Aku harusnya sadar, bahwa banyak hal bisa dengan begitu cepatnya berubah. Unfortunately, alam bahkan tidak punya tanda-tanda tersendiri mengenai hal itu, membuat kalimat tak ada satu pun yang abadi dan setiap manusia harus siap untuk kehilangan hal yang paling ia cintai menjadi mantra-mantra bodoh yang hanya dipahami secara teori, tapi tidak pernah siap dilakukan secara praktek.
***
Aku melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah tanpa menyadari bahwa sesuatu berubah hari ini.
"Lead!" sapaan riang itu memekakkan telingaku. Aku menoleh, menatap senang gadis pucat yang tengah berlari ke arahku. Gadis itu memelukku, aku balas memeluknya ringan. "Kamu kemana aja sampai seminggu nggak masuk sekolah? Graha bilang, kamu baik-baik aja, tapi, kok, lama banget nggak hadirnya?" Anggy mencecariku dengan sejuta tanya, berentet cepat bagai kereta express. Aku bahkan harus memegang tangannya untuk membujuknya berhenti bertanya.
"Anggy cinta 'kan sama Graha?" Anggy menatapku bingung, seolah bertanya mengapa aku menanyakan hal ini. Tapi, gadis itu tak membantah, ia mengangguk polos. "Kalau Anggy cinta, Anggy harusnya percaya, dong, sama Graha," senyumku. "Aku nggak papa, kok. Aku baik-baik aja dan aku semakin baik-baik aja ngeliat kamu ceria hari ini. Tetap gini terus, ya."
Anggy tidak mengucap sepatah kata pun. Senyumnya justru makin nyata. Ia mengangkat tangan di depan dagu, menunjukkan ekspresi menggemaskan sembari mengangguk.
"Oh, ya! Suci apa kabar? Aku nggak pernah jenguk dia lagi seminggu ini," tanyaku mengalihkan topik.
"Suci sehat-sehat aja, Lead. Dia udah mulai masuk sekolah baru, sesuai dengan yang kamu dan ibunya minta. Dia cepet banget belajar huruf braille. Kata ibunya, kalau begini terus, Suci bisa sekolah di sekolah normal lagi," Anggy menceritakan dengan mata berbinar.
"Oh, ya? Syukurlah! Aku kayaknya bakal jenguk dia sore ini."
"Anggy boleh ikut?" tanya Anggy polos. Aku mengangguk.
KRING...
Suara bel masuk memotong pembicaraan kami.
"Aku ke kelas dulu, ya, Nggy. Nanti aku jemput kamu ke kelasmu," ucapku. Anggy mengangguk, melambai, pergi ke kelasnya.
***
Ibu Ida tengah menyampaikan materi tentang suhu dan kalor saat tiba-tiba panggilan alam menyeruak memanggilku. Dasar sialan! Buru-buru aku menuju ke toilet perempuan, setengah berlari malahan menuruni tangga kelas. Usai menuntaskan urusan di sana, aku bergegas kembali ke kelas, ketika tiba-tiba,
"HOEK!" Suara seseorang menahan muntah terdengar dari depan jajaran toilet. Lekas aku bersembunyi, mengamati gadis yang tengah mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel, berhadapan dengan cermin. Bukan hanya sekali, ia muntah berkali-kali, nampaknya bahkan mengeluarkan hampir seluruh isi perutnya.
Aku mendekati gadis itu. Dari bayangannya yang sekilas kutangkap di cermin juga dari postur tubuhnya, aku menarik kesimpulan bahwa gadis itu tak lain adalah Putri, adik kelasku. Ragu-ragu, aku menggerakkan tanganku. "Putri!" Aku menepuk bahunya pelan, tapi reaksi yang kudapatkan sungguh tak terduga. Gadis itu seketika pingsan di tanganku, membuatku histeris meneriakkan namanya.
***
PLAK!
"ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG!" Umpatan itu seolah menggema di langit-langit ruang UKS usai terlontar dari mulut seorang pria dengan gurat wajah tegas. Tangannya baru saja menampar putri semata wayangnya, membuat aku, Eben, Yasfa, Anida, dan Dinu hanya ternganga tanpa suara menyaksikan. "Aku membesarkan kamu bukan untuk hamil di luar nikah dan mempermalukan nama keluarga!" Pria itu -- yang tak lain adalah ayah Putri -- kembali berseru marah. "Kalau tahu begini, lebih baik dulu kubiarkan kamu mati--"
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS? [Completed]
Teen Fiction"Waktu kecil, aku sering melihat beberapa ikan sardin berekor panjang, berwarna keemasan, berenang di angkasa malam, lalu secara tiba-tiba satu per satu mereka melesat jatuh dengan cahaya menyembur dari mulut mereka" *** Ini hanya sebuah kisah, tent...
![OSIS? [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/177634348-64-k917903.jpg)