Informasi

789 44 2
                                        

Amran masih menunggu berita dari kakaknya perihal penyewaan pengawasan untuk Kamelia. Ia tidak mau secara langsung meminta bantuan pada Tony karena ia mengatakan kepada kakaknya untuk merahasiakan pengawasan pada Kamelia.

Amran merasa memang ada yang aneh pada Kamelia. Wanita ini agak lebih waspada jika dirinya pulang cepat. Seolah itu membuat sang istri tidak bisa keluar. Akhirnya Amran sengaja pulang tidak pernah sore, malam terus sehingga istrinya bisa leluasa untuk menemui seseorang yang katanya teman itu.

Amran yang sedang bekerja menerima pesan masuk dari si pengawas kalau istrinya keluar dari rumah menggunakan transportasi online menuju sebuah rumah makan agak ternama di pusat kota.

Jantung Amran berdebar-debar, ia berspekulasi dengan siapa istrinya mau makan. Amran yakin istrinya tidak akan neko-neko. Istrinya sangat mencintai dirinya, ucapan cinta dan perlakuan Kamelia pada dirinya menunjukkan semua cinta batin Amran.

Lalu, sebuah video masuk melalui aplikasi kekinian zaman sekarang memperhatikan kalau istrinya masuk ke rumah makan, duduk sendiri tak lama kemudian datanglah seorang lelaki yang terlihat agak lebih muda 2 tahun dari istrinya itu. Amran terkesiap ketika melihat lelaki yang tampan untuk ukuran usianya tersenyum pada istrinya.

Kamelia menunduk memperhatikan sesuatu sambil tersenyum tipis. Amran mengeram dan mengepalkan keduanya tangannya. Pengawas yang membuat video itu sedang berada dua meja di samping kanan dari mereka berdua.

Amran tidak tahu itu temannya Kamelia atau bukan, tapi sampai selesai mereka makan, si lelaki berlalu dengan mendekatkan wajahnya ke arah sang istri seperti membisikan sesuatu. Amran sangat tegang lantaran marah. Ia cemburu karena istrinya ini berdua dengan lelaki lain entah teman atau bukan harusnya Kamelia meminta izin untuk menemui lelaki itu batin Amran lalu menutup video itu.

"Melia.. kamu sepertinya sudah bermain api.. aku tidak pernah marah padamu Melia.. tapi ini agak keterlaluan.. " bisik Amran lalu keluar dari studionya dan langsung pulang ke rumah untuk menunggu istrinya yang kemungkinan juga akan pulang dari cafe tersebut.

***

Kamelia agak gemetaran, perutnya mulas. Wanita ini merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Entah lantaran Ramlan menekan dirinya untuk mendanai lelaki itu alias uang bulanan atau ada sesuatu yang lain yang berkaitan dengan keluarganya. Kamelia berpikir apakah tindakan dirinya ini sudah benar atau tidak. Ia sudah menelpon pengacara untuk masalah ini. Si pengacara itu akan mempelajari terlebih dahulu kasus dirinya. Kamelia di suruh melaporkan ke polisi supaya masalah ini tidak berlarut-larut.

Kamelia gugup, ia tadi memesan taxi online menuju rumahnya Giri. Ia tidak bisa menahan diri dari rasa bersalah terhadap suaminya karena menemui lelaki lain.

Sesampainya di rumah Giri, Kamelia di sambut oleh Septi.

"Ehh.. Kamel..? Ayo masuk.. sini duduk... bumil mah harus diperhatikan.. Apa kabar dedek bayi..?" tanya Septi dengan lembut dan tidak tahan untuk mengelus perut Kamelia yang membuncit.

Kamelia tersenyum lebar melihat antusias Septi.

"Dedek bayi sehat kok Cep.. saya ke sini mah mau ketemu akang Giri.. sudah pulang kah? Hmm.. ada urusan sedikit. Mau meminta saran..?" tanya Kamelia dengan lembut tapi waspada.

Septi memperhatikan wajah Kamelia yang agak pucat.

"Apa ada masalah?" tanya Septi khawatir.  "Aa Giri mah belum pulang, mungkin sebentar lagi.. Nah.. itu baru di omongin sudah muncul. Panjang umur.." ujar Septi dengan senyuman melihat suaminya turun dari mobil.

Kamelia tersenyum gugup. Septi berdiri lalu ke teras menjemput suaminya.

"Aa.. Ada Kamelia.. mau bertemu dengan Aa..?" ucap Septi pada suaminya.

CINTA SANG PHOTOGRAPHER {Geng Rempong : 9}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang