Selamat membaca🤗
Like dan komennya yaa❤❤
Suasana kantin hari ini cukup ramai, banyak yang sedang mengantre membeli jajanan yang antriannya mengalahkan antri sembako, ada yang mengobrol bersama, sampai saking rajinnya ada juga yang sedang mengerjakan tugas bersama di kantin.
Ketika Aldo memasuki kantin, sepasang mata langsung menoleh ke arahnya. Menatap bingung. Dibelakangnya ada Livia, Irren, Rezla, Debby, Nilla dan Arrel. Sekarang mereka semua berteman. Sepasang mata menatapnya karena mungkin banyak yang bertanya, kenapa Livia bisa berteman dengan Irren? Padahal dulu, dirinya sangat benci dengan Irren.
"Iya, gue tau sebagian besar pertanyaan dari kalian semua. Sekarang gue sama dia berteman. Ya gak Ren?" Livia merangkul pundak Irren. Irren dengan senang hati mengangguk. Ia tidak tau ada apa dibalik sikap baiknya Livia selama ini.
Aldo jalan menuju kursi panjang di kantin yang sudah dipesan olehnya sebelum istirahat tadi, makanya tidak ada satu orang pun yang berani mendekati kursi itu.
"Kalian, gue traktir!" ucap Aldo setelah menggebrak meja yang membuat siswa lain terkejut.
Lalu Aldo berjalan menuju pedagang.
Arrel selalu merasa curiga terhadap sikap Aldo. Tapi tidak dengan Irren, Nilla dan Debby. Mereka biasa saja, seakan Aldo benar-benar teman yang baik bagi mereka.
Arrel berdeham lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Irren, "gue curiga."
Irren tidak mengerti apa yang Arrel katakan. Sama sekali tidak mengerti.
"Maksud?" Irren membalasnya dengan suara yang sangat pelan sehingga tidak terdengar siapapun.
"Gue curiga sama sikap Aldo dan Livia akhir-akhir ini."
Irren mengernyitkan dahinya, "jangan asal curiga, kalau emang dia pengen berteman sama kita, kenapa enggak? Kan semakin banyak kita punya teman, semakin asik hidup kita."
Arrel diam mendengarkan Irren.
"Lo kalau dapat teman yang mulanya adalah musuh kita, jangan suka menaruh curiga. Bisa aja memang mereka pengen tobat dan menambah teman, makadari itu mereka pengen berteman sama kita. Buang jauh-jauh deh rasa curiga lo itu lah."
Arrel mengangguk anggukan kepalanya. Tak lama kemudian Aldo datang sambil membawa beberapa mangkok berisi bakso.
°•°•°•°•°•°•°
"Anak-anak, besok kita akan mengadakan study tour ke Bali selama seminggu." ucap Bu Trie di depan murid-murid.
"Seminggu? Ngapain aja disana?"
"Seminggu ya, jangan sampai kita cuma disuruh diam di dalam bis sampai seminggu."
"Asikk, seminggu."
Pro dan kontra bermunculan, ada yang setuju dan ada yg tidak setuju. Baik Rezla maupun Irren, mereka hanya diam mnedengarkannya.
"Sssttt! Bisa diam gak sih!" ucap Ferly, teman Irren yang paling galak di kelas, sambil menggebrak meja.
Dalam beberapa detik, suasana langsung sepi berkat Ferly.
Bu Trie tersenyum puas kepada Ferly, "nah kita berangkat kurang lebih lima hari lagi, ibu berharap kalian bisa mencicil barang-barang apa saja yang perlu kalian bawa di hari H sebelum keberangkatan. Kita gak naik bis, kita akan naik pesawat.
"Ibu mohon, bagi yang suka mabok karena naik kendaraan di udara ini, tolong bawa plastik. Meski di dalam pesawat sudah ada tempat bagi yang mau mabok, kita juga harus nyiapin pastik sendiri."

KAMU SEDANG MEMBACA
Coldgirl And Badboy [Completed]
Teen FictionAirren Syakilla Febiola Alfero, Irren, cewek yang terkenal dengan tatapan tajamnya kepada setiap warga sekolah, dia juga jago ilmu bela diri, Taekwondo. Hidupnya sangat beruntung ketika akhirnya ia mempunyai dua teman yang ingin sekali berteman deng...