Chapter 10: Pindah?

115 10 3
                                    

"Ketika kita diharuskan untuk menunggu. Apa hati dan otakmu mampu untuk tidak berselisih?"
-A&J-

Ketika mendengar berita yang menyakitkan dari Mama. Aurel terlihat tidak bersemangat. Kakaknya berusaha menjelaskan bahwa kabar tersebut belum tentu benar. Tapi Aurel tetap pada pendiriannya.

   Sambil mendengarkan lagu favorite-nya. Aurel mengirim pesan pada Jeremy.

Aurel: Gue punya info penting.

   Aurel menunggu balasan dari Jeremy. Membiarkan handphone-nya tetap berada dalam private chat-nya dengan Jeremy.

   Aurel hanya ingin membahasnya lebih cepat daripada membuatnya harus menunggu.

   Ting!

   Jeremy sudah membalas pesannya.

Jeremy: Apa?

Aurel: Gue bakalan pindah

Jeremy: Eh, serius lo?
Jeremy: Pindah kemana? Kenapa pindah?

Aurel: Gue juga nggak tahu kenapa bakalan pindah
Aurel: Yang pasti gue bakalan pindah ke luar kota

Jeremy: Terus lo nggak bakalan balik ke sini lagi dong?

Aurel: Tenang aja gue masih di Indonesia kok
Aurel: Gue bakalan balik 2 tahun lagi

Jeremy: 2 tahun lo disana?

Aurel: Kata mama sih gitu

Jeremy: Berarti gue harus nunggu lo 2 tahun lagi dong
Jeremy: Lama banget sih.

   Sejenak Aurel tertawa membaca pesan Jeremy. Aurel merasa lupa pada sesuatu yang penting karena Jeremy. Jeremy selalu bisa membuatnya lupa pada apapun.

Aurel: Yaudah, nggak usah nungguin gue
Aurel: Menunggu itu melelahkan

Jeremy: Itu lo tahu
Jeremy: Makanya jangan buat gue untuk menunggu
Jeremy: 2 tahun bukan waktu yang cepat

   Aurel tersenyum.

Aurel: Iya, maaf.
Aurel: Tapi semoga aja nggak jadi pindah

Jeremy: Bentar. Gue mau nanya papa dulu

   Aurel mengernyit bingung. Untuk apa Jeremy bertanya pada papanya? Apa Jeremy sedang berusaha untuk berhenti chatting dengannya? Atau Aurel terlalu baper dengan kata-kata manis Jeremy?

   Tak berselang lama, handphone Aurel kembali berdering.

Jeremy: Liburan kenaikan kelas, gue bakalan ke Bali

   Aurel melotot kaget. Ia tersenyum lebar.

Aurel: Loh? Serius?

Jeremy: Iya

Aurel: Gue bakalan pindah kesana pas liburan kenaikan kelas

Jeremy: Bagus kalau gitu
Jeremy: Kita bakalan ketemuan disana terus liburan bareng
Jeremy: Sekalian lo temanin gue buat selancar di pantai

   "Gue kan nggak bisa berenang," ucap Aurel bergumam pelan.

Aurel: Gue nggak bisa berenang, gue nggak bisa selancar juga

Jeremy: Udah tenang aja kan ada gue
Jeremy: Tapi, beneran ya kita bakalan liburan bareng?

Aurel: Iya, bareng keluarga kan?

Jeremy: Berdua doang

   Aurel terkejut membacanya.

   Berdua dengan Jeremy? Liburan bersama? Menghabiskan waktu bersama? Apa benar Jeremy mau menghabiskan waktu bersamanya?

   Entah ini hanya sekedar perkataan Jeremy yang mengatakan tanpa berpikir dahulu atau Jeremy benar-benar ingin liburan dengan Aurel? Jika benar begitu tolong beritahu Aurel agar ia bisa tahu apa maksud dari perkataan Jeremy.

Aurel: Terserah lo aja deh, gue udah ngantuk nih

Jeremy: Eh, iya udah waktunya lo tidur

Aurel: Hehe, iya

Jeremy: Yaudah, cepat tidur jangan kebanyakan main hp terus lupa caranya tidur hahaha
Jeremy: Selamat malam, Aurel

Aurel: Selamat malam, Jeremy

   Aurel menghembuskan nafasnya begitu selesai membalas pesan Jeremy. Ia menyimpan handphone-nya dan masuk ke dalam kamarnya. Aurel benar-benar mengantuk.

   Setelah berbaring di tempat tidur, Aurel menatap langit-langit kamarnya dan pikirannya kembali mengingat perkataan Mamanya.

   "Kenaikan kelas nanti kita semua bakalan pindah ke Bali. Ikut papa disana,"

   Aurel memejamkan matanya.

   Ngapain harus pindah sih? Kenapa nggak tetap stay disini aja? Semua orang yang Aurel sayang ada di sini. Ada di tempat ini. Ada di Kota ini. Batin Aurel.

   Matanya kembali terbuka dan tanpa sadar air matanya mengalir. Ia menangis. Tapi tidak mengeluarkan suara.

   Aurel menangis dalam diam.

   Di kesunyian malam dan hanya dirinya seorang diri di dalam kamar. Aurel butuh seseorang untuk menyemangatinya.

   Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Aldi. Ia kembali mengingat perkataan Aldi padanya yang memintanya untuk tetap menjadi diri sendiri walau sudah beranjak dewasa.

   Entah apa maksud dari perkataan Aldi, tapi ia merasa bahwa Aldi tidak ingin dirinya berubah. Selain itu, Aldi juga tidak ingin jika dirinya meninggalkan Aldi. Sahabat kecil dan saingannya sendiri.

   "Tetap jadi diri sendiri ya, Aurel? Jangan lupain gue sama yang lain disini. Lagian first love lo kan ada disini. Gue cuman nggak mau lo sedih.Tetap bahagia, walaupun kita bakalan jarang ketemu,"

   "Apa maksud lo Al? Gue bingung," ucap Aurel lirih.

   Matanya kembali terpejam dan air matanya kembali mengalir dengan deras.

   Kali ini suara tangisnya terdengar. Kedua tangannya menutup wajahnya yang terlihat berantakan.

   Aurel benar-benar sedih sekarang.

   Gue harap lo nggak bakalan lupain gue.

Aurel & Jeremy ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang