• Chapter Dua

4.6K 186 1
                                    

Selamat membaca🤗

Like dan komennya yaa❤

JEDER!!! JEDER!!! DUAR!!!

Petir terus bersahut-sahutan di luar sana, meskipun Irren bersifat dingin dan suka marah-marah, ia tetap saja takut dengan petir dan kilat. Menurutnya, tak peduli berapa umurnya, pasti takut akan kedua hal itu.

Hujan cukup deras mengguyur rumahnya sore ini, sore yang seharusnya Irren gunakan untuk menonton serial televisi kesukaannya, tetapi lebih baik ia mengurung diri di dalam kamar dengan suhu AC di naikkan.

Irren meringkukan badannya di dalam selimut seraya menyetel lagu favoritnya, Wolves dari Selena Gomez ft Marsmellow.

Saat sedang asyik-asiknya mendengarkan bagian reff, terdengar ketukan pintu.

"Suk."

Orang itu lalu membuka pintu lalu duduk di hadapan Irren yang sedang menatapnya sambil tiduran.

Lalu Irren mematikan lagunya.

"Kata Arrel, kamu berubah, katanya kamu lebih suka diam daripada berbicara" orang itu adalah Mamanya, ia lebih terbuka dengan Mamanya itu mungkin semenjak hal itu terjadi.

Cepu lo, Rel.

"Biasa aja kok Ma," Irren mencoba tersenyum dihadapan Mamanya itu.

"Ok yaudah, oiya kamu ke bawah ya, kita nge-teh bareng."

Setelah Mamanya turun, lima menit kemudian setelah ia selesai mendengarkan beberapa lagu, ia ke bawah.

"Tumben mau diajak kebawah, biasanya harus diseret dulu," celetuk Raka setelah melihat anak gadisnya itu turun.

"Kalau sama Mama pasti maulah, kalau sama Arrel mungkin enggak akan mau, apalagi sama Arish, makin ogah kali dia" balas Maura seraya menuangkan teh dari teko ke gelas dan ia berikan kepada Irren.

"Thanks, Ma" balas Irren dengan wajah datar.

Maura tersenyum.

Kini Maura dan Raka duduk di hadapan ketiga buah hati mereka dengan posisi Irren ditengah, dan sebelah kanannya ada Arrel dan sebelah kirinya ada Arish.

"Ra, Papa mau nanya, cowok yang waktu SMP sering datang ke rumah itu kok mulai gak kelihatan ya?"

Jleb. Rasanya Irren ingin buru-buru pergi dari kenyataan pahit selama ini, yang sengaja ia tutupi.

Sebenarnya Irren tau, tapi, Irren hanya susah bercerita kepada kedua orang tuanya.

Irren hanya bisa mengedikkan bahunya.

Irren mulai melamun, membayangkan hal tragis pernah terjadi disaat itu. Disaat dirinya kelas delapan SMP dan ia berubah menjadi pribadi yang dingin mungkin karena hal itu.

"Papa berharap saat SMA nanti dia bakalan satu sekolah lagi sama kamu, Ra, tapi nyatanya dia jarang main kesini, dia gak satu sekolah sama kamu lagi ya, Ra?"

Lagi-lagi ia harus berbohong dengan pertanyaan yang Papanya lemparkan itu.

Suara gemericik hujan sangat menenangkan suasana saat ini, tidak dengan Irren. Suasana hati Irren mulai kacau semenjak Papanya menanyakan hal itu.

"Aku jarang liat, Pa"

"Berarti dia pindah sekolah dong ya?"

"Maybe."

Suasana seketika hening, hanya suara petir yang terdengar sangat nyaring.

"Yang mana sih, Pa, anaknya? Kok Mama lupa," tanya Maura kepada Raka.

Coldgirl And Badboy [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang