sangat anggun meski dari kejauhan. Aku mencoba berpegangan pada batang pohon ketapang. Kuasai dirimu, Nino. Batinku.
Selanjutnya Pak Adam menyampaikan bahwa pendaftaran akan dimulai pekan depan. Untuk lomba Cepat Tepat, para guru akan menyeleksi siswa yang berprestasi di bidang masing-masing. Untuk hafalan Alquran, akan dilakukan pengetesan bacaan dan kualitas hafalan. Waktunya akan diumumkan secepatnya. Aku tertegun. Aku ingin segera memberi tahu Nandar tentang informasi penting ini.
"Dan anak-anak sekalian .... , "
"Lomba ini bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag Kota .... , "
"Dan kita juga didukung beberapa sponsor resmi .... ,"
"Maka hadiah untuk pemenang masing-masing lomba tidak sedikit. Total lima puluh juta rupiah!"
Sing.
Suasana hening.
"HOOO!!!"
Lalu seketika berubah heboh. Mendadak riuh sana-sini, hampir semua siswa bertepuk tangan. Luar biasa! Baru kali ini sekolah kami mengadakan lomba dengan hadiah sebesar itu! Tangan Pak Angkata sibuk bergerak-gerak mencoba menenangkan keributan. Beberapa siswa tampak berdiskusi memikirkan kemungkinan untuk mengikuti lomba. Aku dan Barto berpandangan. Ini kompetisi sungguhan?
"Selain itu .... ,"
"Khusus lomba hafalan Alquran juz 30 .... , pihak Kemenag sudah menyiapkan hadiah yang istimewa. Tidak hanya berupa piala, sertifikat, uang, tapi juga pemenang lomba akan diberi .... ,"
Diberi apa? Kami bertanya-tanya.
"Pemenangnya akan diberi .... , "
Kami semakin penasaran.
"Diberi .... , "
Apa, sih?
"Pemenangnya akan diberi beasiswa!!"
"HOOOO!!!!"
Suasana semakin riuh. Situasi menjadi tidak terkendali. Tepuk tangan semakin keras. Para siswa sibuk berkomentar sana-sini, suara berdengung di setiap penjuru. Pak Angkata mengepalkan tangan. Aku dan Barto kembali berpandangan. Kenapa jadi rumit seperti ini?
"Kau tahu Nino, setelah dipikir-pikir .... ," Di tengah riuh siswa yang begitu ramai, Barto bersuara.
"Kurasa resolusi besarmu itu tidak akan berjalan dengan mudah .... , "
"Ya .... , "Aku menganggukan kepala. Pernyataan Barto sangat beralasan. Jumlah hadiah tentu berbanding lurus dengan minat peserta lomba. Sepertinya ini akan menjadi kompetisi yang ketat untukku. Aku menelan ludah. Hidup memang kadang tidak adil, jadi biasakanlah, begitu quote keren dari seorang raja yang tinggal di sebuah kota bawah laut (kalian tentu tahu siapa dia). Dan mungkin ini saat yang tepat untuk membiasakan diri.
Di depan sana, Firhani dan beberapa kawannya saling bersalaman. Beberapa siswa datang menyapa Firhani. Mungkin untuk mengucapkan selamat dan dukungan. Wajah Firhani terlihat sangat bahagia. Senyum manis terus menghiasi wajahnya. Aku ikut tersenyum. Barto mendekati telingaku dan berbisik,
"Yah .... , setidaknya .... , ini akan setimpal, kau pasti berpikir seperti itu, kan?" Tanyanya dengan senyum menggoda.
Aku menoleh. Kupandangi Barto sejenak,
"Siapa kau ini? Nandar? Bagaimana bisa kau tahu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[30] Hari Untuk Cahaya
Spiritual[Selesai] "Nandar." "Apa?" "Aku mau jadi penghafal Alquran." "Itu akan sangat sulit." "Aku tahu. Makanya juz 30 saja." "Kenapa tiba-tiba?" "Ceritanya panjang." "Jangan cerita." "Berapa peluangku?" "Estimasi?" "Tiga puluh hari." Ini kisah anak SMA in...
![[30] Hari Untuk Cahaya](https://img.wattpad.com/cover/138854974-64-k100618.jpg)