Kesimpulan pembicaraan kami pagi itu adalah, Nandar bersedia membantuku untuk menghafal Alquran. Dia akan menjadi semacam mentor untukku, dengan tugas utama mengawasi dan mengevaluasi progess hafalanku. Termasuk mengajarkanku metode-metode menghafal yang efektif seperti yang diterapkan di pesantren. Aku sangat setuju. Karena menurut pengakuan Nandar, hafalannya sekarang sudah mencapai 19 juz. Mendengar fakta itu aku semakin optimis.
"Tapi," Ujarnya.
"Semua ini ada syaratnya."
Aku mendesah, "Apa?"
"Kau harus patuh padaku."
Aku mengangguk.
Nandar mengangkat jari telunjuknya, "Kau tidak boleh mengintervensi kebijakan yang kubuat. Kau tidak berhak memprotes metode mengajarku, tidak diperkenankan mengomentari kurikulum pembelajaran yang kurancang, tidak dianjurkan mempertanyakan time schedule yang kususun, tidak boleh mengeluh dengan kondisi yang kadang tidak mengenakkan, dan tidak disarankan bersikap tidak hormat padaku. Karena sekarang aku gurumu. Cobalah untuk menjadi pemuda yang beradab."
"Hanya itu?" Kupikir Nandar akan meminta bayaran atau semacamnya.
"Beradab."
"Baik." Aku kembali mengangguk.
"Kita akan melakukannya setiap hari, dengan estimasi waktu paling lama dua jam." Lanjut Nandar.
"Oh, jam berapa itu?"
"Aku belum selesai bicara. Beradab."
"Baik." Aku kembali mengangguk.
"Dimulai jam 8 pagi, selesai jam 10 kurang 5 menit. Tempat, masjid komplek. Kau siap?"
"Siap." Jawabku cepat.
"Oke. Silahkan diminum susunya."
***
Keesokan harinya aku menuju masjid komplek. Nandar sudah ada di sana lebih dulu, duduk bersandar pada tiang masjid sambil membaca buku--entah buku apa. Begitu melihatku datang, Nandar langsung berdiri dan memberi isyarat agar aku duduk di dekat mimbar. Aku langsung bergerak.
"Oke, kita mulai." Ujar Nandar setelah kami duduk. "Kau siap?"
"Siap." Jawabku sambil tersenyum geli. Sepertinya ini sudah yang ketujuh kalinya Nandar bertanya seperti itu.
Nandar lalu mengucapkan salam, membaca doa dalam bahasa Arab yang tidak kupahami artinya, dan mengucapkan kalimat pembuka seperti yang dilakukan MC di acara-acara pernikahan. Aku menyimak sambil lalu.
"Jadi .... , " Nandar akhirnya masuk ke poin utama.
"Kau akan mulai menghafal juz 30. Sebelumnya, aku akan memberi gambaran umum tentang juz 30 ini."
Aku tidak berkomentar apa-apa.
"Juz 30, atau biasa dikenal dengan sebutan Juz Amma, adalah bagian terakhir dari susunan juz dalam Alquran. Terdiri dari 36 surah, dimulai dari Surah An Naba nomor 78 sampai An Naas nomor 114. Kebanyakan surah dalam juz 30 masuk kategori surah Makkiyah, sedikit yang masuk kategori Madaniyah."
Aku mengangguk seperlunya.
"Selain itu, surah-surah di juz 30 relatif pendek jika dibandingkan dengan surah-surah yang ada di juz lainnya. Jumlah ayat tiap surah pun tidak banyak. Surah dengan jumlah ayat terbanyak adalah Surah An Naziat yaitu 46 ayat, dan surah dengan jumlah ayat tersedikit dan juga merupakan surah terpendek adalah Surah Al Kautsar, yaitu 3 ayat. Sangat cocok untuk pemula seperti kau."
"Bisakah kita melewati bagian ini? Aku tidak sabar untuk menghafal." Aku bersuara.
"Kau tahu mengapa juz 30 disebut Juz Amma?" Nandar malah bertanya balik.
Aku menggeleng.
"Kau tahu defenisi surah Makkiyah dan surah Madaniyah?"
Aku menggeleng.
"Itulah alasan kenapa aku harus menjelaskan semuanya dari awal, Orang Awam."
Aku mengangguk.
Nandar berdecak, "Bukankah sudah kujelaskan syaratnya kemarin? Kau tidak berhak mengintervensiku. Dan .... , harus beradab."
Lagi-lagi aku mengangguk.
"Oke, yang pertama kali akan kita lakukan adalah .... mengetes bacaan Alquran-mu. Aku ingin melihat seberapa baik cara mengajimu. Ini penting untuk meletakkan dasar silabus dan time schedule hafalanmu." Ujar Nandar.
"Oke." Jawabku santai. Aku kan bisa mengaji. Jadi apa sulitnya? Dan seingatku, waktu kecil dulu aku, Nandar dan Barto pernah belajar mengaji di masjid ini. Apa Nandar lupa?
Nandar berdiri dan mengambil satu Alquran dari lemari dekat mimbar, lalu diserahkannya padaku.
"Buka Surah Al Faathihah." Ujarnya.
Aku menerima Alquran itu dan langsung membukanya. Oke, here we go.
"Bismillahirrahmanirrahim .... , " Aku mulai membaca.
"Alhamdu--"
"Eit, eit. Tahan, tahan!" Sela Nandar tiba-tiba.
Kenapa? Aku mengangkat wajah dan langsung memandangi Nandar dengan ekspresi heran.
Nandar geleng-geleng kepala, "Sudah kukatakan, beradab. Dan salah satu adab membaca Alquran adalah membaca ta'awwudz. Lihat An Nahl ayat 98."
"Ta'awwudz? Apa itu?" Dengan polos aku bertanya.
"Itu lho, yang, A'udzu billahi minassyaitanirrajim ... , "
"Oh ... , " Aku mengangguk paham. Kalau itu sih aku tahu.
Lalu kulanjutkan bacaanku. Mudah saja. Tidak sampai dua menit, Surah Al Fatihah sudah selesai kubaca seluruhnya. Ini kan surah yang dibaca setiap hari, dan bahkan aku sudah menghafalkannya. Aku malah berpikir untuk pindah ke halaman selanjutnya, tapi tidak jadi sampai Nandar sendiri yang menyuruhku.
Akhirnya selesai. Kuangkat wajahku untuk melihat bagaimana respon Nandar terhadap bacaanku. Nandar tampak mengusap-ngusap kepalanya dengan cepat. Sepertinya dia frustasi.
"Kau harus tahu, Nino." Ujarnya lambat-lambat.
"Kau membuat masalah ini menjadi semakin rumit."
"Maksudmu?"
Nandar menghela nafas, "Bacaanmu parah. Makhraj hurufnya keliru, panjang pendeknya tidak tepat, dan hukum-hukum tajwid dilanggar. Sangat .... , sangat buruk."
Aku melongo. Separah itukah?
"Jadi ....?" Tanyaku pelan-pelan.
Nandar menataku dengan ekpresi datar."Mau bagaimana lagi. Restorasi besar-besaran. Kita harus memulai semuanya dari awal."
Aku masih melongo.
"Dari titik nol."
KAMU SEDANG MEMBACA
[30] Hari Untuk Cahaya
Spiritual[Selesai] "Nandar." "Apa?" "Aku mau jadi penghafal Alquran." "Itu akan sangat sulit." "Aku tahu. Makanya juz 30 saja." "Kenapa tiba-tiba?" "Ceritanya panjang." "Jangan cerita." "Berapa peluangku?" "Estimasi?" "Tiga puluh hari." Ini kisah anak SMA in...
![[30] Hari Untuk Cahaya](https://img.wattpad.com/cover/138854974-64-k100618.jpg)