9.) Rasa Sakit

1.5K 120 33
                                        

Di lapangan basket sudah berdiri tim Mungga dan tim Amri. Mereka sudah siap untuk bertanding. Pertandingan basket ini bertepatan dengan ulang tahun sekolah. Jadi, pertandingan ini bisa menjadi salah satu acara untuk mengisi ulang tahun sekolah.

Nk dengan senyumannya berdiri di bagian paling depan. Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Mungga. Pertandingan dimulai dan semua penonton mulai bersorak meneriaki tim pilihannya.

"(Nam), lo dukung tim siapa? Dua duanya bagus nih soalnya." Namira yang berada di sebelah Nk mulai heboh sendiri.

"Gue dukung tim yang menang." Nk menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan.

"Wanjay." Namira kesal sendiri saat mendengar jawaban Nk.

"Diat! Semangat! Lo pasti bisa!" Nk menutup telinganya ketika mendengar Diva yang berdiri di belakangnya berteriak dengan sangat keras.

"Si anying, teriakan lo keras banget. Ati ati pita suara lo rusak." Rara menggerutu kesal.

"Gak papa, yang penting yayang Diat semangat."

"Yayang?" Ketiga sahabat Nk terlonjak kaget.

"Gak usah kaget gitu kali."

"Lo jadian kapan Div, kok gak bilang bilang. Parah lo ah." Rara bergeleng kepala.

"Jadian baru kemaren juga. Lagian nih, gue ngomong ke lo pada juga kan unfaedah."

"Unfaedah jidat lo! Berfaedah buat kami lah. Kan lumyan dapet PJ. Bisa makan gratis di kantin." Nk menaik turunkan alisnya.

"Dasar penikmat makanan gratis!"

"Sok lo Div, kayak kagak pernah makan gratis aja. Lo juga paling semangat kalau denger makannya dibayarin." Sindir Namira.

Diva hanya cengengesan tidak jelas. Ucapan Namira tadi jelaslah sebuah fakta.

"Iya deh iya, nanti minta ke Diat aja. Jangan ke gue, gue kan cewek."

"Nah, itu baru sahabat. Nanti selesai basket langsung ke Diat minta PJ." Namira tersenyum lebar.

Mereka kembali fokus dengan pertandingan. Nk memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan Mungga. Tepuk tangan keras dilakukan Nk saat Mungga dapat memasukan bola ke ring dengan memukau.

"Lo emang hebat Mung." Nk berkata dalam hati dengan senyuman yang terbit di bibirnya.

Pertandingan selesai dengan tim Mungga yang menang.

"Cepetan ke bawah girls." Namira berkata dengan kegirangannya.

Nk berhenti mendekati Mungga dan tim-nya saat Ara mengelap keringat yang menempel di sekitar wajah Mungga.

Nk memandang kedua insan tersebut dengan perasaan kesal.

"(Nam)! Sini! Malah jadi patung disitu." Teriakan Rara membuat Nk langsung berjalan ke tim Mungga.

"Congrats." Nk tersenyum ke arah Mungga.

"Iya." Hanya satu kata itu yang terucap. Bahkan Mungga mengatakan itu datar dan langsung mengalihkan pandangannya dari Nk setelah mengucapkan.

Nk tersenyum kecut dengan sikap Mungga. Rasanya seperti ada sebilah pisau yang menancap indah dihatinya. Rasanya sangat sakit. Mungga sungguh berbeda dari biasanya.

Nk membuang nafasnya kasar lalu beralih pada Diat. Tujuannya meminta PJ harus tercapai.

"Yat, PJ!" Nk tersenyum bahagia.

"Tenang, gue udah siapin uang PJ kok. Gue tau kalian bakal minta PJ ke gue."

"Mantaps Jiwah." Namira mengacungkan jempolnya ke arah Diat.

Complicated✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang