Happy Reading ⚘
"Kau lapar?" Aldrick melirik Joanna—wanita yang berjalan di sampingnya, kala melihat kening sang wanita beberapa kali mengerut kecil sembari memegangi perutnya. Yang ditanya menoleh, terdiam beberapa saat dan pada akhirnya menggeleng sembari tersenyum kecil.
"Kau yakin?" Tanya Aldrick penuh selidik. Ia menduga Joanna hanya malu mengakui hal tersebut, padahal menurut Aldrick lapar di kondisi seperti ini adalah normal. Pasalnya siapa yang tak lapar jika sedari kemarin malam tidak makan atau bahkan minum setetes air pun?
"Iyaa, Tuan. Kau tenang saja, bagaimana denganmu? Kau tidak lapar?" tanya Joanna balik.
Aldrick mengedikan bahu, "Sedikit. Dibandingkan lapar, aku justru sangat haus sekarang."
Joanna mengangguk samar, setuju dengan perkataan sang pria.
Keduanya berjalan beriringan tanpa tujuan, titik fokus mereka dipenuhi oleh pohon - pohon yang menjulang tinggi dengan tetesan air hujan yang tersisa diujung dedaunan. Hembusan angin pagi terasa begitu menyejukkan. Walau tak sedingin tadi malam, namun cukup membuat keduanya tanpa sadar berusaha mencari kehangatan.
"Kita harus kemana lagi, Tuan?" Suara Joanna kembali terdengar setelah cukup lama keheningan menguasai. Wanita itu terlihat cukup letih, hanya saja ia berusaha untuk terlihat baik - baik saja.
"Entahlah, kita harus terus berjalan sampai aku menemukan jaringan ponselku dan menghubungi Niel. Aku sendiri tidak familiar dengan hutan inim" Jawab Aldrick sekenanya, ia menoleh ke arah Joanna. "Aku tahu kau lapar, Sayang."
Joanna menoleh, sedikit tersentak mendengar panggilan Aldrick untuknya. Mengerjap, ia memilih mengalihkan pandangan kala tak kuasa menatap kedua mata Aldrick yang menatapnya intens.
Aldrick terkekeh kecil melihat respon tersebut, ia raih tangan Joanna. Menggenggamnya. "Semoga kita menemukan pohon apel atau pir liar di hutan ini." Gumamnya sembari mengecup sekali punggung tangan Joanna—membuat sang empu dilanda kecanggungan luar biasa.
Mereka terus berjalan dengan harapan bisa cepat menemukan jalan keluar dari hutan belantara ini. Udara terasa begitu lembam akibat hujan deras tadi malam. Tanah berwarna kemerahan terlihat becek, menodai kaki mereka.
Tak berselang lama, terdengar suara desahan lega dari Aldrick. Pria itu mengangkat tinggi telepon genggamnya, matanya menatap harap - harap pada tangga jaringan yang mulai terlihat di pojok kanan atas layar ponselnya. Tanpa buang waktu, pria itu mencari kontak Niel—sang tangan kanan.
Sementara Aldrick yang terlihat sibuk dengan ponselnya, Joanna justru berjalan menuju pohon pir liar yang berada tepat di belakang semak-semak tak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Beruntung sekali netranya menangkap keberadaan pohon liar tersebut, setidaknya beberapa buah bisa mengganjal rasa laparnya yang terasa merangsak.
Dengan senyum kecilnya, wanita itu berjalan cepat menuju pohon tersebut. Kemudian memetik beberapa buah yang cukup dijangkaunya tanpa harus memanjat. Joanna sesekali melirik ke arah Aldrick sembari tangannya yang bergerak aktif. Setelah dirasanya sudah cukup, wanita itu pun kembali ke tempat semulanya. Dia memperhatikan Aldrick yang sibuk berbicara, dengan sesekali menggigit buah pir di tangannya.
"Bagaimana, Tuan?" Tanya Joanna ketika Aldrick sudah selesai dengan kegiatan teleponnya.
Aldrick yang mendengarnya pun menoleh ke arah Joanna, pria itu seketika mengernyit ketika mendapati beberapa buah di tangan wanita tersebut. "Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Aldrick yang menghiraukan pertanyaan Joanna.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALDRICK'S
ChickLit[LENGKAP] 21+ Bagi seorang gadis desa seperti Joanna, menginjakkan kaki di tanah kota adalah salah satu hal yang Ia idamkan. Baginya kota sangatlah indah, lengkap dengan tatanannya yang berkelas. Sayangnya hal itu berubah sesaat setelah ia bertemu...
