17 // Step

1.4K 105 7
                                        

Embun di pagi hari, terlihat menggenang di dedaunan hijau. Masih segar terlihat, setangkai mawar putih yang terpajang di atas nakas kamar Raga setelah pria itu memindahkannya dari jendela apartemen.

"Bunganya masih segar gini. Padahal ini udah tiga hari. Harumnya juga masih ada. Ini bunga beneran kan?" gumam Raga tersenyum tampan menatapi bunganya.

"Morning bu." Sapaan anak laki-laki kesayangannya membuat Bu Nera tersenyum hangat.

"Morning buddy. Ayo sarapan. Oats udah Ibu siapin."

"Raga gak apa-apa kok bu kalau harus makan makanan lokal. Ibu gak harus beli terus. Lagi pula, Raga lahir di sini. Raga bahkan kangen sarapan pake nasi. Ibu jangan terlalu berlebihan ah."

"Ibu kayak gini masih punya banyak stok oats Raga, sayang kalau gak ke makan. Cepat kamu makan."

Seulas senyum Raga pancarkan. Wajahnya terlihat begitu segar layaknya mawar putih di kamarnya. Arloji berwarna hitam melekat di pergelangan tangannya membuat ia meliriknya sesekali.

"Emm bu, di mana ibu nyimpen baju-baju lama?" tanya Raga membuat Bu Nera bingung. Sudah jam untuk pergi kuliah, Raga malah menanyakan hal yang tak pernah Bu Nera pikirkan sebelumnya.

"Baju lama untuk apa kamu Raga?"

"Nggak ... Raga cuma tanya kok. Barangkali banyak baju yang masih bagus, Raga mau kasih ke panti asuhan di sini bu. Soalnya, kemarin Raga lewat salah satu panti asuhan, Raga liat banyak anak-anak di sana. Raga pengin banget nyapa mereka."

"Kamu belum lama di sini, tapi udah punya pikiran seperti itu? Ibu bangga sama kamu." Bu Nera tersenyum hangat mengelus dagu putera kesayangannya.

"Ibu tau kan, aku suka sama anak-anak."

"Ada beberapa baju yang ibu masih simpan, kira-kira di koper hitam itu. Ibu bawa, barangkali masih bisa dipakai, atau diberikan pada orang yang membutuhkan."

Raga mulai memakai baju lengan panjang berwarna putih polos. Bu Nera melihat Raga dengan tertegun. Matanya yang terlihat segar berubah menjadi sayu. Tatapannya kosong menatap Raga. Dan seketika, air mata Bu Nera mulai mengalir perlahan. Raga menghampiri dan lantas mengusap air mata di pipi ibunda tercintanya itu. Dipeluknya dengan hangat wanita yang telah berjuang melahirkannya ke dunia 21 tahun yang lalu.

"Udah bu. Maafin Raga. Bukan maksud Raga mengingatkan ibu tentang semuanya. Kadang ada celah rindu di hati Raga yang benar-benar gak bisa ditahan bu."

Kedua telapak tangan lembut Bu Nera menjamahi kedua belah pipi Raga.

"Pedulikan diri kamu nak, jangan terlalu lelah ya. Ibu tau, kamu selalu saja mengambil kerja part time tanpa sepengetahuan ibu. Ibu cuma takut kamu kecapekan Raga."

"Ibu tau Raga kayak gimana kan? Raga pasti dengerin perkataan ibu. Ini udah gak kepakai kan bu? Raga mau kasih ke anak panti, dan beberapa panti di luar sana."

"Hati-hati nak."

Mobil berwarna putih sudah di depannya. Raga masuk dan mulai mengendarai mobil itu untuk pergi ke panti asuhan. Plang bernama 'Panti Asuhan dan Panti Jompo Cinta Kasih' terlihat di mata Raga. Dirinya turun dengan membawa sejumlah pakaian yang sebenarnya masih layak, dan sebagian lagi adalah baju baru yang baru saja dibelinya di suatu tempat perbelanjaan.

"Permisi ...."

Keluarlah ibu panti dari dalam membuat Raga begitu antusias untuk bertamu.

"Iya? Ada yang bisa saya bantu?" Bu Panti terlihat bingung menatapnya.

"Pagi bu. Saya Raga. Saya ke sini berniat memberikan sedikit rezeki untuk anak-anak juga lansia di sini."

"Oh silakan masuk nak. Silakan masuk." Raga disambut hangat oleh pihak panti. Hal itu membuatnya begitu tak sabar bertemu dengan anak-anak yang lucu. Seperti yang diketahui sebelumnya, Raga sangat menyukai anak kecil. Ia selalu gemas ketika melihat mereka.

AFTER 20 DAYSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang