Sore menjelang, Agam sudah terlihat menunggu Sona di taman dekat sekolah. Ia sudah menunggu bahkan dari satu jam lalu. Ia takut, Sona akan pergi jika tidak bisa menemuinya di taman. Sebentar ia melirik arlojinya. Terdengar suara sepatu membuat Agam menoleh begitu cepat.
"Agam?"
"Elsa?"
Ya, Agam bertemu dengan Elsa, teman seangkatannya. Ia yang pernah berjanji untuk tidak lagi menganggu Sona di sekolah waktu itu.
"Lo lagi apa di sini?"
"Lagi nunggu seseorang," jawab Agam datar.
"Siapa? Pacar lo ya?"
Mata Agam memencar canggung.
"Bukan. Btw, lo ngapain di sini?"
"Emm gue bete banget. Gue sering ke sini kalau lagi bete."
"Emmm gitu."
Elsa menatap Agam lama membuat Agam terlihat bingung.
"Ada apa? Lo gak pulang?"
"Ada yang mau gue omongin sama lo."
"Soal apa?"
Elsa menatap lama Agam yang malah aneh dengan tatapannya yang tak bermaksud. Tiba-tiba saja Elsa memeluk Agam dengan erat membuat Agam melotot heran bersambung kaget.
"Gue gak tau selama ini gue berpikiran terus tentang lo. Gue selalu kepikiran lo yang nolongin gue. Gue suka sikap lo, gue suka cara lo bicara sama wanita."
Elsa membuat Agam masih melotot kaget. Ia segera mendorong paksa melepaskan pelukan Elsa.
"Apa-apaan lo?!" Agam terlihat ketus, namun mungkin ia hanya terkejut karena sikap Elsa yang gegabah dan menyentuhnya tanpa izin. Alisnya sudah terangkat emosi.
"Agam. Gue selalu niat buat nelpon lo tapi gue gak pernah ada keberanian apapun. Dan akhirnya, gue nemuin lo secara kebetulan begini. Ini kesempatan gue buat ungkap sesuatu sama lo."
Agam memicing aneh menatap Elsa dengan bingung.
"Apa maksud lo?"
"Gue ... gue suka sama lo Gam." Ucapan Elsa membuat Agam tertegun kaget, matanya melebar seketika.
"Apa? Su ... suka?"
"Iya gue suka sama lo sejak lo nolong gue dan bilang untuk ngejauhin Sona waktu sekolah. Semenjak itu, gue terus kepikiran omongan lo juga diri lo. Entah apa yang gue rasain saat ini, gue bener-bener gak bisa ilangin bayangan lo dari mata gue."
Agam masih kebingungan dengan hal itu.
"Elsa. Gue gak pernah tau ini akan terjadi. Tapi apa yang lo omong saat ini, itu mustahil. Dan gue ... gue gak pernah punya perasaan apapun ke lo."
Agam membuat Elsa menatap sendu dirinya. Elsa bergeming bingung karena Agam baru saja menolaknya secara langsung.
"Karena Sona kan?" Pertanyaan Elsa yang agak keras membuat kedua telinga gadis berambut panjang itu menghentikan langkahnya.
Ya, Sona datang di waktu yang pastinya tidak tepat. Mulutnya menganga kaget melihat Agam dan Elsa terlihat bersama.
"Elsa? Agam?"
Sona segera bersembunyi di balik pohon berusaha mendengar apapun yang mereka bicarakan saat itu. Sona beberapa kali melihat arlojinya, ia terlihat begitu cemas.
"Karena lo suka Sona, maka dari itu lo gak punya perasaan apapun sama gue. Tapi, apa lo gak liat kalau Sona, temen lo sendiri mengabaikan lo dengan percuma Gam!"
Sona melotot mendengar perkataan Elsa. Matanya mulai berkaca, rasa kesenduan mulai menghampiri dirinya. Ucapan Elsa yang memang benar mampu membuat hati Sona begitu teriris.
"Emang apa salahnya gue jatuh cinta sama dia? Dan bahkan walaupun dia nolak gue berpuluh-puluh kali, gue gak akan pernah berhenti buat suka sama dia."
Mendengar jawaban Agam untuk Elsa, Sona mulai menangis. Ia menutup mulutnya dengan rapat untuk menahan itu semua.
"Gak bisa! Kenapa sih semuanya berpihak pada Sona? Bahkan lo yang terabaikan memilih untuk terus jadi benalu buat dia?" Nada Elsa mulai meninggi.
"ELSA CUKUP!"
Sona berusaha untuk keluar dan menghampiri mereka dengan tertunduk. Beberapa langkah mulai mendekat, Elsa melihat Sona lebih dulu. Dalam sekejap, Elsa mencium pipi Agam dengan paksa membuat Sona melotot kaget dan menghentikan langkahnya. Agam mendorong keras Elsa untuk menjauh, wajahnya mulai emosi tingkat tinggi.
"ELSA! LO UDAH GILA?!" Agam melotot memarahi Elsa. Lantas ia melebarkan matanya kagetsaat menoleh pada arah Sona berdiri dengan menatapnya bingung. Wajah Sona menjadi pucat saat itu.
"Son?" Agam hendak melangkah menghampiri, namun Sona menghentikannya.
"Stop. Stop Gam. Jangan bergerak." Suara Sona mulai bergetar membuat Agam malah berkaca-kaca.
"Son yang lo liat tadi, itu salah paham." Agam berusaha menjelaskan.
"Salah paham?" Elsa mulai ikut serta.
"Salah paham apa maksud lo Gam? Gue denger Sona belum jawab apapun perihal perasaan lo. Dan, kenapa lo pede banget kalau Sona ngerasa cemburu? Lo bukan milik dia." Elsa bicara dengan santainya.
"Anj----- Sial. Lebih baik lo pergi. Gue gak pernah suka sama lo dan jangan lakuin hal gila lagi sama gue. Jangan bikin diri lo rendah Elsa."
"Cukup. Kayaknya gue ... gue ganggu waktu kalian. Sebaiknya gue pergi."
"Tunggu. Lo bilang lo mau ngomong sesuatu sama gue?"
"Gue rasa itu gak terlalu penting sekarang. Gue harus pergi."
Sona berlari pergi. Agam hendak pergi mengejar, namun sesuatu terinjak oleh sepatunya. Sebuah kertas yang ia sempat lihat terjatuh dari kantung tas selempang Sona, lantas diambilnya. Dibuka oleh Agam, ternyata terdapat sebuah tulisan yang membuatnya seketika melotot sendu.
"Em. Mulai dari mana ya gue. Em ah gue canggung. Emm Gam? Akhir-akhir ini, jujur aja setelah lo ungkapin perasaan lo, gue bahkan gak bisa tidur semalaman. Terkadang, gue takut banget. Gue takut jatuh cinta sama sahabat gue karena lo terlalu baik. Dulu, gue sempet berkeinginan punya pacar kayak lo, bisa diandelin hehe. Bisa support apapun yang gue lakuin, lo punya jiwa pelindung. Dan sekarang gue rasa itu terbukti. Ketakutan gue pun akhirnya menjadi. Bahwa saat ini gue jatuh cinta sama sahabat gue sendiri. Dan orangnya itu adalah lo Gam. Maafin, bukan gue mengabaikan, tapi gue butuh waktu menganalisis perasaan gue yang emang labil. Bodoh ya gue. Tapi, gue gak bisa punya banyak waktu untuk melakukan segala hal buat lo."
Tulisan Sona membuat Agam berkaca. Ia menjatuhkan beberapa butir air mata di kertas itu. Lembar kertas kedua Agam buka. Terdapat sambungan tulisan dari lembar pertama.
"Gue mau pergi Gam. Mama nyuruh gue ke Finlandia untuk kuliah dan tinggal sama Om Tante gue. Gue dilema banget harus milih lo atau pergi. Hati gue berkata pasti gue akan pilih lo, tapi satu sisi kaki gue berkata untuk terus melangkah demi kebahagiaan Mama. Entah suatu saat nanti gue pergi atau nggak. Lo boleh yakin satu hal bahwa, gue Sona, milik lo seutuhnya dan gue jatuh cinta sama lo bahkan ketika lo menjadi sahabat gue. Jangan buat diri lo lemah ya Gam. Jaga diri baik-baik. I love u Agam."
Agam melotot dengan air mata. Tangannya gemetar mengutak-atik ponselnya menelpon Sona. Namun semua itu nihil, nomornya terdengar tidak aktif membuat kecemasan Agam semakin menjadi.
"GUA BENCI LO, ELSA!" Agam berlari pergi meninggalkan Elsa yang tertegun. Sebenarnya Elsa sudah tahu bahwa Agam dan Sona akan bertemu. Ia mendengar saat di taman waktu Sona dan Agam pergi untuk jalan-jalan berdua. Rasa iri dan kedengkian Elsa pun muncul ketika memang pada nyatanya ia mulai menyukai Agam. Seluruh dunia ia pikir hanyalah berpihak pada Sona, sungguh semua itu membuat Elsa begitu dengki dengan gadis bernama Sona sejak menginjak bangku SMA.
VOMENT AYO GESSS.
Note : Teruntuk silent reader. Kami memang menyajikan cerita untuk kalian. Apa salahnya kalian mengapresiasi karya seseorang?
Tekan bintang di kiri bawah.
I WUV U
KAMU SEDANG MEMBACA
SONA
Teen FictionCinta atau persahabatan? Mana yang akan kau pilih? Sona, Agam dan Manu. Ketiga anak SMA itu telah bersahabat sejak lama. Bahkan persahabatan mereka sudah diartikan layaknya keluarga. Namun, persahabatan yang mereka jalin dengan baik malah terpecah b...
