Chapter 38 |Aku Tahu|

13K 1K 255
                                        

Happy Reading ⚘

"Sial!"

Umpatan itu keluar dari mulut Aldrick disertai dengan pukulan keras pada setir mobil di hadapannya. Wajah garangnya menatap lurus ke depan, matanya menyipit mencoba mengenali sesosok manusia yang hampir celaka ditabraknya.

Untuk beberapa saat mata setajam elangnya masih berusaha menelisik, mencoba menembus gelapnya malam dengan cahaya lampu mobil yang terpantul menyilaukan.

Detik berikutnya, dadanya seolah berdegup sedikit lebih cepat kala mengenali siapa pelaku yang hampir ia tabrak. Alis yang tertata rapi itu menyernyit, menampilkan wajah sulit diartikan.  "Kenapa dia bisa ada disini?"  Gumamnya rendah.

***

"Arghh! Sial! Kemana perginya wanita bodoh itu?! Aku yakin dia pasti mendengar percakapan kita, Ayah!" David menggeram frustasi ketika tak menemukan Joanna di segala penjuru rumah kayu yang baru pagi tadi mereka tempati.

Namun berbeda dengan David, Issak— Sang Ayah justru tampak sangat tenang seolah tak terjadi apa-apa. Seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan dari menghilangnya tawanan mereka, Joanna. Pria itu hanya melirik putranya sekilas, kemudian menelusupkan tangan kirinya ke dalam saku celana, mengambil benda pipih berbentuk persegi panjang dari dalam sana.
Pergerakan jarinya terlihat sangat lincah di atas benda tersebut, hingga akhirnya pria itu menempelkan benda tersebut ke telinganya.

"Berpencar dan cari wanita itu di segala penjuru hutan! Temukan dia sebelum matahari terbit, jika tidak kau tahu apa yang bisa kulakukan, benar?" Issak berucap tenang namun sarat akan ancaman. Pria itu menjauhkan benda tersebut dari telinganya dan kembali memasukkannya ke saku celana bahannya.

"Tenanglah David, wanita itu tidak mungkin berada jauh dari sini. Dia tidak mengenal wilayah ini, tempat ini sudah pasti terlalu asing baginya. Lebih baik kita kembali ke dalam, istirahatkan tubuhmu sebelum kita memasuki permainan utama kita." Ucap Issak. Pria itu bergerak memasuki rumah kayu tersebut dengan diikuti oleh David yang tampak pasrah kala mendengar perintah sang ayah. Sejujurnya David tak akan merasa tenang jika dirinya sendiri yang tak menemukan wanita bodoh itu, Joanna Oswald yang sangat merepotkan.

***

Mata yang tampak sembab itu terpejam kuat dengan tangan yang melindungi kepalanya. Tubuhnya gemetar hebat, menyadari bahwa dirinya hampir celaka beberapa detik yang lalu. Dengan jantung yang masih berdebar kencang, perlahan mata tersebut terbuka, namun tak sampai sedetik mata berwarna cokelat jernih itu kembali terpejam paksa. Cahaya terang begitu menyilaukan, seolah menyeruak menguasai pengelihatannya.

Ia berbalik, memunggungi arah datangnya cahaya tersebut. Sang puan perlahan membuka matanya, lantas berlari dengan sekuat tenaga menghindari mobil yang hampir menabraknya tadi. Ia tak peduli dengan rasa sakit yang menggerogoti kakinya akibat tusukan ranting kayu karena dirinya yang nekat menerobos semak-semak kering. Sebab saat ini, hanya ada ada satu hal yang tertanam di benaknya, yaitu menghindar dari mobil yang ia rasa kini tengah mengikutinya.

Wanita itu adalah Joanna. Ya, Joanna Oswald.

Langkah kakinya semakin dipercepat mengikuti kemana jalur beraspal itu berujung. Sesekali ia menoleh ke belakang dengan wajah sangsinya, tidak bisa dipungkiri bahwa jantungnya berpacu semakin cepat tiap detiknya. Mobil hitam tersebut terus mengikutinya dengan sorotan cahaya yang begitu terang, sangat menyilaukan sekaligus terasa mengancam bagi Joanna.

Joanna memang tidak tahu pasti siapa yang berada di dalam mobil yang kini terus mengikutinya, namun yang jelas, dipikirannya saat ini hanya tentang kewaspadaan. Pengendara tersebut bukan sosok yang pantas untuk ia minta pertolongan. Hutan ini terlalu terpencil, Joanna tidak yakin ada orang selain anak buah David yang berkeliaran di tengah gelapnya tempat ini.

ALDRICK'STempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang