Acara syukuran putri kedua Frieska dan Naoki berjalan lancar. Kebahagiaan seharusnya menyelimuti keluarga Prasetya. Akan tetapi, kabar buruk tentang Veranda kecelakaan membuat mereka turut bersedih. Mereka tetap malanjutkan acara meski tanpa kehadiran Viny dan keluarganya.
Cindy Hapsari Prasetya.
Itulah nama yang di berikan Naoki untuk putri keduanya. Setelah sebelumnya mereka sempat bertengkar karna suatu kesalahpahaman, sampai akhirnya mereka kembali bersama karna akan hadirnya malaikat kecil di tengah keluarganya.
Frieska duduk di sofa sambil menggendong Cindy. Di sebelahnya ada Gracia yang duduk sambil melamun. Sesekali Frieska mengusap lembut pipi mungil Cindy. Frieska menoleh ke arah Gracia, ia menyetuh pelan tangan gracia, membuat gracia menoleh ke arahnya.
"Kenapa Gre?" tanya Frieska.
Gracia menghela nafas lalu menggelengkan kepala.
"Kakaknya Kak Viny baik-baik aja kan Mi?" tanya Gracia.
Kini Frieska mengerti apa yang sedang di pikirkan putrinya itu.
"Mami belum tau Gre." jawab Frieska.
"Pasti Kak Viny sedih banget." ucap Gracia lirih.
"Habis ini Mami sama Papi mau nengokin ke rumah sakit. Kamu di rumah aja ya sama Cindy, kasian adek kalo di ajak ke rumah sakit." ucap Frieska.
Gracia mengangguk, walaupun sebenarnya ia juga ingin ikut ke rumah sakit.
Frieska dan Naoki berangkat ke rumah sakit setelah sebelumnya mereka menitipkan Cindy bersama Gracia pada asisten rumah tangganya. Lalu lintas tidak begitu padat, sehingga mereka bisa cepat sampai rumah sakit.
..........
"Kak Ve, ini Shania Kak. Kakak bisa lihat aku kan?" ucap Shania.
Veranda menoleh ke arah kiri. Tentu itu bukan arah dimana Shania berada.
"Dek, kenapa gelap?" ucap Veranda dengan tangan ia gunakan untuk meraba.
"Gelap Dek, Kakak gak bisa lihat kamu." ucap Veranda terdengar panik.
"Mata aku kenapa. Kenapa semuanya gelap." Veranda sesekali mengusap kasar kedua matanya.
Shania yang melihat itu langsung menahan tangan sang Kakak.
"Kakak tenang Kak, biar Shania panggilin Dokter." ucap Shania berusaha menenangkan Kakaknya. Namun Veranda malah sedikit memberontak, ia terus mengucek kedua matanya.
"Mata aku gelap, aku gak bisa lihat apa-apa. Kenapa sama mata aku." ucap Veranda, suaranya terdengar bergetar. Ia tampak shock saat tadi membuka mata yang ia lihat hanya gelap.
Pintu kamar rawat Veranda terbuka, Melody terkejut saat melihat Veranda sudah sadar. Yang lebih membuatnya terkejut adalah Veranda terlihat memberontak dengan Shania yang berusaha menahannya.
"Veranda!" ucap Melody. Ia langsung berjalan cepat mendekati bangsal Veranda.
"Sayang, tenang nak. Shania, tolong panggilin Dokter." ucap Melody.
Shania mengangguk lalu keluar dari kamar rawat Veranda.
Veranda menoleh ke arah Melody, tapi tatapannya tidak tepat di wajah Melody.
"Mama.,"
"Iya sayang, ini Mama. Kamu kenapa?" tanya Melody sambil menggenggam erat tangan Veranda.
"Gelap Ma. Aku gak bisa lihat Mama." ucap Veranda sambil menangis.
Tak lama Dokter Sinka datang dengan dua perawat.
"Biar saya periksa dulu ya." ucap Dokter Sinka.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARNA KITA SAUDARA
Fiksi PenggemarTentang lika-liku kehidupan sebuah keluarga. Tentang berartinya keberadaan seseorang. Dan tentang sakitnya arti kehilangan., . . . . .
