DTBB; 3

17.5K 1K 59
                                        

-oOo-

Pagi yang cerah menyambut Pingki yang baru terbangun dari tidurnya. Semalam, dirinya dibangunkan untuk makan. Awalnya Pingki tak menyangka, namun ia tahu alasan tante Maya melakukan itu karena om Irawan yang mencari Pingki. Pingki menyerngit kala Tante Maya memperlakukannya dengan baik didepan om Irawan namun saat tak ada om Irawan, macan betina langsung muncul dari dalam diri tantenya.

Selesai dengan semua urusannya, Pingki berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan yang sudah lengkap dengan keluarganya serta berbagai macam hidangan yang sungguh sangat lezat. "sini Pingki, kita makan bersama." ucap Tante Maya dengan senyum tipis diwajahnya.

Pingki tersenyum kikuk kemudian duduk disamping Meldy yang sekarang memandang dirinya dari atas sampai bawah seperti meneliti sesuatu.

Selesai makan, Pingki berniat akan berangkat sekolah terlebih dahulu namun ditahan oleh om Irawan. "Pingki, biar kamu berangkat bareng Meldy dan Sindy diantar PK Yanto."

Meldy membulatkan matanya mendengar keputusan sang papa. "papa apa-apaan sih. Gak, Meldy gak mau bareng dia." tunjuk nya kearah Pingki.

"Meldy, kamu harus menuruti ucapa-"

"tidak perlu om, biar Pingki naik taksi aja. Solnya udah terbiasa." potong Pingki kemudian menyalami tangan om Irawan dan beralih ke Tante Maya yang sedikit menekan tangannya saat bersalaman.

"eh, Pingki tunggu." langkah kaki Pingki berhenti mendengar ucapan Om Irawan. Kemudian, membalikkan badan agar lebih mudah saat berbicara. "iya, om."

"nih, uang buat naik taksi." om Irawan menyodorkan uang berwarna merah sebanyak dua lembar yang membuat Meldy dan Sindy membinarkan kedua matanya.

"e-eh, gak usah om, Pingki kan masih punya uang."

"udah ambil aja, uang kamu ditabung. Mau buat om kecewa?." dengan berat hati akhirnya Pingki menerima uang itu. Pingki sering diajari oleh Alm. Ayah dan bundanya agar tak menerima barang jika sudah kita punya, lebih baik dirinya saja yang memberi bukan yang menerima. Tapi terpaksa, tak mau membuat om kecewa Pingki harus melakukannya.

"terus buat Meldy sama Sindy mana pa?" ucap Sindy dengan mengadakan sebelah tangannya seperti meminta sesuatu.

"kalian sudah papa kasih kemarin. Seharusnya kalian bisa mencontoh Pingki, uang seratus ribu saja bisa menjadi uang saku selama beberapa hari. Sedangkan kalian, seratus ribu habis dalam satu menit. Kalian harus hemat, mengerti?!"

"Pingki lagi, Pingki lagi. Terus aja tuh bela, ponakan kesayangan papa." ucap Meldy meninggalkan tempat itu dengan kaki yang dihentakan beberapa kali.

Pingki yang sedari tadi menunduk sambil mendengarka perdebatan kecil keluarga ini menjadi merasa bersalah. Pingki berlari kecil mengejar Meldy dan Sindy yang sudah pergi sedari tadi.

"kak Sindy, kak Meldy." teriak Pingki membuat Meldy yang akan membuka pintu mobil terurungkan niatnya.

"ini, uangnya buat kakak aja. Pingki masih punya simpenan." Pingki menyodorkan uang seratus ribuan yang diberi om Irawan tadi untuknya.

Mata Meldy langsung berbinar dan tangannya bergerak akan mengambil uang tersebut namun ditahan oleh sang kakaknya, Sindy. "kita gak perlu Lo kasihani. Asal Lo tau, uang kita lebih banyak dari Lo, jadi gak usah belagu."

Sebelum benar-benar masuk kedalam mobil, Meldy menyempatkan diri untuk mendorong pundak Pingki. "gue bakal kasih Lo pelajaran. Liat aja nanti."

Pagar besi yang lebar nan tinggi sudah terbuka menampakkan bangunan megah yang memiliki 4 tingkat. Sekolah barunya ini sangat mengagumkan, sungguh berbeda dengan sekolah saat dirinya masih SMP dulu yang hanya memiliki 3 tingkat.

Delon The Bad Boy (PROSES TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang