• Chapter Dua Puluh Delapan

1.5K 55 8
                                    

Selamat membaca🤗

Like dan komennya yaa❤

Irren dibangunkan oleh sebuah alarm pukul lima pagi, suasana masih tenang. Ia berjalan menuju balkon untuk menghisap udara pagi terakhir di Indonesia.

Sebuah nada dering telepon membuatnya masuk sebentar menuju kamar lalu menuju balkon lagi.

"Halo," jawab Irren.

"Lo udah siap-siap?" tanya si penelpon, Rezla.

"Udah Rez, oiya gue mau bilang sesuatu. Papa gak ngijinin gue kuliah di Jepang,"

"Lo bilang kalau gue mau kuliah di sana?"

"Enggak, jadi Papa bilang gue boleh kuliah di luar negeri asalkan gak di Jepang dan Las Vegas,"

"Berarti nanti kita LDR dong?"

"Gak harus pas gue beda kampus sama lo. Besok kita juga LDR kan, kita coba LDR dari besok."

"Semoga gue siap, karena gue gak liat muka lo pas sekolah."

"Heh dasar pacar sialan," Irren tertawa.

"Sialan tapi gini-gini sayang kan," di kejauhan, Rezla mengangkat alisnya berulang kali.

"Jam sembilan besok ke bandara ya,"

"Oke, sekalian ngebahas soal pernikahan sama calon mertua."

"Apaan sih, kita masih muda tau. Kuliah aja belum, udah ngebet banget nikah." pipi Irren bersemu-semu.

"Yaudah, sana rapi-rapi. Gue mau tidur lagi, tadi kebangun. Bye."

"Ini udah pagi malah dia mau tidur lagi, dasar cowok anek," celoteh Irren.

Suasana pagi di Indonesia dan pagi di Spanyol, pasti berbeda. Ia pasti akan rindu dengan dunia tropis ini.

Irren menutup pintu balkon, lalu ia menuju dapur untuk mengambil minum. Ia kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan menepuk pundaknya, untung saja gelas yang ada dalam genggamannya tidak terjatuh.

"Sebelum lo pergi, gue minta saran apa yang harus gue lakuin untuk kedepannya masalah hubungan gue dan Nilla," kata Arrel.

"Kan gue udah pernah bilang, Nilla sukanya itu hal-hal yang gak pernah kepikiran sama dia sebelumnya. Jadi gue harap, pas dia ulang tahu, lo ngasih dia kejutan yang menurut dia itu wah banget gitu. Jadi rencana lo itu gak sia-sia."

"Tapi gue kurang yakin sama kejutan itu,"

"Yaudah itu sih terserah lo, udah ah gue mau mandi terus siap-siap." Irren meninggalkan Arrel yang sendirian.

°•°•°•°•°•°•°

Rezla melihat jamnya berkali-kali, pukul setengah sembilan. Memang sih masih satu setengah jam lagi, tapi kan yang mau berangkat Irren bukan Rezla.

Akhirnya yang ditunggu datang juga.

"Rezla udah dari tadi?" tanya Raka.

Rezla menyalimi Raka dan Maura, "lumayan lah Om," Rezla menggaruk tengkuk kepalanya.

"Duh maaf ya, tadi Irrennya nih sibuk nyari pasportnya," ujar Maura.

"Gak apa-apa kok Tan," Rezla tersenyum.

Pandanganya kini beralih kepada seorang perempuan dengan koper warna cokelat di tangannya, perempuan yang sangat cantik.

Irren mendekat lalu memeluk Rezla, "jangan macem-macem di sekolah, jaga diri lo di sini."

Coldgirl And Badboy [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang