12. Awal yang Buruk

376 31 0
                                        

Akhir-akhir ini hubungan persahabatan mereka tidak jelas setelah Sona memiliki seorang pacar, ia tak banyak waktu untuk berkumpul bersama. Manu dan Agam, mereka tidak akur karena selalu berbeda pendapat perihal Sona, alhasil hubungan mereka pun sedikit merenggang.

Di sekolah, Elang terlihat sedang mengerjakan tugas bersama Sona. Elsa datang tiba-tiba ke kelas mereka dan melabrak Sona. Gebrakan meja yang begitu keras membuat seisi kelas terkejut.

"Apa-apaan lo Sa?" Teriak salah satu siswa.

"Gue perlu bicara sama lo!" Elsa menarik Sona paksa keluar kelas, membuat Sona harus mengikuti langkahnya yang begitu cepat.

"Apaan sih lo?" Sona terlihat kesal.

"Ngapain lo deket-deket sama Elang?"

"Kenapa? Gue mau deket siapapun bukan urusan lo!"

"Elang lebih mengenal gue dari pada lo sebelumnya"

"Terus apa hubungannya sama gue hah?" Sona brutal.

"Sona pacar gue!" Elang datang merangkul Sona yang jauh lebih pendek darinya.

"Apa?"

"Iya, gue sama Sona resmi pacaran. Kalau lo gak percaya, tanya aja sama siswa di seluruh sekolah Mandala."

"Elang, lo udah gak waras? Dia ini aneh, mainnya aja sama cowok."

"Apa salahnya kalau gue cinta? Jangan bentak-bentak pacar gue di depan umum, lo bakalan berurusan sama gue." Elang membawa pergi Sona dari hadapan Elsa yang tertegun kaget.

"Gilak, apa yang ada dipikiran si Elang coba?"

Tepat pada jam istirahat, Agam terlihat sedang meminum teh hangat di warung bu Fitri, itu salah satu warung kopi langganan Agam, Manu maupun Sona jika sudah jam-jamnya istirahat tiba. Namun kali ini Agam terlihat sendiri, ia melamun datar seraya terus memainkan gelas kopinya.

"Den Agam, kunaon atuh ngalamun waè dari tadi?" tanya Bu Fitri.

"Henteu bu, keur santuy wèh, biasa."

Wajahnya terlihat begitu santai tapi sebaliknya ia seperti banyak memikirkan sesuatu akhir-akhir ini. Sodoran sebuah buku terlintas di meja tempat ia duduk.

"Kalau sampe Pak Hakim ngeliat tuh buku, lo bakalan di black list." Manu datang dengan santai membuat Agam terkejut, memang mereka terlihat jarang sekali bersama setelah perdebatan itu.

"Ngapain lo ke sini?"

"Gam, gua mau minta maaf." Ucapan Manu membuat Agam terlihat canggung dari biasanya.

"Ngapa lo? Jangan bikin gua jijik."

Bel pulang berbunyi, terlihat Sona yang berdiri di depan kelas, sepertinya ia sedang menunggu seseorang.

"Nunggu Elang?" Sindiran halus Manu membuat Sona tertunduk canggung.

Agam hanya memperhatikannya datar. Ia menatap betis berlapiskan kaus kaki putih yang sedari tadi bergerak tak tentu arah. Sona menggoyang-goyangkan kakinya beberapa kali, matanya melihat sudut ke arah kantin belakang mengharapkan janji Elang untuk pulang bersamanya.

"Udah lah Son, balik bareng kita aja. Lagipula Elang gak bakal cemburu, iya kan Gam?" Manu menaikkan kedua alisnya menatap Agam.

"Agam, Manu, gak apa-apa kok. Gue udah janji balik sama Elang, kalian duluan aja gak apa-apa."

"Lo yakin? Sekolah udah sepi loh." Bujukan Manu yang sedikit menyudutkan niat Sona tak mempan.

"Kalau gitu, gue sama Manu duluan. Hati-hati, selalu ingat pesan Mama lo," ucap Agam lantas menanggalkan jejaknya meninggalkan Sona yang serius berdiri.

SONATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang