(Bonus) Full moon love story

591 9 2
                                        

Alexa pov

Hari itu, papa, mama, beserta pasangan pengantin baru membicarakan suatu rencana yang menurutku biasa saja, namun menurut mereka amat serius dan harus segera ditepati rencananya. Kenapa aku mengatakan biasa saja? Sebab hampir beribu-ribu kali kejadian pasangan yang baru menikah di muka bumi ini, sebagian besar pasti merencanakan suatu hal yang disebut BULAN MADU.

Benar. Papa dan mama memang mengizinkan mereka berdua untuk berbulan madu di Bali sesuai kesepakatan mereka bersama, namun dengan satu alasan, aku harus ikut.

"Kenapa begitu papa?"

Yang tadinya ekspresiku santai-santai, berubah menjadi super serius melebihi mereka.

"Lexa tidak mau. Enak saja papa dan mama membiarkan Lexa menjadi obat nyamuk diantara mereka." Ucapku dengan nada ketus.

Aku benar-benar tidak habis pikir mendengar alasan papa setelahnya. Bisa-bisanya papa mengkaitkan keinginanku yang sempat aku utarakan dulu dengannya, yaitu...

"Bukannya kamu sendiri yang ingin pergi ke Bali? Jadi sekalian aja berlibur sama kakakmu dan--"

"Tapi papa," ucapku memotong. "Memang benar Lexa ingin ke Bali, itu sudah menjadi impian Lexa dari dulu. Tapi nggak seperti itu juga kali pa, Lexa maunya mama sama papa juga ikut kalau begitu."

Bete banget aku jadinya. Setengah perasaanku merasa senang, setengah lagi aku mengkhawatirkan diriku jika hari itu tiba. Bukannya merasa liburan, malah aku merasa waspada untuk menjaga mereka, maybe. Tapi mereka sudah sama-sama dewasa, kenapa mesti perlu dijaga ya? Pokoknya intinya aku tidak suka dengan rencana papa yang satu ini, dalam artian aku tidak mau menyendiri nantinya.

"Atau bagaimana kalau Mada ikut?"

Semua pandangan mengarah kepadaku. Mama dan papa memandang dengan ekspresi tidak terduga, sementara kak Reno dan kak Stella terlihat baik-baik saja dengan senyum yang seolah saling bersahut-sahutan. Sudah kuduga, mereka pasti setuju, namun papa dan mama...

"Mm...sayang, memangnya Mada sudah diizinkan?" Tanya papa meragukanku.

"Sayang, Bali adalah pulau dewata, jadi nggak mungkin mama membiarkan putri remaja mama sampai--"

"Ma, pa, Lexa nggak akan berbuat yang macam-macam kok di Bali. Lagian, Lexa sudah paham kok tata krama di Bali." Kataku meyakinkan.

Aku paham maksud mereka, dan mereka juga paham maksudku. Aku sudah cukup dewasa untuk bisa pacaran diluar tanpa pengawasan dari orang tua, jadi tenang saja mama dan papa, anakmu ini tidak akan mengecewakan kalian.

Mama dan papa terlihat berbisik-bisik merundingkan keputusanku itu. Saking gregetnya aku menunggu konfirmasi dari mereka, aku baru menyadari dua menit setelahnya kak Reno yang duduk disebelahku sengaja menyenggolku akan membisikkan sesuatu.

"Kamu, seharusnya tidak begitu mengatakannya tadi. Lihat, sekarang mereka seakan-akan mencurigai dirimu."

"Terus, Lexa harus gimana kak?"

"Sebaiknya kamu mengabari Mada terlebih dahulu, biar hal ini kakak yang urus."

Awalnya aku memang tidak yakin dengan caranya. Apa benar kak Reno akan membantuku?

"Baiklah, kak Reno harus benar-benar melakukannya, jika tidak--"

"Iya iya, janji kakak akan meyakinkan mereka."

Akhirnya aku bergegas menuju kamar, mengambil ponsel, lalu menghubungi Mada.

***

Stella pov

"Hai"

"Hai, aku sudah mengemasi barang-barangmu. Ingin membawa apalagi?"

