Chapter 37 |Joanna Hanya Marah|

12.2K 888 93
                                        

Happy Reading ⚘

Seminggu adalah waktu yang Aldrick rasa cukup untuk pemulihan luka dan lebam di beberapa sudut tubuhnya. Luka di wajahnya pun mulai mengering, lebam-lebam yang tadinya berwarna ungu kebiruan kini sudah terlihat samar, nyaris tak nampak.

Namun sayangnya, waktu seminggu tak cukup mengobati perih hatinya akibat ucapan Joanna yang bahkan tak butuh waktu sampai satu menit bagi wanita itu mengutarakannya. Hanya deretan beberapa kalimat yang terucap datar dan penuh penekanan berhasil membuat hatinya seolah teriris, membuat kerja kerasnya untuk berubah seketika hancur, bahkan saat ia baru ingin memulainya.

Seminggu terasa sangat lama bagi pria Lington ini. Hari-harinya ia jalani dengan berbagai pertanyaan yang terus bermunculan di pikirannya secara bertubi-tubi, seolah tak memberi izin baginya untuk sekedar mendapatkan satu malam yang tenang. Namun Aldrick mencoba untuk tetap berpikir positif, walau berbagai spekulasi negatif sering hinggap dan berusaha menepis pikiran positifnya itu.

Kejadian seminggu lalu membuat semuanya berubah drastis. Membuat keadaan yang sudah buruk, kian bertambah buruk. Nyaris tak bisa Aldrick kendalikan.

Aldrick tahu bahwa kesalahan dan sikap buruknya terlampau banyak. Pria itu tahu bahwa mungkin sangat sulit untuk memaafkan dirinya yang sudah terlalu banyak membuat luka. Tapi, tidakkah Joanna tahu bahwa ia sudah berusaha berubah? Tidakkah wanita itu tahu, bahwa Aldrick telah menyesal atas semua sikap buruk yang selama ini ia lakukan? Tidak bisakah Joanna melihat penyesalan itu?

Dalam hening suasana yang menyelimutinya, Aldrick menghela nafas, pria itu mencoba menarik fokusnya kembali, ia sedikit membenarkan jas hitamnya kemudian beranjak keluar dari walk-in-closet. Pria itu melanjutkan langkahnya keluar dari kamar, namun sebelum benar-benar meninggalkan kamar bernuansa hitam pekat itu, langkah Aldrick terhenti di ambang pintu-menatap lamat seluruh ruangan yang cukup menyimpan banyak kenangan. Entah kenangan pahit maupun manis yang ia jalani setiap harinya bersama wanitanya, Joanna.

Tapi sekarang semua telah berubah. Tak ada Joanna lagi di sini, wanitanya telah pergi dengan secara sengaja meninggalkan luka yang begitu menyakitkan untuknya. Joanna memilih pergi bersama dua manusia berengsek yang begitu Aldrick benci bahkan hingga akhir hayatnya nanti.

Namun, Aldrick tak akan menyalahkan Joanna. Ia sangat sadar bahwa sikap pemberontakan dan penghianatan yang telah istrinya itu lakukan adalah buah dari akibat sikap buruk yang selama ini Aldrick lakukan pada wanita itu. Sosok Joanna terlalu naif untuk mampu mengimbangi kelicikan kedua manusia biadap tersebut.

Maka dari itu, Aldrick pastikan bahwa ia akan membawa wanitanya itu kembali. Akan ia jelaskan semua kesalahpahaman di antara mereka, sampai tak ada lagi ruang untuk sebuah keraguan. Kali ini tanpa paksaan, Aldrick akan meminta Joanna untuk memulai awal yang baru dengannya, mengajak istri terkasihnya untuk bersama-sama menciptakan berbagai kenangan manis.

Aldrick tak lagi suka melihat Joanna menangis. Ia tak lagi menyukai kala raut kesedihan menghiasi wajah cantik sang istri. Maka ia berjanji, hanya akan ada senyuman yang melengkung di bibir manis Joanna. Hanya akan ada kebahagian tanpa kesedihan, tak akan ia biarkan Joanna kembali menangis, terlebih dengan dirinya sebagai alasan.

Tapi sebelum itu, Aldrick perlu menghancurkan penghalang kebahagian itu terlebih dahulu. Ia perlu menghancurkan akar dari permasalahan ini.

Si berengsek Issak dan David. Akan Aldrick hancurkan mereka sampai pada titik terburuk dari yang mampu mereka bayangkan.

. . .

Kaki berbalut kain hitam formal tersebut melangkah dengan tegas melewati para maid dan anak buahnya yang berbaris rapi di sepanjang jalan dengan kepala tertunduk rendah, menyiratkan rasa hormat untuknya. Dibelakangnya diikuti oleh Niel-sang tangan kanan kepercayaannya.

ALDRICK'STempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang