Panas

1.4K 80 22
                                        

Amran bekerja dengan hati agak panas di sisa harinya itu. Ia membuat para staffnya tidak ada yang mau menganggu dirinya.

"Bim.. kenapa ini penempatan kertas glossy ini tidak rapi? Apa tidak ada yang memperhatikan perlengkapan untuk photo di sini?" cetus Amran yang rada berang lantaran agak berantakan.

"Hmm.. maaf atuh akang, aku tadi menarik kertas itu agak ceroboh.." balas Bimo kalem. Ia tahu sang bos lagi ada sedikit masalah.

"Kalau begitu di rapikan lagi sana.." lanjut Amran dengan napas tersengal. Ia langsung keluar studio untuk mencari udara segar setelah urusannya kelar dengan segala macam photo para model dan yang lainnya. Ia jadi agak muak melihat para wanita cantik di photo itu.

Bimo geleng-geleng kepala. Ia tidak tahu kenapa bosnya gerah. Ia berharap si bos baik-baik saja.

Amran menghirup udara sore di samping studio dengan pelan. Ia tidak merokok jadi pingin merokok lantaran hatinya gelisah. Tapi, ia menahan dirinya untuk tidak mengotori tubuhnya dengan zat yang akan membawa dampak buruk ke depannya. Ia sih tidak menjudge orang yang merokok, hanya saja sayang uangnya di buang untuk jadi asap saja. Ia lebih baik menyisihkan uangnya untuk rencana ke depan, seperti membeli rumah ataupun tabungan jangka panjang.

Amran mengingat kembali ucapan ayahnya Kamelia yang berhubungan dengan pergaulan berlebihan. Apa pak Sahid dulu bergaul agak berlebihan? batin Amran agak bingung. Kenapa lelaki tua itu penuh misteri.

Amran mendengus keras seolah ia menanggung bebab berat untuk mendekati Kamelia. Bagaimana ia harus menjelaskan pada ibunya nanti perihal hubungan jarak jauh ini. Antara Jakarta dan Bogor juga terhalang oleh status kekayaan dan seorang ayah pikir Amran runyam.

Dengan langkah gotai, Amran masuk ke studio untuk istirahat. Ia juga mau minta maaf pada para staff karena bersikap agak mengerikan hari ini.

Di tempat kursus Kamelia pun terjadi hal yang setidaknya mirip dengan apa yang di rasakan Amran. 

Kamelia terlihat gelisah di sepanjang sisa harinya. Ia kepikiran terus dengan raut wajah Amran yang marah bercampur sedih lantaran ucapan ayahnya yang tersirat itu.

Ia merasa ayahnya menyembunyikan sesuatu karena waktu ayahnya menatap Amran seolah kesakitan ataupun rindu. Ia sangat tahu ayahnya tidak mempunyai anak lelaki. Apa ayahnya mengharapkan anak lelaki dulunya? atau ada sesuatu yang terjadi di masa lalu?

Kamelia berpikir kalau kehidupan rumah tangga ayah dan ibunya sangat rukun. Tidak pernah terdengar perdebatan besar ataupun yang lainnya. Mereka mempunyai dua rumah, satu di Jakarta yang sering di inap oleh ayah dan dirinya dan satu lagi di Bogor. Di Bogor itu rumah ibunya yang di belikan ayahnya sewaktu mereka baru menikah. Rumah itu di jadikan tempat untuk refreshing jika di Jakarta suntuk dan terlalu ramai. Rumah yang di Bogor sekarang di wariskan kepada dirinya.

Rumah itu di jaga oleh ibunya Rere. Rumahnya cukup besar dengan empat kamar tidur di atas dan dua kamar tidur tamu di bawah. Ada satu bangunan yang khusus di peruntukkan bagi ibunya Rere menginap. Tapi, ibunya Rere tetap memasak di dalam rumah utama jika mau makan.

Kamelia mendesah keras. Ia ingin kembali ke Bogor sore ini, tapi bagaimana nanti kalau ayahnya mencari ya batinnya resah. Mau mengajak Rere, wanita itu lagi ujian di kampusnya pikirnya tambah gelisah. Ia ingin melihat lelaki yang sudah sangat menempel di hatinya itu. Well, ia rindu padahal baru melihat tadi siang.

Kamelia mengirimkan pesan pada ayahnya kalau ia akan ke Bogor sore ini sekarang juga, ia mengatakan melalui pesannya ada urusan dengan pihak periklanan. Kamelia tidak secara spesifik memberitahukan kalau ia ingin menemui lelaki si photograper. Bisa kena cincang ayahnya habis-habisan kalau ia berkata seperti itu.

CINTA SANG PHOTOGRAPHER {Geng Rempong : 9}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang