Pagi hari yang begitu mendung layaknya suasana hati Sona saat itu. Ia berusaha tegar setelah putus dari Elang yang memang tak pantas untuk dicintai. Ia bersikap kuat demi Bu Sima yang saat ini hanya beliau yang Sona miliki.
"Ayo nak. Kita harus pergi dari sini." Ucapan sendu Bu Sima mencirikan tak relanya setelah membawa koper besar keluar rumah. Ia menatap rumah besarnya sejenak, juga menatap puterinya yang memang akhir-akhir ini berwajah pucat.
Suara dua motor terdengar berhenti di depan rumahnya. Ya, Agam dan Manu datang untuk Sona.
"Agam, Manu. Kalian ngapain?"
"Kalian mau ke mana?" tanya Agam cemas.
"Rumah kami disita oleh bank. Perusahaan punya banyak hutang yang memang harus dibayar. Alhasil kita harus keluar dari aset satu-satunya Papa Sona," ucap Bu Sima.
"Tapi, kalian mau ke mana?" Manu khawatir.
"Kami mau cari kontrakan, mulai semua dari awal."
"Gue tau, seburuk apapun Papa gue, dia tetap Papa gue yang selama ini bimbing gue sampe saat ini. Gue gak akan benci dia."
Agam maupun Manu mengambil koper besar dari tangan Bu Sima juga Sona.
"Ikut kami, kita cari rumah kontrakan sama-sama." Ucapan Agam membuat Bu Sima lagi-lagi menjatuhkan air matanya.
"Maafin Mama Sona. Mama udah salah terka kamu bermain sama mereka. Mereka ternyata orang yang paling baik dari apapun."
"Tante jangan melebihkan, lebih baik tante sekarang naik motor sama saya, biar Sona sama Agam," ucap Manu.
Terlihat rumah sederhana, luasnya seperti garasi rumah Sona sebelumnya. Ini adalah hal pahit yang memang harus mereka alami untuk bisa bertahan hidup. Tapi tak lebih dari itu, Sona bisa beradaptasi dengan baik karena ia di didik dengan baik oleh Bu Sima selama ini untuk tidak memiliki sifat congkak atau glamour yang biasa orang miliki ketika mereka merasa berada di atas langit.
"Mama punya tabungan, Mama mau coba bisnis online, apapun bentuknya asalkan halal."
"Maafin Sona Ma, Sona cuma bisa repotin."
"Nggak, kamu tetap harus sekolah. Kamu udah kelas 12, sekolah kamu harus tuntas nak."
Sona memeluk Mamanya dengan hangat.
"Semoga kalian nyaman."
"Terima kasih Agam, Manu. Kami akan selalu berhutang budi pada kalian."
"Nggak! Membantu orang itu ada baiknya tanpa pamrih apapun." Agam terlihat bijak.
Di sekolah, banyak perubahan terlihat pada diri Sona. Ia sekarang pergi sekolah naik angkutan umum, tanpa mengharapkan jemputan supir Papa-nya lagi. Pak Ari sendiri saat ini pulang kampung. Sudah lama sekali supir pribadi Sona itu tak mengunjungi anak dan istrinya di Surabaya. Walaupun begitu, Pak Ari selalu berkabar dengan keluarga Pak Aryan.
Sona sekarang terlihat lebih lesu. Ia membantu Mamanya menyiapkan pesanan online dan terkadang hingga larut malam. Harusnya, ia belajar dengan keras karena sudah menginjak kelas 12 SMA yang pasti akan menghadapi ujian nasional. Belum lagi hubungannya dengan Elang kandas karena kebodohannya menerima Elang dengan secepat kilat.
"Kalau gue tau nasib gue kayak gini, gue gak akan mau mengenal siapa itu Elang." Sona curhat pada Tiara.
Sekarang, Tiara lah orang yang selalu siap untuk mendengar curhatnya.
"Lo gak malu, main sama anak koruptor kayak gue?"
Tiara menghela napasnya heran.
"Son! Kalau lo ngomong begitu, artinya tuduhan buruk itu benar adanya. Sementara, semua hal ini bukan kita yang mau. Gue udah bilang, gue gak milih-milih temen. Gue deket sama lo karena gue mau berteman bukan karena Manu ataupun harta yang lo punya." Ucapan Tiara membuat Sona berkaca-kaca.
Pulang sekolah tiba, Sona kali ini merasa kebingungan. Ia biasa blak-blakan bersama Agam dan Manu, namun kali ini ia begitu canggung.
"Balik sama gue! Ayo!" Agam menghadang dengan motornya.
"Gak usah Gam. Gue mau nganterin paket ibu gue ke rumah Bu Nani." Sona menolak membuat Agam terheran.
"Son?"
"Gue pergi dulu."
Belum sempat Sona melangkah jauh, kerumunan siswa-siswi menghampirinya membawa sebuah balon berisi air.
"Lempar!"
Seluruh siswa menimpuki Sona dengan tiba-tiba menggunakan balon berisikan air kotor membuatnya melotot heran.
"Heh!"
"Anak koruptor gak usah sekolah!" Celetukan salah satu siswa membuatnya tak bisa melawan. Sona terus ditimpuki hingga basah. Kejadiannya di luar sekolah, dan ia tak bisa apa-apa. Hatinya sakit, tersinggung, namun yang ia bisa hanya berdiam diri.
"Woi, anjing lo semua ya! Pergi! Pergi kalian. Bodoh lo ngelakuin hal kayak gini!" Agam datang bersamaan dengan Manu.
"Mau gua laporin semuanya karena kasus bully? Mau lo semua di penjara? Bajingan! Pergi gak lo pada!" Bentakan Agam dan Manu mampu membuat mereka bubar.
Terdapat senyum sinis di balik kejadian itu. Ia tersenyum menang atas peristiwa yang melibatkan Sona.
"Mampus lo! Dasar anak koruptor! Mukanya banyak!" Gumaman Elsa begitu sinis ketika ia memperhatikan kejadian itu dari balik tiang listrik dekat sekolah. Ya, pasti dia adalah dalang dari semuanya.
Setelah kejadian itu, Sona belari pergi. Hal itu membuat Manu dan Agam melotot kaget. Mereka mengejarnya, namun Sona sudah terlebih dahulu menaiki sebuah angkot. Mereka menyusul angkot yang Sona tumpangi. Terlihat Sona turun di tepi danau yang begitu tenang airnya. Sona menangis mengeluarkan semua sesaknya. Agam dan Manu prihatin melihat Sona yang begitu tertekan akan hal yang ia dapat beberapa hari terakhir setelah kejadian itu.
"Anak koruptor macem gua, gak berhak punya teman, gak berhak buat sekolah, gak berhak buat dicintai. Semuanya lenyap gitu aja. Tuhan? Kenapa harus ujiannya seberat ini?" Sona menatap atap langit dengan mata berairnya.
Agam dan Manu menghampiri. Mereka perlahan memeluk Sona bersamaan. Sona menggenggam erat mereka. Isak tangis suara Sona diiringi pelukan Manu dan Agam, orang yang selalu mempercayainya disaat kapanpun. Tapi dirinya lah yang telah salah dalam membuat sebuah pilihan. Tangan Agam dan Manu selalu berusaha untuk menguatkannya seberat apapun rasa sakit yang ia rasa.
Voment 💚💚 Thx
KAMU SEDANG MEMBACA
SONA
Teen FictionCinta atau persahabatan? Mana yang akan kau pilih? Sona, Agam dan Manu. Ketiga anak SMA itu telah bersahabat sejak lama. Bahkan persahabatan mereka sudah diartikan layaknya keluarga. Namun, persahabatan yang mereka jalin dengan baik malah terpecah b...
