Aku melangkah memasuki ruang kelasku, bersiap untuk hari biasa dengan kejadian biasa.
Tepat ketika aku hendak menurunkan bangku, tanganku terhenti kala melihat sekotak hadiah berwarna biru. "Punya siapa ini?" aku mengambil kotak hadiah itu ragu, mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kelas.
Ini pukul 06.00 WIB dan tidak ada siapapun di sini. Hanya ada aku sendiri.
Aku mengamati kotak hadiah itu. Tepat di bagian tengah tutupnya namaku tertulis dengan tulisan tegak bersambung.
Penasaran, tanganku perlahan bergerak membuka kotak hadiah itu. Dahiku mengernyit kala melihat isinya, "teddy bear dan bunga? S-siapa yang taruh ini di sini?"
Belum habis keterkejutanku, sepucuk surat tiba-tiba jatuh ketika aku mengambil boneka dan bunga itu. Aku meletakkan keduanya lantas mengambil surat tersebut, membacanya.
"Hai, sayang!" Sapaan Arvin membuatku tersentak, lekas menyembunyikan kotak hadiah tersebut di bawah mejaku.
"H-hai!" Aku menyahut sapaannya gugup.
"Kamu kenapa? Kok, panik gitu mukanya? Itu tadi kamu naruh di bawah meja?"
"Eng... I-itu-itu hadiah dari Kak Saddam buat kakakku," bohongku.
"Saddam?" Arvin mengernyit.
"Iya. Kamu tahu 'kan Kak Saddam, pacar kakakku yang rumahnya dekat sekolah? D-dia tadi ngasih ini ke aku, katanya buat kakakku. Hadiah buat anniversary mereka," sahutku.
"Oh..." Arvin membulatkan mulut, "aku kira dari siapa," Arvin meletakkan tasnya di samping bangkuku, "mau ke kantin?" tawarnya tiba-tiba.
Aku mengangguk cepat lantas meletakkan tasku, menyambut gandengan Arvin. Mungkin meninggalkan kelas bisa membuatku tenang meski hanya sejenak.
Hadiah itu. Siapa yang memberikannya?
***
Lead menyapu ruang kelasnya, sesekali matanya menatap jam tangan, lantas menghela nafas. Ini sudah pukul empat sore, seisi sekolah bahkan mulai kosong. Hanya dua-tiga anak yang nampak masih berdiri menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Satu-dua guru -- tak termasuk penjaga sekolah yang memang tinggal di sana -- juga nampak bersiap pulang. Hanya Lead yang masih betah -- atau terpaksa betah -- menyapu ruang kelasnya.
Ya! Ini jadwal piketnya. Sesuai dengan yang disepakati, seharusnya siang ini, semua petugas piket membersihkan kelas sekarang. Tapi, astaga! Memang dasar sialan! Lihatlah sekarang! Yang membersihkan kelas sesuai kesepakatan hanya Lead. Mozes, sebagai ketua kelas, sebenarnya sudah memberi kelonggaran bagi Lead, tapi ia menggeleng, menolak. Mozes pun hanya angkat bahu lantas mengacak rambut Lead, sebelum akhirnya pulang.
Lead terus menyapu. Ketika tiba-tiba,
KRESEK!
Lead spontan menoleh mendengar suara itu. Tidak ada siapapun di sini. Ah! Mungkin hanya perasaannya.
Kembali ia melanjutkan aktivitas menyapunya sampai ke teras depan kelas. Tepat saat ia menoleh ke kelas sebelah, sesosok dengan jaket hitam dan wajah mengenakan topeng tiba-tiba keluar dari ruangan tersebut. Orang itu nampak terburu-buru.
"Hei! Siapa kamu?!" seru Lead.
Mendengar seruan itu, orang tersebut lekas-lekas berlari, menyasar ke kelas berikutnya.
"Hei! Jangan lari!" Lead melepas sapunya, lantas mengejar orang itu.
Tepat ketika Lead sampai di ambang pintu ruangan, orang tersebut sudah meloncat dari jendela.
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS? [Completed]
Dla nastolatków"Waktu kecil, aku sering melihat beberapa ikan sardin berekor panjang, berwarna keemasan, berenang di angkasa malam, lalu secara tiba-tiba satu per satu mereka melesat jatuh dengan cahaya menyembur dari mulut mereka" *** Ini hanya sebuah kisah, tent...
![OSIS? [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/177634348-64-k917903.jpg)