Kamelia bangun dengan segar. Ia mengeliatkan tubuhnya dan langsung menerima telepon dari ayahnya. Bunyi handphonenya berdering dengan nada spesial untuk sang ayah.
"Iya ayah..?" jawab Kamelia dengan suara serak.
"Kamu di mana nak..?" suara ayahnya terdengar khawatir.
"Di rumah Bogor.. " balas Kamelia tenang.
Ayahnya Kamelia tidak menjawab. Hanya terdengar deru napas di handphonenya Kamelia.
"Ayah.. ada apa..?" tanya Kamelia yang kali ini khawatir.
"Jangan lama-lama di Bogor Melia.. Ayahnya tidak suka kamu di sana.. " ucap ayah Kamelia dengan nada kesal.
Kamelia jadi bingung. Kenapa ayahnya bersikap aneh seperti ini. Biasanya ia ke Bogor tidak di larang.
"Ayah ada apa ini.. kenapa ayah jadi khawatir. Saya kan di rumah kita sendiri.." ujar Kamelia kali ini dengan kesal.
"Melia.. ayah tidak mau kamu di Bogor lama-lama. Di sana ada keluarganya Vidi, ayah tidak mau kamu berhubungan dengan keluarga itu.. " cetak pak Sahid emosi.
"Keluarganya Vidi.. Vidi ayahnya Amran..?" ucap Kamelia dengan jantung berdebar-debar karena ayahnya ini penuh misteri.
"Iya nak.. jangan dekati keluarga Amran ini.. ayah mohon.. Ayah tidak ingin kamu sakit hati.. Cukuplah ayah yang sakit hati.. " bisik pak Sahid sedih.
Pikiran Kamelia bingung.
"Kenapa ayah yang sakit hati.. Ayah cerita dong sama saya.. ayah menutupi sesuatu ya..?" suara Kamelia benar-benar khawatir bercampur penasaran.
Pak Sahid menarik napas panjang dan lelah.
"Belum waktunya nak.. nanti ayah beritahukan.. Sekarang bangun, sarapan dan setelah itu kamu harus pulang ke Jakarta. Ayah menunggu kamu di sini.. " ucap ayahnya Kamelia.
Kamelia menarik napas panjang juga karena ayahnya tidak mau memberitahukan kenapa ia tidak boleh mendekati keluarga Amran.
"Baiklah ayah.. saya siap-siap dulu.. bye ayah.." ucap Kamelia lalu menutup sambungan telepon.
Kamelia segera masuk kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya pulang ke Jakarta. Padahal ini hari Minggu, kok pulang awal sih..? rutuk Kamelia dalam hati.
Dengan tubuh bersih Kamelia ke dapur dan melihat mbok Marni ibunya Rere sudah menyajikan makanan untuk sarapan pagi.
"Hai. mbok.. maaf merepotkan.. saya mah cuma mampir.. " ucap Kamelia sambil memeluk ibunya Rere ini.
Mbok Marni tersenyum hangat pada anak tuannya ini. Suami dan anaknya perempuannya bekerja pada keluarga Kamelia sudah sejak lama, begitu juga dirinya. Wanita ini sudah menganggap Kamelia sebagai anak sendiri.
"Ahh..tidak apa-apa toh non.. kan ini rumah non sendiri.. " ujar mbok Marni.
Kamelia tersenyum lebar lalu duduk untuk sarapan.
"Mbok.. saya di suruh pulang oleh ayah.."
"Loh kok cepat sekali non.. ini kan Minggu.. non libur juga kan..?"
"Iya sih libur.. maksudnya kan mau istirahat dulu di sini.. tapi ayah mengatakan jangan lama-lama di Bogor.. hmm.. mbok tahu nggak kenapa ayah agak sensitif dengan kota ini. Padahal, ini rumah di belikan untuk ibu saya..?"
Mbok Marni terlihat berpikir tapi tidak bisa mengatakan apapun karena ia sih bekerja dengan pak Sahid setelah ada Kamelia lahir.
"Maaf non, mbok tidak tahu. Mungkin ada sedikit masa lalu yang tidak bisa ayah lupakan.. " balas mbok Murni bijak.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SANG PHOTOGRAPHER {Geng Rempong : 9}
RomanceAmran Surano seorang photographer yang memulai karirnya dari bawah. Terus mengembangkan sayap juga dibantu oleh keluarganya walaupun dirinya ingin mandiri. Sang ibu tiri, berusaha menjodohkannya dengan seorang wanita bernama Ranti. Namun, ia tidak m...
