Berimprovisasi

2.3K 373 20
                                        

Sorenya, aku bertemu Nandar dan langsung bercerita tentang lomba beserta hadiah besar berupa beasiswa yang sangat menjanjikan itu. Tapi bukan Nandar namanya kalau dia bersedia mendengar ceritaku dengan baik.

"Yang seperti itu tidak terlalu penting. Lebih baik fokus pada proses belajar mengajimu." Kata Nandar.

Aduh, yang seperti ini dibilang tidak penting? Maksudku, bukankah harus ada persiapan khusus untuk menghadapi iklim persaingan yang sekarang berubah drastis menjadi ketat? Memetakan kekuatan lawan yang akan dihadapi nanti? Perubahan jadwal besar-besaran untuk memaksimalkan sesi menghafal saja? Membaca peluang dan ancaman atau semacamnya.

Tapi semua itu tidak kuucapkan. Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Nandar.

"Sekarang, setor hafalan daftar surahmu."

"Oke. Hud, Yusuf, Ar-Ra'd, Ibrahim, Al Hijr, An Nahl, Al Isra, Al Kahfi, Maryam, Taha." Jawabku.

"Nomor sembilan belas?"

"Maryam."

"Nomor sebelas?"

"Hud."

"Tiga belas?"

"Ar'Rad."

"Artinya?"

"Kau tidak menyuruhku menghafal artinya."

"Kau sudah dewasa, Nino. Cobalah untuk berimprovisasi."

"Oke. Tapi aku belum menghafal artinya sekarang. Izinkan aku kembali membuka Alquran."

"Oke. Sekalian dengan yang kemarin. Waktu sepuluh menit."

Aku lalu membuka Alquran, berusaha menghafal semua nama-nama surah dalam bahasa Indonesia. Sepuluh menit kemudian, Nandar menanyaiku.

"An-Nisaa?"

"Wanita."

"An Nahl?"

"Em .... , Lebah."

"Ibrahim?"

"Sama. Ibrahim juga."

"Al Anfal?"

"Harta, harta rampasan perang."

"Taha?"

"Taha."

"Tidak buruk. Sekarang kita lanjutkan belajar mengajimu."

"Oke."

Nandar mulai menulis huruf-huruf hijaiyyah baru di papan tulis. Aku mengamati huruf itu satu per satu. Ada delapan huruf hijaiyyah yang ditulis Nandar.

"Ini dia. Da, dza, ro, za, sa, sya, sho dan dho." Ujar Nandar.

"Kita mulai menyebut huruf da. Sama dengan ja, huruf ini bersifat qalqalah. Qalqalah adalah huruf-huruf yang apabila sukun maka harus dipantul. Akan ada sesi untuk mempraktikkan penyebutan huruf-huruf qalqalah itu."

"Oke."

"Coba sebut, da. Lepas saja."

Aku lalu mencoba menyebut huruf itu. Setelah dianggap layak, Nandar berpindah ke huruf selanjutnya. Dia mencontohkan dan aku mengikutinya. Begitu terus sampai huruf terakhir. Tidak terasa hampir dua jam berlalu. Menjelang akhir pelajaran, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam masjid dan berjalan mendekatiku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh. Orang itu ternyata Barto.

Barto tidak bersuara, hanya tersenyum dan memberi isyarat agar aku kembali fokus pada proses belajarku.

Tidak lama kemudian, waktu belajarku usai. Aku dan Nandar saling bersalaman. Setelah membereskan papan tulis, aku bertanya pada Barto.

"Mau belajar juga, ya?"

Barto mengangguk masih sambil tersenyum.

"Setelah aku?"

"Iya. Aku juga mau persiapan."

Persiapan?

"Jangan-jangan kamu mau ikut lomba menghafal itu juga?" Tanyaku dengan nada penuh selidik. Pertanyaanku ini sangat beralasan. Barto tipe orang yang menyukai tantangan. Bisa saja, kan dia tiba-tiba tertarik untuk ikut lomba karena hadiah beasiswa itu?

Melihat wajahku yang menunjukkan ekspresi curiga, Barto terkikik geli. Ditunjukinya Nandar. Aku menoleh.

"Tenang saja. Dia ke sini murni untuk belajar mengaji. Lomba itu akan jadi milikmu sendiri. Barto akan beraksi di ranah yang berbeda." Nandar bersuara.

Aku melongo. "Beraksi di ranah yang berbeda? Maksudnya?"

"Ya tanya Barto sendiri, deh."

Aku menoleh ke arah Barto. Masih sambil tersenyum, dia kemudian berbisik padaku,

"Aku akan ikut lomba Cepat Tepat."

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang