Baik & Benar

2.3K 380 49
                                        

Karena aku telah melewatkan masa enam hariku dengan sia-sia, maka Nandar memutuskan untuk menambah frekuensi pertemuan kami.  Waktu belajar juga lebih lama. Pagi hari mulai jam 9 sampai jam 11.30, lalu dilanjutkan selesai shalat Ashar sampai menjelang Maghrib.

“Jangan kabur-kabur lagi.” Nandar mewanti-wanti.

Aku mengangguk.

“Jangan hilang-hilang lagi.”

Apa sih bedanya pergi dengan menghilang?

“Kau membuang masa-masa berharga untuk belajar. Jadi mulai sekarang, siapkan fisik dan mentalmu untuk menerima materi, karena pelajaran akan sangat padat dan berat. Kurangi makan mie instant. Perkuat konsumsi sayur. Sayur kangkung sepertinya cocok untukmu. Dan jangan lupakan ikan. Bagus untuk penghafal Alquran.”

“Kalau siomay?” tanyaku.

“Siomay apa?’ Nandar bertanya balik.

“Siomay ikan.”

“Boleh.“

“Kalau bakso?”

“Bisa.”

"Pentol?"

"Yang penting jangan terlalu sering."

“Pangsit bagaimana?”

“Stop, stop. Ini bukan acara wisata kuliner. Beradab.”

Aku segera menutup mulut.

“Nah ….. , sekarang kita masuk materi Mad. Tapi sebelum itu …. , ada beberapa hal yang ingin kusampaikan. Membaca Alquran itu Nino, harus memenuhi dua kriteria …. ,”

Aku menyimak.

“Yang pertama. Membaca Alquran dengan baik. Yang kedua, membaca Alquran dengan benar. Jadi harus baik dan benar. Dua kriteria ini harus saling bergandengan, tidak boleh terpisah. Benar tapi tidak baik, itu kurang afdhal. Baik tapi tidak benar,  itu tercela. Paham sampai sini?”

“Sebenarnya sih tidak terlalu.” Aku mencoba untuk jujur.

Nandar mengusap-usap dagunya, “Hmmm …. , begini saja. Pertama-tama, akan kuberi tips untuk bisa membaca Alquran secara baik dan benar. Yang pertama, untuk bisa membaca Alquran dengan baik, yang perlu kau lakukan adalah …. , banyak-banyak mendengar, membaca, dan menghafal Alquran. Bahasa sederhananya, praktik. Bahasa islaminya, beramal. Paham?”

“Sedikit.”

“Kuberi satu analogi. Ada kan, orang-orang yang tidak tahu Bahasa Inggris, tahunya Bahasa Pasar saja, tiba-tiba bisa menyanyikan lagu Bahasa Inggris dengan fasihnya? Kenapa bisa seperti itu kira-kira?”

“Banyak berlatih.”

“Terus?”

“Simulasi.”

“Sama saja. Terus?”

“Emm …. , karena terbiasa mendengar lagu itu?”

Nandar tersenyum, “Itu dia. Karena orang-orang sering mendengarnya. Sama halnya Alquran, jika kau terus mendengar ayat-ayatnya, perlahan-lahan kau akan terbiasa dengan lafadzh-lafadzh-nya, lalu semuanya tertanam kuat dalam otakmu. Bahkan bukan tidak mungkin kau bisa menghafalnya dengan baik. Seperti kau menghafal lagu Bahasa Inggris itu.”

Masuk akal. 

"Lazimkan mendengarkan Alquran."

"Oke."

"Downlod murottal sebanyak-banyaknya."

"Apa itu murottal?"

"Bacaan Alquran dalam format mp3."

"Oh, Oke."

“Terus jangan lupa untuk selalu membaca Alquran. Ini masalah pembiasaan saja.  Orang-orang bukannya tidak bisa membaca Alquran, tapi lebih karena jarang membacanya. Dan seperti jalan setapak yang sudah lama tidak dilewati, maka jalan itu perlahan-lahan akan menghilang. Sama halnya dengan kemampuan membaca Alquran, memudar karena tidak pernah diamalkan.”

“Sampai sini aku paham.” Ujarku.

“Bagus. Yang kedua, membaca Alquran dengan benar, karena baik saja belum cukup. Betapa banyak manusia yang mampu mengaji dengan suara yang merdu, mendayu-dayu, tapi setelah dicek tajwid-nya, ternyata hancur bukan main. Jadi untuk bisa membaca Alquran dengan benar …. , maka kau harus belajar kaidah-kaidah dan aturan dalam membaca Alquran. Tajwid dan yang lainnya. Seperti sekarang ini. Bahasa ilmiahnya, teori. Bahasa islami-nya, berilmu.”

Aku mengangguk.

“Jadi alurnya jelas, belajar teori dulu, lalu dipraktikkan. Berilmu baru beramal. Itulah Islam. Baik dan benar. Berilmu tapi tidak beramal, kau akan dimurkai Allah, mirip-mirip orang Yahudi. Beramal tanpa ilmu, kau akan sesat, seperti orang Nasrani. Menakutkan, bukan?”

Aku kembali  mengangguk.

“Jadi tidak ada alasan untuk melewati bagian ini, kau harus mengilmui bacaanmu, lalu rajin-rajinlah beramal.”

“Siap.”

Nandar terlihat berpikir, “Dua hari lagi kita masuk Bulan Ramadhan. Dan aku bermaksud mempermudah urusanmu. Rencananya saat imam shalat tarawih nanti, aku akan memilih juz 30 sebagai bacaan utamaku. Setiap malam. Berurutan, dari An Naba sampai An Naas. Terus berulang-ulang seperti itu. Kau harus menyimaknya dengan baik, membiasakannya di telingamu, sehingga saat menghafal nanti, kau tidak akan mengalami banyak kesulitan, karena sudah terbiasa. Kau siap?’

Aku mengangguk antusias, “Siap!”

“Tapi,” Nandar melanjutkan, “Ada satu masalah.”

“Oh, apa itu?” tanyaku penasaran.

“Jangan sampai kau sendiri malas datang Shalat Tarawih.” Ujar Nandar sambil terkikik geli.

Hei!

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang