Happy Reading ⚘
Joanna meremas erat pakaiannya, matanya menatap narar orang - orang yang kini tergeletak di bawah dengan luka dan darah di tubuh mereka. Pandangannya menyelinap, mencoba mencari objek sesungguhnya dari balik tubuh - tubuh kekar yang seolah membentuk benteng di sekitarnya. Wanita itu menelan ludahnya kasar ketika netranya berhasil menangkap sosok yang dicarinya, Aldrick. Pria yang menjadi sumber kekhawatiran terbesarnya itu kini tengah bergulat dengan Issak.
Entah sudah kali keberapa wanita itu menggumamkan kalimat doanya, seolah tak pernah lelah untuk merapalkan kalimat yang sama setiap detiknya. Joanna meraba benda mematikan yang terikat di antara di sekitar pahanya, di genggamnya kuat benda tersebut sembari mencoba meyakinkan diri. Menarik nafas sejenak, wanita itu terkesiap tatkala mendengar teriakan Aldrick yang memintanya berlari sejauh mungkin.
Kembali menelan ludahnya mentah - mentah, Joanna menatap para anak buah Aldrick yang tadinya membentuk benteng di depannya kini berlari ke depan dan menghajar orang - orang yang berupaya mendekat ke arahnya. Joanna tak bisa mendeskripsikan bagaimana suasana saat ini, yang jelas suara pukulan terus terdengar seolah membentuk melodi menyeramkan dengan ritme yang sama.
Joanna meneteskan air matanya, tanda kekhawatiran dan ketakutan yang melebur mengelilingi dirinya. Wanita itu menatap Aldrick yang masih terlihat kokoh meleyangkan serangannya pada Issak, namun sang suami terlihat begitu berantakan. Wajahnya dihiasi lebam, jangan lupakan darah yang menetes di pelipis dan sudut bibirnya. Juga lengan kanannya yang tergores hingga kemeja dan jas hitamnya sobek membentuk garis cukup lebar.
"Joanna! Tinggalkan tempat ini!" Teriakan Aldrick kembali mengalun di telinganya. Joanna bimbang, ia tidak ingin pergi dan meninggalkan Aldrick dalam keadaan seperti ini.
Joanna memejamkan mata, wanita itu memantapkan hatinya. Ia melirik Aldrick sekilas, lalu berlari menjauh dari lokasi tak kondisif itu. Kedua kakinya bergerak saling berbalapan, menerobos semak - semak dengan ranting kecil yang cukup tajam tanpa ragu. Tangan kanannya kini menggenggam erat pistol yang telah sempurna ia genggam, pandangannya lurus ke depan dengan pikiran yang terus mengulang kalimat Aldrick setengah jam yang lalu.
"Jika nanti aku menyuruhmu untuk berlari, maka larilah. Tunggu aku di goa yang kita tempati kemarin malam, berusahalah agar mereka tidak tahu keberadaaamu.
Jangan khawatirkan aku, aku berjanji akan tetap baik - baik saja. Aku akan menemuimu sebelum matahari tenggelam, itu janjiku."
Mengingat deretan kalimat itu membuat Joanna memejamkan matanya sejenak, tetesan air mata menyelinap keluar dari balik kelopak matanya. Wanita itu masih dapat merasakan sapuan hangat di keningnya tepat setelah Aldrick mengatakan hal itu.
Joanna menengok ke belakang, langkah cepatnya perlahan berubah menjadi langkah pelan penuh keputusasaan. Wanita itu mengadahkan pandangannya ke atas, menatap langit yang tampak sedikit ditutupi pepohonan. Cahaya matahari begitu cerah, pergantian siang menjadi sore dirasanya akan begitu lama. Sedetik kemudian wanita itu kembali berlari, menghiraukan rasa lelah dan takutnya. Beruntung, kilasan denah menuju goa tersebut masih terekam di pikirannya. Walau tak begitu jelas, namun besar harapannya agar ia bisa menemukan goa tersebut.
Semakin lama keringat semakin membasahi tubuhnya, terik matahari seolah membakar kulit. Joanna berpikir keras, benarkah ini jalan menuju goa itu? Kenapa sedari tadi ia tidak melihat tanda - tanda keberadaan goa tersebut? Joanna menelan ludahnya, ia merasa begitu haus. Wanita itu melirik ke kanan dan kirinya, tak ada objek lain yang dilihatnya selain pohon dan semak - semak.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALDRICK'S
ChickLit[LENGKAP] 21+ Bagi seorang gadis desa seperti Joanna, menginjakkan kaki di tanah kota adalah salah satu hal yang Ia idamkan. Baginya kota sangatlah indah, lengkap dengan tatanannya yang berkelas. Sayangnya hal itu berubah sesaat setelah ia bertemu...
