TLLTY [38]

1.2K 121 65
                                        

Aku menginginkan hari dimana aku bisa tertawa bahagia bersamamu tanpa rasa sakit yang membelenggu

~~~

Pertemuan antara Kinan dengan Nathan beserta Ana, berhasil menguntungkan pihak Cakra dan semakin merugikan pihak Nathan. Pasalnya, semenjak berganti hari, hubungan Kinan dengan Cakra yang semulanya merenggang, kini terlihat kembali akrab. Berbeda jauh hubungannya bersama Nathan yang kian menjauh, seolah ada balok memanjang, khusus Kinan ulurkan jika dihadapkan dengan sosok Nathan. Nathan sulit menggapainya bahkan hanya sekadar meminta maaf.

Seperti pagi ini, motor gede Cakra berhenti di parkiran kampus. Di belakangnya sudah ada Kinan yang sedari berangkat terus mengeratkan pegangan pada jaket miliknya. Cakra membawa motornya kebut-kebutan. Sepanjang jalan Kinan tak usai merapal doa agar dirinya dalam perlindungan Sang Kuasa.

Selama Kinan hidup, baru kali ini nyawanya seakan ingin lepas dari raganya. Berbeda dengan sewaktu Kinan terbaring lemah di rumah sakit akibat percobaan bunuh diri yang dia lakukan dan berakhir gagal.

"Turun kali. Udah sampe. Lo pikir ini lagi naik gajah taman safari, apa?!" Cakra berujar ketus meski itu candaan semata. Dia sedikit menyerongkan kepalanya demi bisa bersitatap dengan manik kecoklatan milik Kinan.

Kinan menekuk wajahnya dengan bibir bawahnya sedikit maju sesenti. Tidak habis pikir kepada pria di depannya ini. Selalu bernada tinggi jika berbicara padanya dan kadang bisa lembut dalam satu waktu. Kesal tapi juga bisa membuatnya melupakan sejenak beban hidupnya walau sekejap mata.

"Tinggi banget. Aku gak bisa, Cakra. Kaki ku susah nginjek tanah," keluh Kinan seraya melirik ke bawah. Sesekali dia meringis. Membayangkan dirinya terjerembab adalah hal yang dia hindari saat ini.

"Sekarang gue tanya sama lo, tadi pas naik siapa yang bantuin?" tanya Cakra.

"Aku sendiri lah."

Cakra menepuk gemas pucuk kepala Kinan, "Nah, masa turunnya juga gak bisa? Gimana sih, cantik?"

Bibir Kinan makin manyun, "Ya kan aku berpegangan sama bahu kiri kamu sampe aku tekan kuat biar sukses nyampe atas."

Cakra manggut-manggut, mengerti, "Yauda kalau gitu buat lagi seperti apa yang lo lakuin itu. Kali ini tumpuin kedua tangan lo di kedua bahu gue. Jangan satunya aja. Terserah mau lo tekan atau mau lo remas, yang paling terpenting lo gak jatuh."

Ucapan lembut diselip rasa perhatian yang pria itu lontarkan tanpa sadar membuat senyum Kinan terkembang manis.

"Nanti kamu kesakitan loh..."

"Bagi gue, lebih baik gue yang merasakan sakitnya," ucap Cakra tulus dari lubuk hati paling dalam.

Jemari Kinan terjulur dan mendarat di kedua pipi Cakra kemudian mencubitnya sambil tertawa, "Ululu, so sweet banget sih kamu."

Tak tahu jika perlakuannya itu memancing degupan kencang di dada Cakra hingga perasaannya semakin ambyar.

"Cepetan gih. Entar kelas pagi lo keburu dimulai!" desak Cakra mengakhiri keadaan yang berpeluang membuatnya kembali egois. Menginginkan perempuan yang sudah dimiliki orang lain. Padahal jelas Cakra tahu bahwa orang lain itu tak pernah sekalipun menginginkannya.

"Iya, iya, sabar," Kinan mencoba turun dan kakinya berhasil menapak tanah. Sesaat keningnya mengerut melihat Cakra bergeming di tempatnya, enggan bergerak menjauhi motornya, "Kamu gak ikut masuk?"

"Gue bolos. Males ketemu Dosennya."

"Ih, kenapa?" Kinan berjengit.

Cakra hanya mengedikkan bahunya. Merasa tidak perlu memberitahukan kepada Kinan alasan kenapa dia memilih tidak mengikuti mata kuliah pagi ini.

The Last Letter To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang