"Pemimpin kelompok mafia?" Suara Joanna rasanya seolah tercekat di tenggorokan kala mendengar hal itu. "Pantas saja." Gumamnya pelan, wanita itu terlihat berpikir sembari menganggukan kepalanya kecil—membuat Aldrick yang melihat hal itu mengernyit bingung sekaligus gemas.
Aldrick terkekeh. "Apa kau kagum pada pamanku?" Tanyanya membuat sang puan menatap ke arahnya sembari menggeleng.
"Dibandingkan kagum, aku justru takut padanya." Balasnya.
"Berarti kau juga takut denganku?" Tanya Aldrick penasaran.
Joanna melirik sangsi, "Kau ... kau juga bagian dari ma—fia?"
Mengedikan bahu sejenak, pria Lington tersebut menjawab. "Menurutmu apa perkerjaanku selama ini? Hanya pekerja kantoran yang memiliki bisnis tambang di mana-mana?" Tanyanya penuh arti.
Joanna tergugu, menatap tak percaya. Dadanya tiba-tiba bergemuruh, takut.
Tawa Aldrick lepas. "Tidak usah takut. Aku tidak akan menyakiti mereka yang aku cintai, Anna. Termasuk kau." Bisiknya di telinga sang istri. "Lagi pula tidak ada celah untuk pergi dariku."
Joanna meremang, lantas menatap sang suami dalam diam.
Aldrick menarik senyum miringnya. "Kenapa kau lebih terkejut mendengar aku bagian dari mereka daripada saat aku menceritakan soal pekerjaan Gridon itu?"
Joanna mengerjap. "Entah." Gumamnya pelan.
Aldrick mengelus pelan surai sang istri. "Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi setelah mendengar pengakuanku, Anna?"
Joanna melirik sejenak. Jawabannya jelas tidak. Cinta bukan hal yang mudah hilang begitu saja. Untuk kasus Aldrick ini, ia mungkin hanya terkejut—tak menyangka bahwa orang yang ia cintai ternyata salah satu yang termasuk kriminal. New York adalah kota besar, seharusnya Joanna sudah memprediksi hal ini mengingat bagaimana kekayaan Aldrick dan bagaimana kejamnya pria itu dalam menghukum mereka-mereka yang sengaja mencari masalah dengan pria Lington tersebut.
Aldrick mengelus pipi Joanna dengan pucuk hidungnya kala melihat keterdiaman sang istri. "Hmm?" Ia menunggu jawaban.
Joanna menggigit bibirnya sejenak, "Tidak begitu. Aku hanya kaget mendengar apa yang kau katakan." Cicitnya.
Aldrick menarik senyum. "Kau tenang saja. Kelompokku masih termasuk yang suci di antara kelompok-kelompok mafia lainnya. Aku bahkan berteman dengan pemerintah." Bisiknya pada sang istri.
Lagi, Joanna melirik Aldrick. Suci? Jenis suci seperti apa yang suaminya maksud dalam hal ini? Mafia jelas sangat jauh dari kata itu.
"Kau takut?" Aldrick bertanya lagi.
Menimang sejenak, Joanna lantas menggeleng sebagai jawaban.
Aldrick mengangkat satu alisnya, memandang Joanna dengan seringaiannya. "Jadi kau tidak takut denganku lagi?"
Yang ditanya lantas menatap Aldrick, kemudian menarik senyum simpul. Ia sedikit mengedikkan bahu. "Mungkin sekarang sudah tidak."
Aldrick mengernyit. "Kau yakin?" Pria itu tersenyum misterius, tangannya bergerak untuk melingkar di pinggang kecil sang istri. Menarik tubuh itu agar semakin dekat dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALDRICK'S
ChickLit[LENGKAP] 21+ Bagi seorang gadis desa seperti Joanna, menginjakkan kaki di tanah kota adalah salah satu hal yang Ia idamkan. Baginya kota sangatlah indah, lengkap dengan tatanannya yang berkelas. Sayangnya hal itu berubah sesaat setelah ia bertemu...
