O9. testpack said..

1.8K 190 16
                                        

Dua minggu berlalu, bukannya makin baik hubungan Hyunjin dan Yura malah makin renggang. Mereka berdua sekarang ini sudah seperti orang yang tidak saling kenal satu sama lain.

Baik Yura maupun Hyunjin, tiap bertemu keduanya tidak lagi ada yang mau menyapa. Bahkan melempar tatap saja tidak. Sepertinya persahabatan yang mereka jalin sejak empat belas tahun lalu itu harus sirna karena kejadian dua minggu lalu.

Miris.

Sekarang ini Yura ada di kelasnya, sedang ada pelajaran Bahasa dengan pak Jaebum sebagai pengajar. Guru yang satu ini terkenal lumayan galak, jika ketahuan tidak mengikuti pelajaran beliau dengan baik maka hukuman lari tujuh belas kali di lapangan upacara akan menanti.

Biasanya Yura akan selalu fokus dalam pelajaran ini, tetapi entah kenapa sekarang tidak. Rasanya ada sesuatu yang sedang mengganggu perutnya sekarang ini.

Ia merasa.....mual?

"Psttt! Ra! Lo kenapa?" tanya Yeji yang duduk disamping Yura dengan nada berbisik ketika  menyadari perubahan raut wajah temannya itu.

"Perut gue gak enak, Ji..."

Dahi Yeji berkerut lalu spontan ia mengusap-ngusap punggung Yura.  Gatau, spontan aja Yeji kayak gitu. Siapa tau mau reda.

"Ke UKS aja ya? Muka lo pucet, jir.." cemas Yeji.

"Yeji! Yura! Itu kenapa kok ribut pas saya ngejelasin? Ngegibah ya?!" tegur pak Jaebum yang membuat Yeji terkejut kecil.

"Idih, jaman gini ngegibah? Gak penting amat pak. Ini temen saya pucat banget, lagi sakit. Malah dikata ngegibah!"

Pak Jaebum menghela pelan lalu berjalan menghampiri Yura ke banhkunya. Semua netra di kelas itu langsung tertuju ke arah bangku Yeji dan Yura. Menjadikan mereka berua pusat perhatian.

"Yura kalo sakit ke UKS aja ya. Kamu pucat banget. Biar Yeji anterin.." ucap pak Jaebum.

Yeji langsung ngancungin jempolnya. Kapan lagi dia bisa keluar kelas ngerilexin otak tanpa harus dimarah gurunya.

"S-saya sendiri aja ya pak. Permisi..!"

Dengan cepat Yura beranjak dari bangkunya lalu pergi keluar dari kelasnya, tanpa peduli sekitar menatapnya aneh.

Rasa mual yang tiba-tiba tumbuh sampai ke dadanya itu buat Yura ngerti keadaan dia sekarang. Kalau itu beneran, dia tentu gak mau ada orang yang tau. Apalagi Yeji, si cewek tukang gosip seantero sekolahan.

Yura pergi ke kamar mandi, berjalan ke arah washtafel dan memuntahkan unek-unek diperutnya itu. Bukan muntah berat, yang keluat cuma air dalam wujud kental. Itu pun cuma sedikit.

Perutnya serasa sedang diaduk-aduk. Tangan Yura yang bertumpu di cermin sampai bergetar. Rasanya tenaganya habis hanya karena memuntahkan air itu.

Setelah selesai, Yura membersihkan bibirnya dengan air lalu menatap pantulannya di cermin. Kakinya terasa lemas tetapi ia tetap menguatkan sieinya untuk berdiri. Seketika air mata terjun bebas dari matanya entah kenapa. Rasa takut melandanya. Ini cuma masuk angin kan?

"Ah shit! Kalo ini beneran gimana?!" umpatnya kesal sembari memijat pelipisnya yang tiba-tiba pusing. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya nanti.

Merasa perutnya masih dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Yura milih keluar dari kamar mandi dan pergi ke UKS. Siapa tau ini cuma masuk angin biasa. Dia gak mau berpikir kejauhan dan panik dulu gini.

Dibukanya pintu UKS oleh Yura, yang ia lihat disana hanyalah ranjang dan peralatan-peralatan UKS lainnya. Tidak ada orang, baik petugas UKS ataupun guru disana.

Mistake ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang