Happy Reading ⚘
Mobil hitam yang dikendarai Aldrick nyaris berputar tiga ratus enam puluh derajat ketika sebuah peluru berhasil menembus ban mobil bagian belakang yang ia kendarai. Beruntung pria Lington itu masih mampu mengendalikan mobilnya dengan cukup baik.
Area hutan ini sudah mulai tidak kondusif, di balik pepohonan yang samar oleh gelapnya malam, Aldrick sudah menduga bahwa di sana bersembunyi para bawahan Issak dan David. Pada dasarnya ia sekarang berada di kawasan dua keparat itu, maka tak menutup kemungkinan bahwa hutan belantara ini telah dipenuhi oleh orang-orang Issak yang tersebar di setiap sudut.
Menyadari keadaan yang tak menguntungkan bagi ia dan orang-orangnya, Aldrick tak memiliki pilihan selain melawan—paling tidak Aldrick percaya dengan kemampuan para anak buahnya. "Lakukan perlawanan!" Perintahnya pada Niel di seberang telepon sana.
Tanpa membuang waktu, Aldrick membuka dashboard dan menggambil sebuah pistol yang berada di sana, lantas memberikannnya kepada Joanna. Sedangkan sang istri yang sudah ketakutan sedari tadi terlihat enggan untuk menerima pistol itu. Tangan wanita itu gemetar, ia menggelengkan kepalanya kuat. "Aku tidak bisa. Aku tidak cukup berani, Tuan." Sangsinya menatap benda bertimah panas itu.
Aldrick mendesah pelan, ia sangat tahu bahwa Joanna tidak terbiasa dengan benda mematikan ini, tapi saat ini mereka tidak punya pilihan lain selain melawan. Pria itu lantas mengambil pistol yang Joanna jatuhkan, tangannya bergerak untuk menggenggam tangan gemetar wanita tersebut. Dengan pelan Aldrick memberikan pistol tersebut pada Joanna, satu tangannya lantas mengelus pelan surai hitam legam wanita tersebut. "Percayalah, kau pasti bisa. Kita tidak punya banyak waktu lagi sekarang."
Joanna bergeming menatap benda yang kini berada di tangannya, sebulir air mata luruh—ia sangat takut dengan kondisi ini.
"Kau bisa, Anna. Gunakan benda ini kepada siapa saja yang membuatmu merasa terancam. Gunakan benda ini tanpa ragu, mengerti?" Ucap Aldrick.
Sejujurnya Aldrick pun merasa tak tenang di kondisi ini. Bukan takut dirinya terluka, namun ia takut Joanna menjadi korban. Bagi Aldrick, masa kelam yang menghantui dirinya beberapa tahun belakangan ini sangatlah membuatnya frustasi. Dan sekarang, di kala dirinya dihadapkan dengan situasi yang nyaris serupa—dengan pelaku yang sama—ketakutan di benak Aldrick terasa kian membelenggu. Walau Aldrick sudah bertekad untuk tak akan membiarkan Joanna bernasib sama seperti Lilia tapi pria itu tetap merasa sangsi. Maka dari itu, rencana Aldrick saat ini adalah mengamankan Joanna sebelum nantinya ia akan memberikan perlawanan penuh kepada para keparat itu.
Joanna menelan salivanya yang terasa serat, perlahan ia mengangguk—mengumpulkan tekad. Bagaimana pun Joanna merasa dirinyalah yang membuat mereka terjebak dalam keadaan seperti ini. Maka setidaknya, ia tak boleh menjadi beban bagi Aldrick.
Wanita itu menggenggam erat pistol di tangannya, manik matanya menatap dalam mata legam Aldrick. "Terimakasih."
Aldrick tersenyum simpul, kemudian mengecup dalam kening Joanna. "Ayo, kita harus segera mengakhiri ini."
Kala mereka keluar dari mobil dan hendak menjangkau tempat yang aman, beberapa pria kekar sudah terlebih dahulu menghadang keduanya.
"Sial!" Aldrick mengumpat sebelum akhirnya pria itu melayangkan pukulan dan tendangan kerasnya pada orang - orang yang berusaha menghalau dirinya.
Bhugh!
Bhugh!
Tidak buruk. Batin Aldrick bergumam bangga, cukup beberapa pukulan dan orang - orang itu sudah tumbang menahan sakit. Walaupun tak sampai merenggang nyawa, setidaknya ini cukup untuk membuat mereka tak bisa berdiri beberapa saat.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALDRICK'S
ChickLit[LENGKAP] 21+ Bagi seorang gadis desa seperti Joanna, menginjakkan kaki di tanah kota adalah salah satu hal yang Ia idamkan. Baginya kota sangatlah indah, lengkap dengan tatanannya yang berkelas. Sayangnya hal itu berubah sesaat setelah ia bertemu...
