Bolehkah Aku Mencintai?-Perdebatan dan Sebuah Bukti

1.1K 76 4
                                        

Hai sobat sfyvers selamat sianggg🥰😍
Bagaimana kabar kalian?? Semoga selalu sehat🙏
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yak😁
.
p.s : TYPO BERTEBARAN
HAPPY READING !


Bukannya aku tidak ingin percaya. Namun entah mengapa hatiku tidak pernah mampu mendengar hal itu.
.
.
.
.

Aku dan Ali sama sama menyebut nama Sasya, saat kami mendengar suara tembakan yang begitu keras dibelakang kami.

Sasya, gadis itu membawa sebuah pistol yang diarahkan tepat kepada Tuan Praja. Apa Sasya menembaknya? Aku kembali menoleh kearah Tuan Praja, dan benar saja, Tuan Praja saat ini sedang memegang bagian perutnya yang sudah dilumuri darah. Beberapa anak buahnya mulai datang dan menghampiri dia.

"Dek! Kamu gapapa kan?" Ali langsung menghampiri Sasya, memeriksa kondisinya. Gadis itu terlihat shock atas apa yang baru saja terjadi, pistol ditangannya ia jatuhkan begitu saja.

"Abang" suara lirih itu keluar dari bibir Sasya, ia tiba tiba saja terisak tubuhnya terlihat gemetar.

"Sasya takut" gumam Sasya, Ali memeluk Sasya, memberikan ketenangan pada gadis itu. mendapat pelukan dari Ali justru membuat tangisan Sasya semakin keras.

"Ssttt.. kamu tenang aja, ada abang disini, kamu gak akan kenapa-napa" ucap Ali

Aku yang berdiri tidak jauh dari mereka mencoba untuk mendekat, aku memegang bahu Ali yang membuat pria itu menoleh kearahku.

"Lebih baik kita pergi dari tempat ini sekarang" ucapku dan disetejui oleh Ali, tanpa banyak bicara Ali menarik lenganku dan Sasya menuju mobil yang ternyata ia parkir tidak jauh dari rumah ini.

-----

Neara melihat kearah Ali, pria itu sedaritadi hanya diam saja tidak banyak berbicara, Neara menjadi gusar sendiri, takut takut Ali melewati banyak masalah karena mencarinya.

"Li?" Ali tersentak saat sebuah tangan menepuk bahunya. Senyum dibibir pria itu terbit saat melihat seorang gadis yang begitu ia cintai berdiri disampingnya.

"Kamu lagi ngapain diluar? Keliatannya kamu lagi banyak pikiran ya?" tanya Neara

Ali menggeleng pelan, "Aku gapapa, Ra. Cuma mencari angin segar, sumpek aja didalam"

Neara mengangguk, percaya dengan apa yang pria itu ucapkan, "Ini aku bawakan coklat hangat, kamu minum yah biar lebih tenang"

"Terima kasih iya" Neara mengangguk.

Keduanya sama sama diam menikmati segelas coklat panas yang cukup menghangatkan tubuh mereka ditengah semilir angin di LA pada malam hari. Cukup lama keduanya diselimuti keheningan.

Neara sendiri bingung harus memulai pembicaraan darimana. Banyak pertanyaan di otaknya yang sangat ingin dia tanyakan kepada Ali. Tapi melihat pria itu yang sejak tadi diam bahkan terkadang melamun membuat Neara mengurungkan niatnya untuk membahas hal itu sekarang.

"Kamu mau nanya apa?" Prilly terkejut saat tiba tiba saja Ali mengucapkan hal itu. Dari mana Ali tahu bahwa Neara ingin menanyakan sesuatu padanya?. Pikir Neara

"Hah?? A.. aku .. aku gak mau nanya apa apa kok" ucap Neara

"Kamu gak perlu bohong. Silahkan tanyakan apapun itu yang menganggu pikiran kamu" ucap Ali

Sejenak terlihat Neara menghela nafasnya kasar, ia meremas kedua tangannya. Tiba – tiba saja ia menjadi gugup dan ragu menanyakan hal itu.

"Soal Anggi?" tebak Ali, Neara mengangguk pelan.

Bolehkah Aku Mencintai(?)✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang