Lead melayangkan pandangnya. Tak banyak nampaknya Pengurus OSIS yang hadir sore itu. Taufik, Rizqy, dan Oktav pun nampaknya melaksanakan rencana bolos mereka. Hanya Denni yang setia sembari menenteng tas merahnya.
"Beneran, nih, mereka nggak dateng?" tanya Yasfa.
"Menurut kamu?" Anida menyahut. Yasfa hanya memanyunkan bibir.
"Ternyata bukan cuma mereka yang berpikir untuk bolos," ucap Lead prihatin.
"Kurang lebih begitulah," Anida mengangkat bahu.
"Assalamualaikum!" sapa seseorang.
"Waalaikumsalam!" sahut Anida dan Yasfa serentak.
"Hai, Suci!" sapa Lead.
"Hai, Lead!" sahut Suci riang.
"Eh, Lead! Gue sama Yasfa ke toilet bentar, ya. Lu di sini aja. Jagain barang-barang," ucap Anida tiba-tiba.
"Tapi..."
"Udah ah! Kelamaan! Yuk, Yas! Dah, Lead! Assalamualaikum, Suci!" Anida memotong sembari menarik tangan Yasfa, meninggalkan Lead yang hanya bisa menggeleng dan Suci yang tersenyum simpul, menjawab salam Anida.
"Nggak banyak, ya, ternyata," gumam Suci tiba-tiba.
"Apanya?"
"Yang hadir rapat. Aku pikir, semuanya bakal hadir."
"Yah... You have to know it. Teman-teman sekelasku, anggota OSIS, yang cowok -- kecuali Denni -- sepakat buat nggak hadir di rapat ini."
"Termasuk Rizqy Maulana?" Suci menyebut nama atasannya di OSIS itu. Ia baru menyadari bahwa Ketua Koordinator OSIS Bidang Agama Islam itu tak nampak batang hidungnya sama sekali.
"Kamu melihatnya? Kalau nggak, berarti dia juga termasuk."
"Ya Allah, Rizqy, Rizqy," decak Suci.
Lead tertawa, "udah ah! Dia jangan dipikirin! Cari tempat aja, yuk! Sekalian bawa barang dua manusia ini," ucapnya.
"Ah, iya! Bener juga!" sahut Suci.
"Lead, Suci!" panggil seseorang.
Lead dan Suci serempak menoleh demi melihat Anggy yang tengah melambai memanggil.
"Ke sana, yuk!" ajak Suci sembari menenteng tas Yasfa.
"Yuk!" Lead menyahut. Tangannya meraih ransel Anida. Keduanya lantas berlari kecil ke arah Anggy yang rupanya berbaik hati menyediakan tempat paling depan di sampingnya plus bonus tempat yang muat untuk dua orang di belakang mereka.
"Aku kira kalian berdua nggak bakal dateng," ucap Anggy.
"That's impossible, you know. My aunt will kill me if I don't attend this meeting," tawa Lead.
"Nggak banyak, ya, ternyata yang hadir rapat ini," gumam Anggy lagi.
"Kamu tahu sendiri," Lead berkedik.
"Oh iya, ngomong-ngomong, kemarin aku liat kalian berdua pulang bareng --"
"Oh itu! Kamu pasti mau nanya kita kemana 'kan?" potong Lead.
"Kok, bisa langsung tahu?" tawa Suci.
"Jelas, dong! Kalau kamu mau tahu, kamu harus ikut kami dulu, dong."
"Emangnya boleh?" Suci bertanya antusias.
Lead menatap Anggy, seolah meminta persetujuannya. Gadis cantik itu tersenyum. Pipinya yang pucat hari itu seolah berusaha bercahaya, menunjukkan rona indahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS? [Completed]
Teen Fiction"Waktu kecil, aku sering melihat beberapa ikan sardin berekor panjang, berwarna keemasan, berenang di angkasa malam, lalu secara tiba-tiba satu per satu mereka melesat jatuh dengan cahaya menyembur dari mulut mereka" *** Ini hanya sebuah kisah, tent...
![OSIS? [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/177634348-64-k917903.jpg)