Bab 21

39 7 0
                                        

Hari ini...

Aku tidak tahu hari apa hari ini.

Aku juga tidak tahu hari keberapa ini setelah kecelakaan naas itu.

Yang jelas, hari ini aku boleh pulang ke rumah.

Huh! Pulang?! Apa gunanya aku pulang? Bukankah itu sama saja? Dimanapun aku, bukankah tetap sama saja? Semuanya tetap gelap. Gelap. Gelap.

"Akhirnya, ya, Nak. Kita bisa pulang juga. Kamu senang 'kan?" tanya Ibu.

"Bawa aku ke kamar, Ibu. Aku mau istirahat," ucapku dingin. 

Ibu menghela nafas.

"Suci, kemarin Mbak ambilin raport kamu, lho. Mbak lihat-lihat nilai kamu banyak yang meningkat. Mbak sebutin satu-satu, ya..."

"Aku nggak peduli," aku memotong ucapan Mbak Arini.

"Tapi, Suci--"

"Aku bilang aku nggak peduli! Kenapa, sih, Mbak Arini nggak bisa ngertiin aku?! Nilai-nilai itu nggak ada artinya lagi buat aku. Toh setelah ini aku nggak bisa sekolah lagi! Aku udah buta! Sekarang, jangan ada yang ganggu aku!" Aku berseru.

"Suci!" Ibu menegurku, tapi aku sama sekali tidak memedulikannya.

Dengan langkah patah-patah, aku melangkah, meraba-raba dengan tongkat di tanganku.

"Sudahlah, Arini. Kamu jangan bawa ke hati," bisik Ibu pada Mbak Arini.

Huh! Mereka pikir, aku tidak bisa mendengar suara mereka? Tentu aku bisa! (Sungguh, aku juga tidak tahu mengapa pendengaranku bisa jadi setajam ini, tapi aku tidak peduli)

Aku terus melanjutkan langkahku. Akhirnya dengan susah payah, aku berhasil mencapai kamarku, masuk, lantas membanting pintunya. Aku sungguh-sungguh tidak peduli. Setelah ini, bagiku tidak ada dunia. Ia hanya gelap. Ya! Hanya gelap.

***

Aku membuka mataku dan yang pertama kali kulihat adalah wajah seorang pria berbrewok tipis dengan kulit sawo matang yang memelukku amat erat. Jemmy.

Umur berapa aku mengenalnya? Dua puluh? Dua puluh satu? Entahlah! Tapi, yang kutahu, perkenalanku dengannya adalah indah, mengubah semuanya. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa dia, pria paling menyebalkan di kampusku dulu, akan menjadi suamiku, menjadi sosok yang hari ini masih berada di sisiku di masa-masa sulit.

Aku meraba wajah teduhnya, di kepalaku terngiang ucapannya di rumah sakit kemarin.

"I'm not gonna leave you. Aku akan menjadi apapun untuk kamu. Tangan, mata, bahkan kaki. Jangan takut karena kamu lumpuh, aku akan terus menggendong kamu, bahkan ke ujung dunia sekalipun. I promise."

Aku tersenyum sendiri ketika kalimat itu memenuhi kepalaku.

"Good morning, honey. Kamu udah bangun?" sapanya tiba-tiba, masih dengan mata terpejam.

Aku menahan diri untuk tidak terkejut. Aku hanya tersenyum, berucap, "good morning, my husband. Bangunlah. Kamu harus bekerja," aku menepuk pipinya.

Ia menggeleng, masih dengan mata tertutup, "nggak mau ah!"

"Lho? Kok, gitu?"

"Yah... Nggak mau aja," sahutnya lagi.

"Gimana caranya supaya kamu mau?"

Jemmy membuka matanya, mengernyitkan dahi, lantas tersenyum jahil, "caranya, kamu cium aku," ia menunjuk bibirnya.

"Ish! Apaan, sih?! Nggak mau!" tolakku.

"Ayolah, sayang," pelasnya.

Aku tersenyum lantas mendaratkan bibirku di bibirnya. Hanya sebentar.

OSIS? [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang