Sekolah mengadakan pekan olahraga setiap tahun sekali di SMA Mandala. Banyak cabang olahraga yang akan diperlombakan dalam ajang tersebut. Terlihat banyak siswa yang sudah memakai atribut lengkap dalam ajang mereka masing-masing. Ada renang, volly ball, basket ball, futsal, tenis dan lain sebagainya. Tenis akan diwakili oleh Agam dan Manu. Sona absen karena memang ia belum siap untuk melakukannya. Belum lagi masalah yang ada, ia pasti tak akan pernah fokus. Agam sudah terlihat tampan memakai boxer olahraga selutut, tubuhnya yang atletis terpampang jelas kala ia memakai T-shirt polo sport. Sona duduk di tribun bersamaan dengan Tiara yang menunggu Manu keluar ke arena. Sekilas Agam menatap Sona dari kejauhan membuat Sona merasa aneh dengan tatapannya kala itu. Ia tersenyum lebar seakan memberitahu bahwa ia akan memenangkannya untuk Sona.
"Ada apa sama gue akhir-akhir ini. Tingkah Agam yang gak biasa, selalu membuat gue mikir kalau dia adalah orang lain, bukan Agam yang gue kenal," batin Sona dengan terus menatap posisi Agam berdiri di tengah lapangan.
Agam bermain di pertandingan satu dan Manu di pertandingan dua. Beberapa jam mengikuti ajang tersebut, mereka bisa menyabet piala kejuaraan ajang tenis. Keringatnya masih mengucur jelas di wajah Agam membuat beberapa siswi kala itu tertegun kaget. Agam yang selama ini tak pernah terlihat maskulin juga tubuh kekar dengan ABS yang tak pernah terekspos tersebut memiliki karisma yang memang benar-benar tidak terduga. Ia menampar beberapa wanita dengan ketampanan juga prestasinya kala itu.
"Son!" Agam dan Manu menunjukkan kedua piala yang mereka dapat. Sona melotot kaget, akhir-akhir ini ia merasa aneh sendiri ketika bersama temannya itu. Ia disodori penghargaan secara bersamaan dari kedua temannya. Dan bodohnya lagi, Sona merasa harus memilih piala mana yang akan ia ambil. Sona segera menepis kehaluannya lagi saat itu. Ia hanya tersenyum melihat mereka yang berbahagia.
"Son, lo ngelamunin apa?"
Sekilas pertanyaan Tiara membuat Sona tersadar.
"Manu, Agam, selamat ya!"
"Makasih Tiara."
Manu menatap sipu Tiara yang ikut tersipu. Sedari tadi Agam melihatnya aneh. Bahkan akhir-akhir ini pun Manu dan Tiara semakin jauh akrab. Mereka tak canggung atau saling terganggu satu sama lain lagi seperti mereka baru saling mengenal satu sama lain karena Sona.
"Ada apa lo sama Tiara?" bisik Agam membuat Manu kaget.
"Jangan nutupin apapun dari gua ya." Bisikan Agam dengan terkekeh membuat Manu seketika blushing.
Sona berpapasan dengan Elang yang membuatnya bergidig jijik.
"Gue perhatiin, si Sona makin cantik aja. Dia kan sekarang susah, tapi lebih cantik dari yang gue duga," batin Elang berkata lain, yang tadinya berniat menghina sekarang malah memuji.
"Son, tunggu!"
Sona terhenti sejenak untuk mendengar salah satu dari setiap ucapan Elang yang pasti sudah ia artikan adalah omong kosong.
"Mau apa lo?" Sona bertanya dengan wajah datar.
"Gue mau minta maaf!"
"Gue udah maafin lo."
Elang melotot, tak mengira jawaban Sona.
"Em, kita kita ... kita bisa ..."
"Jangan harap lo sebut gue sama lo dengan kata kita. Dan sampai kapanpun, lo orang termenjijikan yang pernah gue temuin!" Ucapan Sona membuat Elang mendengus heran. Ia bahkan tak segan mempermalukan Elang saat itu membuat Elang sendiri tertegun emosi yang tertahan.
"Brengsek nih cewek!" Elang mengumpat dalam batin.
Belum sampai Sona melangkah, Elang memaksa memeluk Sona. Taman memang sudah sepi, tapi Elang yang beringas menahan Sona dengan pelukannya. Sona ketakutan setengah mati saat itu. Susah payah sekali ketika sebuah teori tenaga seorang lelaki lebih besar dari perempuan itu menjadi sebuah kebenaran. Sona terus berusaha melepaskan Elang dari tubuhnya.
"Elang lepasin gue, apa-apaan lo. Gue teriak nih!"
"Teriak aja kalau berani. Lo udah hina gue abis-abisan. Lo harus tanggung jawab, lo gak bisa lepas dari pelukan gue," bisik Elang membuat Sona semakin takut, ia meringis kesakitan karena pelukan Elang dari belakang itu.
Agam muncul, melepaskan Sona dan memukul keras wajah Elang sekali pukul, membuat Elang terkapar jatuh lagi karena pukulannya.
"Bangsat! Sekali lagi lo sentuh Sona, lo bakalan mati di tangan gue!"
Agam membawa Sona yang sudah menangis ke kantin Bu Fitri.
"Den Agam, Neng Sona tèh kunaon?"
"Gak apa-apa kok bi. Biasa, masalah cewek." Agam tersenyum tampan.
"Son lo gak apa-apa?"
Sona menggeleng pelan kepalanya.
"Gue bakal habisin si Elang sekarang juga!" Agam hendak melangkah mengejar Elang namun Sona menahannya.
"Cukup Gam!" Sona menggelengkan pelan kepalanya.
"Gue gak mau dia bikin masalah sama lo."
"Tapi dia udah keterlaluan Son."
"Gue mohon jangan, demi gue."
Agam duduk kembali ke tempat semula. Mereka melangkah menuju kelas. Kala itu Elang bolos tanpa keterangan. Semenjak semua tahu sikap aslinya, Elang jarang sekali masuk kelas. Terlebih lagi, guru BK sudah mulai memanggilnya beberapa kali.
Manu terlihat sedang mengobrol santai dengan Tiara. Ia mulai bisa merasa nyaman kembali setelah masalah orangtua yang menerpanya. Sona terlihat murung menbuat Manu mengalihkan pembicaraannya.
"Son? Lo sakit?"
Agam terlihat bungkam membuat Manu merasa ada sesuatu di antara mereka.
"Gam? Dari mana lo?" Manu menatap Agam meminta penjelasan.
"Gue abis jajan sama Sona."
"Gak ada sesuatu yang terjadi sama Sona kan?"
Agam menggeleng pelan.
Voment thx💚
KAMU SEDANG MEMBACA
SONA
Teen FictionCinta atau persahabatan? Mana yang akan kau pilih? Sona, Agam dan Manu. Ketiga anak SMA itu telah bersahabat sejak lama. Bahkan persahabatan mereka sudah diartikan layaknya keluarga. Namun, persahabatan yang mereka jalin dengan baik malah terpecah b...
