Angin berhembus semakin kencang, para junior mereka di sekolah pun sudah pulang. Dan anak-anak calon alumni pun sepertinya juga sudah pulang.
"Udah pada sepi. Yah, gue ketinggalan. Lo mau pulang gak? Gue bisa nebeng?" Pertanyaan Sona membuat Agam terlihat gugup. Ingin menimpali perkataannya tapi Agam terlihat sungguh risih.
"Haruskah gue bilang sekarang?" Agam bergumam dan terdengar oleh Sona.
"Gam? Ada apa sama lo? Bilang apaan?"
Sona menatap Agam bingung, wajah Agam pun terlihat lebih memerah dari sebelumnya.
"Nggak kok. Kayaknya gue gak bisa nganter lo."
"Tumben banget. Oh gue tau, lo mau jemput cewek ya?" Sona bertanya dengan mata memencar, sedikit senyum ia simpulkan.
"Nggak. Pokoknya gue gak bisa nganter lo!" Suara Agam tiba-tiba meninggi membuat Sona kaget.
"Dih, kenapa ada apa sama suara lo? Kalau gak bisa ya udah, gue bisa pulang sendiri. Orang cuma nanya juga."
Sona kesal, melangkah meninggalkan Agam.
"Gue suka sama lo Son!"
Sona menghentikan langkahnya dengan kaget setelah mendengar ucapan Agam yang membuat jantungnya seketika mendatar lemah.
"Gue ... suka ... sama lo, Sona!" Nada Agam terdengar sedikit lebih berat menekan.
Dahi Sona mengerut heran. Matanya masih melebar kaget karena ucapan Agam yang tiba-tiba mampu membuat syok jantungnya. Sona tertegun kaku. Matanya yang melebar perlahan mendatar dan mulai memunculkan sedikit genangan air di matanya. Ia perlahan menoleh menatap Agam yang tertinggal di belakangnya beberapa langkah.
"Gue berubah karena seseorang. Dan orang itu adalah lo!"
Sona masih terdiam, mengedip pun rasanya sungguh berat bagi matanya. Ia tak tahu harus bagaimana saat itu. Tangannya pun sudah gemetar kebingungan.
"Se ... sejak kapan?" Sona bertanya dengan mata berkacanya. Nadanya pun sedikit gemetar.
"Entah. Tapi ketika lo mulai pacaran sama Elang, gue mulai gak bisa kehilangan lo."
Sona masih terkaget tentang perkataan Agam. Ia tertunduk tanpa menatap Sona yang jauh beberapa langkah darinya.
"Ke ... kenapa lo kayak gini?"
"Gue gak tau! Gue gak mau kehilangan lo. Gue cemburu setiap kali lo deket sama cowok. Gue ngerasa gila setelah lo jalin hubungan sama Elang."
"Kenapa lo gak pernah jujur sama gue?"
"Gue jujur pun apa lo mau denger? Apa lo akan percaya? Nggak kan? Gue tersiksa banget ngerasain perasaan ini Son. Gue suka sama lo, dan gue bingung karena apa."
Agam mulai berkaca, ia menatap pekat Sona dari kejauhan.
"Gak boleh!"
Tanggapan Sona membuat Agam melotot kaget.
"Lo sahabat gue. Lo gak boleh suka sama gue Gam! Jangan sampe apa yang lo rasa akan hancurin hubungan persahabatan kita Gam. Gue mohon jangan!"
Sona mulai menangis datar. Ia masih menatap Agam tajam dengan air mata menetes perlahan. Agam melangkah pelan menuju Sona. Sekarang, ia sudah berdiri di hadapan agak dekat Sona.
"Gue jatuh cinta sama lo Sona. Apa salahnya dengan itu?"
"Karena lo sahabat gue! Lo gak boleh suka sama gue. Jangan buat gue benci sama lo Gam. Semua itu karena kedekatan kita. Jangan sampe lo gak bisa bedain rasa suka sama terbiasa. Kita udah bersama di waktu yang lama, perasaan lo mungkin cuma suka karena kita udah lama bersama."
"Gue punya hati Son. Gue laki-laki, gue tau gimana rasanya mencintai seseorang, bahkan dengan tulus seperti yang gue lakuin saat ini dan gue rasain saat ini ke lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
SONA
Genç KurguCinta atau persahabatan? Mana yang akan kau pilih? Sona, Agam dan Manu. Ketiga anak SMA itu telah bersahabat sejak lama. Bahkan persahabatan mereka sudah diartikan layaknya keluarga. Namun, persahabatan yang mereka jalin dengan baik malah terpecah b...
