Bab 39

30 3 0
                                        

"Kak There?" Tante Ika bergumam dengan suara tercekat.

"Astaga, Cantika! Kamu kenapa bisa kayak gini, Can?!" seru wanita yang berada di depan rumah itu. Ia masuk ke dalam, memegangi wajah Tante Ika yang masih duduk di kursi roda. Dia Theresia, mamaku.

"Mama sama Papa, kok, nggak bilang-bilang, sih, mau ke sini?" tanyaku.

"Ada kepentingan darurat, Lead," jawab Papa.

"Kepentingan darurat? Maksud Papa?"

"Ehem," Om Jemmy berdehem singkat. "Saya rasa alangkah lebih baiknya kalau kita bicara di dalam saja. Kebetulan kami juga sedang makan malam. Mari, Kak." Om Jemmy dengan penuh kesopanan mempersilakan Papa dan Mama masuk ke dalam.

Mama dan Papa mengangguk. Mama mendorong kursi roda Tante Ika.

"Siapa, Jem?" tanya Tante Audrey sembari berdiri dari kursi makannya.

"Oh, ya! Drey, ini Kak Edward dan Kak Theresia Ryan, orang tua Lead," Om Jemmy memperkenalkan Mama dan Papa pada Tante Audrey. "Kak, perkenalkan, ini adik saya, Audrey."

"Theresia," Mama mengulurkan tangan.

"Audrey." Tante Audrey menjabat tangan Mama sejenak.

"Edward," Papa bergantian mengulurkan tangan.

"Audrey." Tante Audrey menjabat tangan Papa.

"Silakan, Mas, Mbak, makan dulu." Om Jemmy dengan santun menawarkan. Mama dan Papa mengangguk, ikut duduk, melahap makanan yang disediakan di atas meja makan. Aku terus berpandangan dengan Tante Ika. Aku tahu ada sesuatu yang aneh dari kedatangan Mama dan Papa ke sini.

"Biar saya yang bereskan," Tante Audrey langsung membereskan piring dan gelas selesai makan.

"Makasih, ya, Drey," ucap Tante Ika. Tante Audrey mengangguk sekilas, membawa piring dan gelas kotor ke belakang.

"Jadi, langsung saja," Papa berdehem sejenak. Kami berlima tidak beranjak dari bangku kami masing-masing. Aku memegang tangan Tante Ika. "Kami jauh-jauh datang ke Indonesia untuk tujuan yang sangat penting berkaitan dengan Lead."

"Iya, Can. Kami ke sini sebenarnya untuk menjemput Lead pulang ke London."

Darah serasa berhenti mengalir di tubuhku mendengar ucapan Mama. Sudah kuduga itu tujuan Mama. Aku tak mampu berkata apa-apa. Astaga! Kuharap Mama hanya sedang bermain-main sekarang!

Tante Ika dan Om Jemmy menelan ludah. "Emang harus banget, ya, Kak?" tanya Om Jemmy.

"Ya, ini harus. Kami berdua sudah berdiskusi dan kami rasa, keputusan ini sangat penting untuk masa depan Lead. Saya rasa, kalian harusnya juga peduli dengan masa depan Lead. Terutama karena Lead adalah keponakan kesayangan Cantika. Benar 'kan?" Papa berucap sembari menatap Tante Ika. Ucapan itu terlihat biasa saja, tapi aku bisa mendengar nada sinis dan pandangan merendahkan di mata ayahku itu.

Tante Ika dan Om Jemmy saling berpandangan, diam. Aku juga diam. Hanya terdengar suara air mengalir di wastafel. Kurasa Tante Audrey juga sedang ikut mendengarkan di belakang sana. Tiba-tiba, aku merasakan keinginan yang kuat untuk menangis. Aku memandang wajah Tante Ika. Ia juga terlihat menahan tangis.

Aku menggeser bangkuku ke belakang, bangkit berdiri di bawah tatapan bingung semua orang juga tatapan tajam Papa. Tante Ika memegang tanganku, aku menatapnya. Ia menggeleng pelan. Aku tak berucap apapun. Untuk kali ini, kurasa aku harus melawan Tante Ika. Aku mengangkat tangan itu dari tanganku, balik badan, lantas meninggalkan meja makan.

"I will talk to her." Aku bisa mendengar suara Mama. Biar kutebak! Ibuku itu pasti sekarang mengejarku ke kamar. Aku bahkan bisa mendengar ia memanggil namaku dengan lembut. "Lead," panggilnya. Aku tak menyahut, tak peduli, terus melangkah ke kamarku lantas menghempaskan tubuh di atas empuknya kasur. Mama terdengar menghela nafas, ia lantas mengelus rambutku pelan. "I know it. I have told your father. You will definitely refuse to go back to London. But, my daughter, hear me, please. It's for your future --"

OSIS? [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang