"Jika Kau Api aku tak ingin jadi air, sebaliknya aku akan jadi kayu. sebab aku tak ingin membuatmu hilang, melainkan selalu ingin membuatmu terus menyala."
***
Natha masih diam mematung diluar uks. Ada sebuah keinginan yang membuat cewek itu enggan untuk melangkah pergi. Tidak lama kemudain pintu uks terbuka menampakkan sosok Devan disana.
"Eh ... kak Devan." Natha langsung salah tingkah.
Devan tidak berkata apa-apa. Ia hanya melirik ke arah Natha sekilas sebelum kakinya melangkah pergi dari sana.
"Ngapain lo masih disini." Natha langsung mengarah pada suara tersebut.
"Eh kak Azka s-sa...saya tadi m-mau pergi tapi ..." Natha menggantungkan kalimatnya.
Azka masih setia mendengar ucapannya, hingga membuat Natha gugup sendiri.
"Ada barang saya yang ketinggalan didalam uks, iya itu." Mau tidak mau Natha mencari alasan yang tepat agar dirinya tidak dicurigai.
"Oh." Azka langsung melangkahkan kakinya untuk pergi begitu saja.
Natha sangat ingin menghentikan langkah cowok itu, namun ia sadar dan tau resikonya jika ia kembali mendekati Azka.
Setelah Azka benar-benar hilang dari pandangannya, Natha mulai melangkah pergi untuk menuju kelasnya, namun seseorang tiba-tiba memanggilnya.
"Natha!" Natha langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Lo ada masalah apa lagi sama Azka? Kayaknya lo mulai ngejauh lagi."
"Kak Gara kok tiba-tiba nanya itu?"
"Emang ada yang salah dengan pertanyaan gue?"
"Nggak sih, cuma nggak biasanya kak Gara sekepo ini."
Gara langsung salting, "Gu...gue kepo kayak gini karena peduli sama sahabat gue. Gue kasihan sama dia kenapa lo tarik ulur perasaannya."
Sebenarnya yang membuat Gara se kepo ini ada kaitannya dengan Caca, jika Natha semakin menjauh dari Azka, Caca pasti semakin gencar mendekati sahabatnya Gara itu.
"A-aku nggak bermaksud kayak gitu kok." Natha menundukkan kepalanya sendu.
"Terus apa namannya jika ada orang yang cari perhatian ke orang lain dan ketika orang lain itu luluh, orang itu langsung ninggalin gitu aja tanpa ada rasa salah sedikitpun."
"Kak, tidak semua yang kakak lihat itu sesuai dengan jalan pikiran kakak, terkadang orang itu punya maksud tersendiri untuk melakukan hal tersebut."
"Ya makannya lo cerita ke gue, biar gue nggak salah paham."
"Kayaknya kakak nggak perlu tau urusan aku."
"Oh jadi sikap lo gini sekarang ke gue."
Natha merasa bingung, apakah ada yang aneh dengan ucapannya.
"Maaf, emang sikap aku ada yang aneh ya?"
"Pikir sendiri," ujar Gara singkat.
"Sekali lagi maaf jika sikap aku ada yang salah tadi, tapi jujur aku nggak mau ada orang yang tau tentang masalahku ..."
Natha menggantungkan ucapannya sejenak. Sebuah senyuman mulai terukir diwajahnya.
"Kalau kakak pingin dapetin seseorang, kakak nggak perlu repot mencari masalah seseorang."
Gara membelalakkan matanya.
"Maksud lo?"
"Kalo kakak butuh bantuan untuk deketin seseorang, aku siap kok." Natha melebarkan senyumnya kearah Gara, sebelum cewek itu berlalu pergi begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aztha (Tamat)
AléatoireNatha adalah cewek manis yang pediam dan pemalu, namun sifatnya yang sangat penutup itu langsung berubah menjadi gila & bodoh ketika bertemu dengan Azka yaitu cowok dingin yang benci dengan spesies cewek pengganggu seperti Natha. Bagi Azka, Natha ad...
