Jangan lupa tinggalkan vote dan komen. Biar aku makin semangat buat update cepat:)
~~~
Selepas mengambil beberapa buku yang tertinggal di kamarnya padahal dua puluh menit lagi kelas paginya dimulai, Kinan berlari tergopoh-gopoh menuruni undakan tangga lalu menyempatkan diri mengaca di toilet lantai bawah guna memastikan penampilannya jauh dari kata kacau.
Setelah dirasa cukup rapi, Kinan balik badan dan betapa terkejutnya dia saat menemukan si mungil Keyla berdiri di dekat pintu seraya menatapnya intens dengan boneka beruang dipelukannya.
Pemandangan gemas yang Kinan dapati itu menarik segaris senyum di kedua sudut bibirnya. Lantas diapun berjongkok di depan Keyla dengan mata menyipit.
"Hm, coba Aunty tebak, pasti kamu baru bangun, ya?"
"Iya, Aunty kok tau?" tanya Keyla penasaran. Pasalnya ketika dia terbangun tidak ada siapa-siapa di sekitarnya selain boneka-boneka kesayangannya yang memang setiap malam menemaninya. Sudah jelas jika tanpa boneka, Keyla tidak bisa terlelap.
"Jelas dong, itu rambut kamu berantakan, terus masih pakai piyama gambar beruang sama pakai sendal bulu-bulu, dan...." Kinan pura-pura berpikir keras, "Ilernya masih nempel lagi. Ih, Keyla jorok."
Yang diejek menyengir lebar sembari menyapu bercak putih di sudut bibirnya, "Hehehe, abisnya Key lupa cuci Muka, Aunty. Tadi langsung turun pas Kakek manggil."
Kinan mencubit pelan pipi gembulnya, "Untung kamu tetap cantik. Yauda sekarang Key cuci muka ya sekalian gosok giginya."
"Ndak bisa, Aunty. Aunty mau kan bantuin Keyla? Soalnya tiap pagi Mama selalu siapin sikat gigi sama odolnya buat Key."
Melirik resah jam di pergelangan tangan kirinya, Kinan memandang Keyla dengan raut bersalahnya, "Duh, maaf banget sayang. Aunty lagi buru-buru mau ke kampus. Sama Kakek aja nggak apa-apa ya?"
Bahu kecil itu merosot jatuh. Ada sorot kekecewaan yang terpatri di sana. Kinan tahu dan mencoba mengabaikannya. Andai saja tugas tak dikumpulkan hari ini di jam pertama, Kinan lebih milih bolos daripada masuk.
Kenyataannya yang Kinan hadapi sama-sama penting. Nilai dan Keyla.
Sepuluh menit telah berlalu membuat Kinan uring-uringan tak jelas. Mengkhawatirkan angkutan umum yang kerap lama datang di persimpangan jalan besar kalau Kinan tak cepat-cepat sampai di depan perkomplekan. Jalan ke sananya juga butuh waktu dan malahan sisa sepuluh menitnya bakal habis terbuang.
Keyla memasang raut sendu yang dengan gerakan kilat Kinan tangkup wajahnya.
"Maafin Aunty ya. Ada urusan yang nggak bisa Aunty tinggali gitu aja. Kamu pasti akan mengerti setelah kamu dewasa nanti." jelas Kinan gamblang.
"Pulangnya lama nggak, Aunty?"
Terdiam sesaat, Kinan bingung harus jawab apa. Kalau dia bilang besok pagi, takut Keyla makin sedih. Kalau dia bilang nanti sore, pekerjaannya gimana? Mr. Brown kemungkinan marah besar semisal dia tak datang bekerja. Ya meskipun belakang hari ini pria itu berubah menjadi lebih tenang dan baik padanya.
"Kayaknya ngg---"
"Sore Aunty udah pulang, Key," tiba-tiba sosok Brown muncul tak jauh dari posisi keduanya. Pria yang saat ini mengenakan kaos polos dipadukan celana jeans selutut itu tengah membawa nampan berisikan roti panggang, "Selama Aunty nggak ada di rumah, Key mainnya sama Kakek dulu ya."
Perkataan yang dengan segan Kinan berdiri, menatap Brown tak enak. Brown yang paham arti tatapannya tersenyum tipis, perlahan dia mendekat.
"Kamu nggak usah khawatir. Menyangkut pekerjaan, saya akan telpon pelayan lain untuk menggantikan kamu. Karena bagi saya, kebahagiaan Keyla lebih penting dari apapun."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Letter To You
RomanceKisah ini tentang sebuah kepahitan hidup, tentang pengorbanan yang sengaja diabaikan dan tentang surat-surat cinta yang dibiarkan teronggok mengenaskan tanpa ada satupun yang terbalaskan.
