Dimas mengirimkan alamat tempat si dukun beroperasi pada Syarif melalui pesan singkat. Lelaki ini akan menambahkan bukti kalau Vivi memang sengaja datang ke tempat ini untuk suatu keperluan.
Bosnya pasti senang dengan adanya bukti baru ini batin Dimas suka. Lelaki ini lalu berbalik dari depan rumah si dukun untuk kembali ke kantornya dan menunggu instruksi selanjutnya dari sang bos.
"Sayang sekali wanita ini berbuat seperti itu.. Cantik tapi tidak bisa berpikir panjang.. " bisik Dimas pelan lalu masuk ke mobil dan berlalu dari rumah dukun tersebut.
***
Vivi yang di dalam meradang. Wanita ini tidak habis pikir kalau si dukun meminta syarat yang aneh.
"Enak saja mau menyentuhku.. aku ini tidak untuk di sentuh sembarangan orang.. " desis Vivi kesal.
Dukun itu tersenyum sinis menatap Vivi. Matanya menatap wajah cantik Vivi yang mengkerut marah.
"Ya.. itu supaya aura kamu terbuka. Kalau tidak terbuka, lelaki itu tidak akan melihat kamu sebagai mana mestinya. Lelaki itu pasti sangat mencintai istrinya sehingga pengaruh ramuan yang aku berikan tidak berfungsi baik." balas sang dukun tegas.
"Aku rasa ramuan akang kurang kuat untuk lelaki yang aku kejar itu. Lelaki itu memang mencintai istrinya. Padahal istrinya itu hamil tua, pasti lelaki itu tidak dapat jatah sudah sangat lama." gerutu Vivi sebal.
Si dukun tersentak karena di anggap seolah tidak kompeten dalam bidangnya.
"Jadi maksud eneng mah, ramuanku gagal begitu..? Ramuanku tidak gagal. Usaha eneng yang kurang kuat.. Dan syaratku belum terpenuhi itu menyebabkan lelaki itu tidak mungkin melihat aura dari eneng." desis dukun itu dengan meradang juga.
Keduanya jadi terlibat perdebatan. Si dukun ingin syaratnya mau di penuhi, sedangkan Vivi menganggap hal itu tidak musti di lakukan.
"Kalau tidak mau, urusan kamu tidak akan mencapai keberhasilan seperti yang kamu inginkan. Lelaki itu mungkin saja bisa kamu sentuh, tapi ingatlah, lelaki ini tidak akan menjadikan kamu tempat tubuhnya berlabuh karena kamu belum membuka aura untukku.. " desis si dukun tegas.
"Tapi.. aku.. aku tidak mau akang yang menyentuhku.." balas Vivi sebal karena sang dukun mendesak dirinya untuk mau di sentuh sebagai syarat utama.
"Tenanglah neng.. kalau aku sentuh si enang mah akan menjerit meminta lebih.. aku cuma menyentuh kok bukan mencicipi.." rayu si dukun.
Otak Vivi berputar, jika ia mau di sentuh si dukun, kemungkinan besar akang Amran akan menjadi miliknya. Apa susahnya sih di sentuh lelaki ini. Toh, tubuhnya sekarang sudah berdenyut karena mungkin ramuan yang di berikan pada Amran berbalik kepadanya.
"Iya.. aku tahu apa yang kamu pikirkan.. Jadi segeralah memenuhi syaratku itu.. " lanjut dukun itu dengan suara mendayu.
Vivi mengerjap lalu sang dukun sudah berada di sisi tubuhnya.
Lelaki itu mengusap-usap pundak mulus sang model dengan lembut, napas berat si dukun agaknya mengisyaratkan kalau lelaki itu agak terangsang melihat tubuh molek Vivi.
Vivi menarik tangan dukun itu dan meletakkannya di kedua bukit kembar nan ranum miliknya.
"Cepat selesaikan urusan ini kang.. aku sudah tidak tahan untuk memiliki akang Amran.. " desah Vivi dengan lembut.
Cuping hidung dukun mengembang, napas lelaki itu sangat berat dan tangannya sudah mulai bereaksi ketika merasakan gundukan lembut di bawah telapak tangannya itu.
Urusan syarat menyentuh itu membuat Vivi terpengaruh, si dukun sudah membuat wanita ini menikmati syarat yang di berikan oleh lelaki itu. Sampai selesai urusan itu, Vivi kemudian mendapatkan ramuan lagi yang khusus di tambah racikannya oleh si dukun untuk Amran.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SANG PHOTOGRAPHER {Geng Rempong : 9}
RomanceAmran Surano seorang photographer yang memulai karirnya dari bawah. Terus mengembangkan sayap juga dibantu oleh keluarganya walaupun dirinya ingin mandiri. Sang ibu tiri, berusaha menjodohkannya dengan seorang wanita bernama Ranti. Namun, ia tidak m...