Pukul 7.45 pm. Reno masih berkutat pada koper-koper yang akan segera berangkat bersama kami besok menuju Bali. Ia terlihat berantusias menjelang bulan madu yang akan segera dihadapi bersama. Aku tidak tahu apakah hari esok akan seindah malam ini?

"Nanti lanjutkan lagi Ren. Sekarang kita ke bawah yuk! Semua sudah menunggu." Ajakku menyarankan.

"Sedikit lagi-"

"Reno ayolah," pintaku seraya memegangi kedua belah tangannya untuk berhenti berkutat dengan isi koper. Reno juga terlihat berkeringat. Maka dari itu aku mengambil tissue dan mengusapkannya pada bagian wajahnya yang telah dialiri keringat.

"Kamu kehilangan banyak kalori sayang," seraya mengelap keringatnya. "Mau bikin aku senang?"

Tatapan biasa yang terkesan monoton. Namun kali ini beda, aku seakan-akan dapat membaca pikirannya. Pria ini pasti sedang membhatin "apakah dia benar Stella? Kenapa sangat perhatian begini padaku?" Sudah jelas jawabannya, karena sekarang aku istrimu Reno. Hanya saja yang membedakan tatapannya kali ini, ada sedikit sudut pandangnya yang tersirat terkesan mengalihkan perhatianku.

"Baiklah, aku juga tidak ingin membuatmu menunda makan malammu karena menungguku. Jadi ayolah, kita ke bawah!" Ajaknya kemudian.

~

Setelah makan malam kami usai, malam ini kami sempatkan untuk melihat bulan purnama bersama di teras rumah, sebagai melepas rindu jika sewaktu-waktu kami telah berada di Bali, suasana malam di kota Surabaya ini pasti akan kami rindukan.

"Aku tidak bisa menjadi bulan purnama yang sempurna, sampai kapanpun aku tidak akan bisa."

"Mungkin bukan dirimu. Mungkin bulan purnamanya sendiri yang tidak akan bisa menjadi sepertimu."

"I know, cause i'm a bad woman. Tidak ada yang setia menemaniku seperti bulan purnama itu yang ditemani oleh ratusan bintang, walau terkadang mereka tidak terlihat, namun percayalah bintang-bintang selalu dan akan tetap ada disana, disisi bulan purnama yang dirindukan banyak orang, berada di hati mereka masing-masing."

Percuma aku bicara panjang lebar. Ia tidak akan mengerti maksudku. Aku hanya bermaksud ingin menyampaikan isi hatiku pada bulan.

"Kalau kamu membandingkan dirimu dengan bulan purnama, memang tentu kamu sudah kalah. Sinar terangnya tidak bisa dikalahkan oleh apapun,"

Aku tahu, kamu belum sepenuhnya memaafkanku.

"Sekarang hanya lihatlah aku. Jangan menatap benda angkasa itu terlalu lama, nanti kamu bisa kecewa,"

Aku memang sudah bosan menatap bulan, dan sekarang aku hanya ingin menatap wajah terangmu yang disinari cahaya bulan saja, itu sudah sangat mendebarkan hatiku. Tidak kusangka pria yang selama ini aku campakan, ternyata menyimpan beribu perasaan yang sebelumnya belum pernah kurasakan bersama pria-pria lain yang sempat kukenal.

"Aaaah...aku tidak akan membiarkan istriku bersedih karenamu, jika itu sampai terjadi, akan kuubah teorimu yang lebih sempurna itu dari istriku." Ucapnya dengan pandangan kearah bulan.

Malam ini menjadi semakin indah oleh tawa canda kita bersama bulan. Aku paham sekarang, untuk menjadi sempurna tidak harus menjadi seperti bulan, karenanya aku telah menemukan kesempurnaanku sesungguhnya, cahayaku sesungguhnya, melengkapi hidupku yang jauh dari kata sempurna, selamanya hingga maut memisahkan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ada yang pernah ngerasain diposisinya Stella?
vommentnya readers😊💖💖

Sahabat, kok romantis???Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang