Playlist : iKON - AIRPLANE
Agam sampai di rumah kontrakan Sona dengan terengah karena berlari. Di sana sudah ada Manu dan Tiara memasang wajah kecemasan.
"Di mana Sona? Tante, di mana Sona? Sona ada di dalam kan?"
"Gam tenang Gam. Kami berdua pun gak tau kalau Sona mau pergi," tukas Manu.
"Tante kira kalian sudah dikasih tau sama Sona. Sona akan ke Finland dan akan belajar di sana. Tante baru aja dari Bandara nganter dia. Tante pulang karena emang gak kuat melepas Sona untuk pergi dari tante. Ini sulit buat tante, tapi Sona harus memiliki impian." Bu Sima seketika menangis.
Agam ikut mengeluarkan air matanya. Manu menghampiri dengan cemas karena wajah Agam sungguh menahan banyak sendu yang ingin ia ketahui. Agam menyodorkan surat dari Sona pada Manu. Manu melotot kaget sambil membacanya.
"Tante? Kapan Sona akan take off?"
"Sore ini. Tante rasa, 20 menit lagi pesawatnya akan lepas landas."
Ucapan Bu Sima mengagetkan semua orang. Agam yang sudah berkeringat lantas berlari menuju Bandara sebisa yang ia lakukan.
"Gam!" Teriakan Manu pun tak diindahkan.
"Ada apa sama nak Agam?" tanya Bu Sima pada Tiara.
"Sona adalah orang yang Agam sukain tante dan Sona pun sebaliknya."
"Hah? Ya ampun." Bu Sima menutup mulutnya kaget bersambung cemas.
"Tante berharap Agam akan ketemu Sona. Waktunya tinggal 18 menit lagi."
Bagaimana cara Agam sampai di Bandara adalah berkat supir taksi yang hampir melanggar aturan lalu lintas dalam memakai kecepatan berkendaraan yang tidak normal. Supir taksi itu membantu Agam untuk cepat sampai di Bandara. Wajah Agam begitu cemas, ia terus melihat arlojinya dengan gemetar. Matanya memencar ke setiap sudut isi Bandara. Sementara Sona sudah masuk ke Boarding Room menunggu keberangkatannya. Agam pergi ke Terminal untuk mengecek jadwal penerbangan internasional.
"Sial! Lima menit lagi." Air matanya menggenang, ia menahan sesaknya dengan baik di khalayak umum.
Air mata mulai menggenang, dirinya mulai berlari untuk keluar Bandara. Ya, ia mulai menyaksikan pesawat Sona yang mulai lepas landas, melayang di atas kepalanya begitu jauh. Sungguh, begitu sakit rasanya. Agam terjatuh dengan lututnya. Matanya terfokus ke langit, keharuan mulai terjadi saat kakinya mulai lemah untuk menopang tubuhnya.
"Gue cinta sama lo Son," ucapnya pelan bersambung air mata yang mengalir seraya menatap pesawat yang ditumpangi Sona mulai menghiasi langit dan akan segera menjauh dari matanya.
Ia tertunduk dengan kedua lutut menyentuh dasar halaman Bandara. Ia menangis membuat beberapa orang asing meliriknya aneh. Manu dan Tiara kemudian datang.
"Gam." Wajah Manu begitu cemas, ia membantu Agam untuk berdiri. Sementara Tiara terus menangis. Merasa tak berguna dirinya bagi Sona. Sona selalu melakukan apapun dengan sesukanya tanpa memikirkan perasaan orang lain yang bahkan Sona itu adalah penting dari bagian hidupnya.
"Safe flight Son!" Tiara bergumam sendu.
Di rumah Agam, terlihat Agung saudara tirinya membawakan segelas air. Agam terlihat begitu tidak baik. Ia lemas, berkeringat dan kantung mata mulai menjamahi matanya.
"Tolong urus adik kamu," ucap Bu Nuri mengelus pundak Agung dengan cemas.
Bu Nuri sendiri terlihat sendu, tak tahan melihat puteranya terlihat memendam kesedihan yang begitu mendalam.
"Gam?" Manu mengantar Agam sampai ia terduduk di sampingnya. Agam belum bicara sedari tadi di Bandara sampai ke rumahnya.
"Gam?" tanya Agung mulai memegang pundak Agam yang masih terdiam. Matanya terfokus kosong ke bawah. Ia bersandar pada sofa dan mengepal tangan bersamaan dengan surat yang Sona berikan untuknya.
"Gue mau mandi." Tiba-tiba Agam melangkah meninggalkan mereka.
"Gimana ceritanya?" tanya Agung pada Manu.
"Tadi kan gue udah bilang bang."
"Pasti sakit banget rasanya."
Sementara di sisi lain, setelah melakukan penerbangan beberapa jam, Sona akhirnya sampai di Helsinki-Vantaa airport, Finland. Sona langsung dijemput dengan Om dan Tantenya.
"Om, tante." Sona memeluk mereka.
"Akhirnya, kamu mau tinggal beberapa tahun di sini."
Wajah Sona masih terlihat sendu.
"Gimana kabar kamu Sona?"
"Aku baik kok Tante. Tante Om, aku udah sampe di Finland. Om sama Tante akan janji bahwa kalau aku mau ikut Tante ke sini, Om sama Tante akan maafin Papa dan jalin hubungan baik sama keluarga aku kan?"
"Iya kami janji. Dan kami juga janji akan jaga kamu di sini. Liat kamu sukses di sini tentunya. Dan Tante janji gak akan buat Mama kamu sendirian. Karena, Mama kamu akan tinggal di rumah Tante di Bandung Timur sama saudaranya suami Tante juga di sana."
Mata Sona memencar ke setiap sudut apartemen tante Irish. Sungguh, ia butuh waktu sangat lama untuk bisa beradaptasi di Finland. Meninggalkan segalanya termasuk perasaan. Bukan Sona bersikap egois, tapi mungkin ini adalah pilihan terakhir yang memang harus ia jalani.
Di kamarnya, Sona mulai terduduk melepas lelah setelah melakukan perjalanan yang menghabiskan banyak waktu. Ia melamun, dan mulai tertunduk menangis. Ia mengingat semua tentang Bandung dan termasuk Agam.
"Gue cinta sama lo Gam. Tapi maaf gue bener-bener harus pergi. Suatu saat gue kembali, gue berharap lo akan nunggu gue. Tapi gue yakin itu nihil, lo pasti akan benci sama gue." Sona bergumam sendu.
Playlist : iKON - AIRPLANE
"Aku merelakan kepergianmu, karena aku tau setiap manusia punya impian. Walau sulit untuk menjauhkan perasaan yang sudah mendalam, aku hanya berharap, kau baik-baik saja."
Agam Prajasa.
VOMENT AYO GESSS.
Note : Teruntuk silent reader. Kami memang menyajikan cerita untuk kalian. Apa salahnya kalian mengapresiasi karya seseorang?
Tekan bintang di kiri bawah.
I WUV U
KAMU SEDANG MEMBACA
SONA
Novela JuvenilCinta atau persahabatan? Mana yang akan kau pilih? Sona, Agam dan Manu. Ketiga anak SMA itu telah bersahabat sejak lama. Bahkan persahabatan mereka sudah diartikan layaknya keluarga. Namun, persahabatan yang mereka jalin dengan baik malah terpecah b...
